
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Braaaak...
"Eh, dadet Dede" ucap Samudera yang membuka pintu ruangan sepupunya itu dengan keras tanpa mengetuknya lebih dulu.
Pria tampan hampir sempurna tersebut bagai buah simalakama, masuk tak enak keluar pun sudah terlanjur melihat.
"Kebiasaan!"
Mentari bangun dari atas pangkuan Awan yang mendengus kesal, terlihat jelas dari sorot matanya yang tajam kearah Samudera.
"Kenapa gak di kunci?
" Kenapa gak di ketuk dulu?" balas Awan tak mau kalah karna menurutnya Samudera lah yang salah.
Samudera yang tak tahu sama sekali ada Mentari di dalam akhirnya hanya melempar senyum perdamaian. Ia kasihan pada gadis itu yang wajahnya bak kepiting rebus.
Hot gosip nih buat Appa!
Awan membenarkan posisi duduknya, tak lupa ia juga berdehem berkali-kali untuk menormalkan jantung yang masih berdebar hebat. Belum lagi bagian intinya yang masih meronta karna bersentuhan langsung dengan yang halal namun belum berani ia sentuh.
Sam meminta beberapa berkas dari Awan, sebenarnya mereka sudah sepakat pagi ini untuk bertemu tapi sepertinya putra mahkota Biantara itu lupa karna rengekan Mentari yang memaksa untuk ikut.
Awan berkali-kali melirik kearah istrinya yang masih sibuk dengan ponsel di tangan. Pertemuannya kali ini memang sedikit menyita waktu karna banyak yang harus di rundingkan.
"Sayang, aku minta suruh supir buat anter kamu pulang ya" tawar Awan yang tak tega melihat Mentari.
"Hem, tapi kerumah utama ya" pintanya mulai bernegosiasi.
"Ya, terserah kamu. Nanti saat pulang ku jemput."
Mentari tersenyum senang, lalu berpamitan pada dua pria tampan tersebut.
Mentari keluar dari ruangan Awan diantar oleh sekertaris sang suami menuju lobby tempat dimana mobil sudah menunggunya.
.
.
.
Jam 4 sore di saat Mentari bermain dengah sang Ratu Rahardian ponselnya berdering nyaring, ada satu panggil dari Awan, suaminya.
"Hallo, By"
"Sayang, aku gak bisa jemput. Ada masalah mendadak di kantor jadi aku pulang malam, bagaimana?" jelas Awan yang seperti sedang tergesa-gesa.
"Kamu dimana?" tanya Mentari.
"Aku baru mau keluar, aku bener-bener gak bisa pulang cepet. Maaf ya, Sayang"
"Hem, baiklah. Kabari aku jika urusan mu selesai ya" pinta Mentari yang pasrah.
__ADS_1
"Pasti. Bagaimana kita makan makan malam di luar? Kita ketemu di Resto ku, nanti aku minta supir untuk antar kamu disana"
Mentari tersenyum lebar, ini adalah hal yang tak pernah ia duga sama sekali sebelumnya. Hatinya bagai di tumbuhi ribuan bunga beserta kupu-kupunya.
"Mau! aku mau, By" jawab Mentari cepat sambil mengangguk kan kepalanya.
"Ya sudah, aku pergi dulu ya. Dan--"
"Dan apa, By?"
"Aku akan mengatakan apa yang kamu inginkan tadi saat di kantor, tunggu aku ya, Sayang"
Panggilan telepon di akhiri dengan rasa bahagia luar biasa. Mentari sampai menciumi kedua pipi Embun yang gembil sampai gadis kecil itu kebingungan sendiri.
"Aslinya pengen peluk cimol, tapi gak ada. Jadi peluk Bul-Bul aja, ya"
****
Waktu yang ditentukan oleh keduanya pun tiba.
Cahaya sampai mengirim beberapa dress saat tahu anak menantunya akan melakukan makan malam bersama di Resto. Tentu ini adalah kabar baik untuk semua keluarga apalagi Tuan Besar Rahardian sudah tahu apa yang terjadi di ruangan cucunya tadi pagi hasil aduan akurat Tutut Marketut .
"Semoga ini awal yang baik untuk hubungan kalian. Tersenyum lah selalu" ucap Reza saat Mentari berpamitan.
"Tentu, Appa. Terima kasih atas semua do'a kalian semua".
" Hati-hati dijalan ya, Sayang" sambung Melisa yang kemudian mencium kening cucu mantu tersabarnya itu.
