Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Harus dirayakan.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Manjat?!" pekik Awan tak percaya dengan tangan yang masih saling menggenggam.


"Iya, Papih pusing dan mual, katanya pengen kedondong. Kemarin Pak urip bilang pohon yang dibelakang udah berbuah," jelas Diana.


Semua orang yang ada diruang tengah tentu bingung, ini adalah kejadian langka yang terjadi pada Tuan besar Biantara. Jika ingin buah yang lain, mungkin masih dimaklumi tapi jika buah kedongdong rasa-rasanya sungguh tak masuk akal.


"Si Papih gak inget umur, apa?" kata Langit yang mendadak kesal, ia bangun dari duduk dan bergegas ke kamar utama.


Dan akhirnya tak hanya pria itu yang pergi, istri anak dan menantunya pun mengekor di belakanh Langit.


Cek lek


"Pih---"


Adam yang menoleh langsung mengernyit kan dahi saat melihat keluarganya datang dengan raut wajah khawatir.


"Ada apa?" tanya si mantan mafia soleh.


"Harusnya Abang yang tanya, Papih apa-apaan minta 13 biji kedondong?"


Adam malah terkekeh, ia turun dari ranjang lalu ikut berdiri, ia menepuk bahu putranya dengan senyum kecil.


"Papih sedang sangat mual, makan yang asam rasanya enak, Bang" Adam memberi alasan.


"Nanti yang ada asam lambung Papih naik, minum atau makan salad buah saja ya," rayu Langit yang tak ingin terjadi apa pun pada papih nya tersebut.


Adam menggeleng dan tetap pada pendiriannya, ia mulai bernegosiasi agar sang putra mau menurutinya kali ini. Buah yang tadinya ia minta pun di sepakati hanya tiga saja. Dan Adam pun setuju daripada tidak sama sekali.

__ADS_1


Lalu siapa yang manjat?


Semua mata tertuju pada si Tuan Muda Biantara, ia menelan salivanya saat Adam tersenyum dan memohon lewat tatapan matanya yang selalu teduh dan menenangkan tak kalah dari Appanya.


"Iya deh, iya"


Dari kamar utama, kini mereka menuju halaman belakang yang terdapat beberapa macam pohon termasuk buah-buahan.


"Memang kamu bisa manjat?" tanya Cahaya yang sepertinya ragu dan khawatir.


"Bisalah, manjat istri aja sukses!" sahut Awan yang kini berstatuskan calon Ayah.


Cubitan kecil namun panas langsung dilayangan kan Mentari pada Awan, malu sekali rasanya mendengar ia digoda tepat didepan semua mertuanya.


"Aish, sakit!"


Awan tak lagi membuang waktu mengingat hari semakin petang, Mentari yang sedang hamil muda harus sudah didalam sebelum langit gelap.


"Tiga! kan tadi janjinya cuma tiga, Pih!" Langit langsung memicingkan matanya pada pria baya tersebut.


"Buat besok pagi, Bang. Jadi Awan gak harus manjat lagi," sahut Adam sedikit merayu.


Langit tentu tak mengizinkan, jika perlu cukup satu buah saja yang dimakan Papihnya.


"Tadi apa yang kalian bicarakan?" tanya Diana yang sepertinya masih penasaran.


"Yang mana, Mih?" Cahaya balik malah bertanya.


"Diruang tengah tadi, sebelum Mamih datang"

__ADS_1


"Mentari hamil!" ucap Langit yang sontak membuat kedua orang tuanya kaget.


"Serius?" tanya Adam, pandangannya dari Langit ia alihkan pada cucu mantunya.


"Tari, kamu hamil, Nak?" tanya Diana yang mendekat lalu memeluk Mentari yang akhirnya mengangguk dalam dekapan Diana.


"Iya, Mih. Do'akan aku dan bayi ini ya," ucapnya yang terharu dengan tanggapan keluarga Biantara.


"Tentu, Sayang."


"Kita harus rayakan ini, Bang." sambung Adam.


"Rayain apa?" tanya Langit bingung.


.


.


.


Kita ngerujak berjama'ah, kamu yang ngulek sambel ya, Bang.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Nah, Abang ganteng kebagian goyang 🙈🙈


Semangat dikerjain orok ya 😅


Saya suka saya suka saya suka...

__ADS_1


#TawaJahatBarengGajah 🐘🐘🐘


__ADS_2