
🍂🍂🍂🍂🍂
"Awan!" panggil seorang wanita yang sepertinya tak asing bagi pria tampan tersebut.
Awan menoleh, hatinya mencelos saat melihat sosok wanita yang selama ini begitu kuatnya tak ingin ia temui.
"Lisya--" lirih Awan tanpa senyum di ujung bibirnya.
"Kamu disini?" tanya Lisya antusias.
Awan hanya mengangguk, lalu melempar pandangan karna tak nyaman dengan apa yang di lihatnya kini. Belahan baju bagian dada Lisya begitu rendah sampai dua bongkahan daging kenyal nya terlihat sangat menantang.
"Kamu juga, liburan?" tebak Awan.
"Iya, aku sedang menemani Tuan Liam. Mana istrimu?"
"Dia tak ikut, aku sendiri kesini"
Lisya mengangguk paham, lalu tersenyum kecil saat melihat apa yang ada di tangan mantan kekasihnya itu.
"Kamu lagi pilih apa? bisa ku bantu" tawar Lisya, lagi dan lagi mereka bertemu di toko khusus keperluan wanita.
__ADS_1
"Aku ingin belikan sesuatu untuk istriku, tapi aku bingung. Aku bahkan tak tahu warna kesukaannya" lirih Awan yang seakan menyesal telah banyak melewatkan hal-hal kecil yang ada di dalam diri Mentari.
"Jangan khawatir. Jika dia mencintaimu, apapun yang kamu berikan pasti di terimanya dengan senang hati. Karna yang dia lihat pasti dari ketulusanmu" ucap Lisya.
Hati awan mulai sedikit bergetar, wanita itu memang memiliki kepribadian lembut yang jarang sekali merajuk apalagi menuntut, disanalah dulu Awan dapat merasakan ketenangan.
Lisya begitu sibuk memilih dan memilah beberapa barang, mulai dari pakaian, tas hingga parfume.
"Apa kamu butuh ini juga?" tanya Lisya sambil terkekeh.
Awan yang melihat apa yang di perlihatkan padanya tentu langsung menggigit bibir bawahnya secara reflek untuk mengontrol rasa malu.
"Iya, biar cepet jadi Awan juniornya" sahut Lisya.
"Aku belum melakukannya" jawab Awan yang sebenarnya tak membuat Lisya kaget.
Ia kenal baik pria itu, Awan memang sangat menghormati wanita dengan cara tak pernah meminta hal di luar batas kecuali ia sedang marah atau kesal saat melihat tanda merah di tubuh Lisya. Itupun hanya sekedar gertakan karna untuk melakukannya tentu Awan tak berani.
"Kenapa? itu hak mu" ucap Lisya masih santai padahal sejak tadi hatinya bagai teriris menahan sakit dan cemburu yang sangat luar biasa.
Lisya masih teramat mencintai Awan, tapi semesta dan takdir tak mengizinkan mereka bersama ia tentu tak ingin egois dengan cara mempertahankan apa yang bukan untuknya.
__ADS_1
"Dia mau aku mencintainya lebih dulu, dan aku--"
"Dan kamu sudah melakukan hal itu, kan?" selak Lisya yang memotong ucapan Awan.
Awan langsung menoleh kearah Lisya yang tersenyum simpul padanya.
"Aku mencintainya?" tanya Awan.
"Ya, kamu mencintainya. Sangat mencintainya" tegas Lisya yang kini melangkah jauh lebih dekat ke hadapan Awan yang terlihat tak paham.
Lisya menangkup wajah pria itu dengan kedua tangannya yang lembut, matanya merah menahan tetesan air mata yang siap tumpah karna tak kuasa menerima kenyataan jika posisinya kini terganti dengan begitu cepat. Padahal waktu 4 tahun yang mereka lalui cukup manis dan indah meski harus kuat bertahan diantara restu yang tak kunjung mereka dapatkan.
"Lis, kamu kenapa?" tanya Awan karna wanita cantik dengan harum tubuh yang tak berubah itu tak kunjung bicara.
.
.
Kamu mencintainya, Awan!
Karena tak ada lagi aku di matamu, melainkan dia istrimu yang ada di sana.
__ADS_1