Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Rapat orang ganteng.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Dooooooor!!!!


Awan yang sudah kembali ke ibu kota terpaksa datang kerumah utama sepulang dari kantor, ia tak bersama dengan Mentari karna perasannya entah kenapa tak enak hati, apalagi saat bertemu musuh bebuyutan di belakang pintu.


"Apa sih!"


"Emang gak kaget?" tanya Samudera.


"Enggak, kan kak Gala udah bilang kalo bakal ada si Tutut Markentut di belakang pintu," jawab Awan asal padahal jelas itu tak benar.


Samudera yang kesal langsung berteriak dengan keras sambil menyeret si cucu laki-laki bungsu Rahardian itu ke ruang kerja sang Gajah.


Cek lek


Awan yang berada di ketiak Samudera sedikit kaget saat melihat keluarga besarnya ada di dalam sana sedang duduk dengan nyamannya.


"Pipih, aku kira udah pulang?" tanya Awan saat melihat Langit yang sedang berpangku tangan.


"Gak. Pipih di seret dulu nih sama si Buaya cengeng," oceh Langit yang kesal pada kakak iparnya yang kebetulan adik angkatnya juga.


"Memang ada apa? lagi bahas perusahaan?" tanya Awan yang langsung di duduk kan di tengah Samudera dan Gala.


"Ssssttt, diem!" ujar cucu lelaki kedua Rumah utama,-- Galaksy ArMikha Rahardian Wijaya.


Awan yang bingung hanya bisa mengedarkan pandangannya pada semua pria yang ada di ruangan tersebut.

__ADS_1


Ada Air yang tak henti cekikikan menggoda Abangnya, ada Langit yang wajahnya masam menahan kesal, ada Bumi yang tentunya begitu tenang duduk di sofa single, ada Samudera dan Gala yang mengapit nya sambil tersenyum penuh arti dan pastinya ada Reza Rahardian Wijaya yang siap melayangkan pertanyaan konyol pada cucu bungsunya tersebut.


"Appa gak lagi mau pecat aku 'kan?" tanya Awan yang benar-benar tak enak hati di kelilingi para pria yang berubah misterius tersebut.


"Enggak, mana mungkin Appa pecat cucu kesayangan Appa," sahut Reza dengan tangan melipat didada.


"Huaaaaaa... Appa sayang dede aja" rengek Samudera yang langsung pindah tempat duduk ke samping Gajahnya. Tentu ia akan Uring-uringan jika Reza sudah berkata seperti itu.


"Oh, iya! ada dede ya. Appa Lupa. Kirain dede lagi bajak sawah," rayu pria baya itu sambil mengusap wajah sedih cucu sulung kesayangannya. Ia lupa kalau jika ada si Tutut cucunya yang lain bagai iklan yang numpang lewat.


"Terus ini ada apa? jangan bikin Awan penasaran"


"Nah, justru kami yang PENASARAN!" timpal Air yang akhirnya buka suara.


"Jangan lah, Kak. Anak Abang itu," mohon Langit pada si sulung.


"Kenapa? pas dede di sidang aja, Abang paling heboh," sahut Air yang tak mau kalah seakan ada dendam kesumat dalam hatinya.


"Aku ngapain?" tanya Awan.


"Menurutmu, kamu habis ngapain?" Reza balik bertanya.


"Abis kerja, ini baru pulang," jawab Awan santai.


"Lalu apa kabar satu minggumu kemarin di Villa, Appa mau kepergianmu bersama Mentari membuahkan hasil. Cepat berikan Appa cicit selagi Appa masih ada," ujar Reza dengan sorot mata tepat pada Awan.


"Appa tenang aja, gampang itu sih bisa di atur," jawab Awan yang membuat semua mata pria di dalam ruangan sang Gajah membulat sempurna.

__ADS_1


"Nah, kan! ku bilang juga apa. Aku telepon Awan kalo tengah malem pasti ponselnya mati," ucap Gala yang langsung tertawa.


"Emang kamu ngapain tengah malem nelepon Awan? telepon orang apa telepon Pocong?" tanya Air.


"Hahaha, kan mau tes ombak, Uncle."


"Tuh, anak perawan mantan gubernur udah kamu jebol, Kak?" tanya Langit pada putra semata wayangnya.


"Wih, udah dong. Si Jalu aku udah aktif maju mundur cantik pokonya ampe teler," jawab Awan yang hampir membuat pipihnya tak sadarkan diri saking tak percaya.


"Enak?" tanya Air dan Samudera berbarengan, jika urusan ranjang, dua pria itu akan ada di garis paling depan.


"Enak lah, sedep-sedep ngeri"


"Kok, gitu? emang kenapa?" tanya Reza.


.


.


.


Takut kepeleset, Appa!



Basah teuing sih 🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


Coba si Jalunya dibungkus pake kanebo, biar nyerep pas kukurusukan 😂


Astaga.. ngomong apa aku tuh 😝😝


__ADS_2