"Kita semua menyanyangimu, Mentari"
"Tari, di luar hujan lebat. Apa tak bisa nanti saja" timpal Biru yang kini semua sorot mata beralih kearah Mentari.
"Tak apa, Kak."
Mentari yang sudah terlalu senang tentu tak akan meninggalkan kesempatan ini. Bukan makan malamnya, tapi kata cinta yang ingin ia dengar dari mulut suaminya langsung.
Lain Mentari, lain juga dengan Awan. Tak hanya sang istri yang bersiap karna ia pun tampil berbeda malam ini setelah merapihkan diri.
"Akan ku jadikan malam ini, malam yang tak akan kamu lupakan seumur hidupmu, Sayang" ucap Awan saat sudah berada di mobil dan siap membelah jalan sekarang juga. Di banding dirinya, sang istri memang sudah berangkat lebih dulu dengan alasan hujan lebat dan takut macet.
Awan terus memutar setir mobilnya dengan pelan, jalan yang licin dan padatnya kendaraan yang lain membuatnya harus berkali-kali mendengus kesal.
Drrt... drrt... drrt..
Getaran ponsel di kursi samping membuat Awan menoleh.
"Kak Sam" gumamnya lalu menggeser icon hijau di layar benda pipih miliknya tersebut.
"Hallo, kak" sahut Awan.
"Datang kerumah sakit sekarang juga! Mentari kecelakaan" jelas Samudera yang bagai Petir di telinga Awan.
"Bohong"
__ADS_1
"Ini bukan waktunya bercanda, cepat!"
Awan yang mendadak lemas langsung memutar mobilnya ke arah rumah sakit, bahkan ponselnya saja jatuh seketika keatas pangkuannya.
Mobil yang seolah berjalan lambat membuat nya frustasi sendiri. Tapi bersyukurlah ia sampai juga di bangunan mewah yang terkenal memiliki fasilitas terbaik di bidang kesehatan itu.
Ia tak perlu bertanya pada siapapun, karna Awan tahu kemana keluarganya akan di tangani jika sedang darurat. Dan benar saja, sudah ada beberapa keluarganya yang sedang duduk di ruang tunggu dekat IGD.
"Mana istriku, Pih?" Tanya Awan pada Langit yang sedang menenangkan Mimihnya.
Ini lebih mencekam dari masuknya Mentari beberapa waktu lalu karna hanya air mata yang Awan lihat.
"Istri mu masih didalam, berdoalah" jawab Langit lirih penuh kesedihan.
"Kak, ada apa?" kini pertanyaan Awan lempar pada Samudera.
"Mentari menjadi salah satu korban kecelakaan beruntun karna pohon tumbang di jalan" jelas Samudera, ia bahkan tak memakai alas kaki saat datang kerumah sakit milik MiMoynya saking kagetnya.
#AsalPakeCelanaYa,Tut.
Awan yang tak menyangka hal buruk akan terjadi pada istrinya langsung tersungkur ke lantai, ia menangis sejadi-jadinya sampai harus di tenangkan oleh Sam juga Galau yang baru datang bersama Leo.
Semua menunggu sambil berdoa, rasa takut dan cemas terus menyelimuti semua hati keluarga besar.
"Permisi, siapa yang akan masuk lebih dulu ya?"
"Saya, Saya suaminya" sahut Awan yang bangun dengan cepat.
Awan di persilahkan masuk sebentar untuk melihat keadaan Mentari.
Kakinya bagai tak menapak saat melihat sosok wanita halalnya sangat menyedihkan. Begitu banyak alat terpasang di tubuh mungil Mentari yang biasanya ia peluk.
"Dokter, istri saya--?" tanya Awan terbata.
"Pasien mengalami benturan yang cukup keras di bagian kepala, lehernya pun cedera lumayan parah maka dari itu Nona muda kini mengalami koma. Tapi kami akan terus berusaha melakukan yang terbaik" jelas dokter yang tak dapat di percaya oleh Awan.
Pria tampan yang kacau lahir bathin tersebut mendekat kearah Mentari yang terbaring diatas ranjang khusus pasien.
"Sayang, kamu lagi bercanda kan?"
"Ayo bangun, bukan kah kita akan makan malam bersama"
"Tolong jangan lakukan ini padaku. Jika marah pukul aku, caci aku, benci aku tapi ku mohon jangan diam seperti ini, Aku... aku---"
.
.
.
.
Aku Mencintaimu...
__ADS_1