Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Gubrak


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Appa disini, hihihi" suara yang masih mereka ingat itu jelas sekali terdengar sampai ketiga pemuda tampan didalam kamar memutar pandangan mereka saling memeluk.


Dan...


"Appaaaaaaaaaaaa...."


Rain, Heaven dan Skala langsung terlonjak dan turun dari ranjang lalu berhambur untuk siapa dulu yang sampai ke sofa tempat dimana pria baya itu duduk merentangkan kedua tangan sambil tertawa senang.


"Hati-hati, Bum," kata Apaa Saat putra bungsu Tutut Markentut itu hampir saja jatuh.


"Bum, mau peluk Appa, Bum kangen Appa," rengeknya dengan kedua mata berkaca-kaca, ia tak percaya bisa dipeluk lagi oleh pria yang selama ini begitu ia rindukan.


"Heaven juga."


"Skala apa lagi," sambung cucu dari Bumi Rameza Rahardian Wijaya.


"Iya, Iya. Kalian sudah besar semua. Kenapa jadi pada nakal?" tanya Appa sambil tersenyum, ia usap tiga kepala cicitnya yang tampan tampan itu.


"Bum enggak, Heaven sama Skala tuh yang nakal. Bum baik loh," protesnya yang tak Terima saat disamakan dengan dua sepupunya yang lain.


"Cih, PeDe banget!" cibir Heaven.

__ADS_1


"Appa sedih kalau liat Heaven terus terluka, jangan sakiti dirimu terus ya," lirih Appa yang membuat pemuda urakan itu menunduk.


"Kadang kangen Jingga, Appa."


"Kalau kangen datangi, bicara baik baik kalau perlu nikahi sekalian," balas Appa.


Ketiganya pun tertegun, tak percaya dengan yang dikatakan pria baya yang kini sedang tertawa itu.


"Lo di suruh kawin noh, emang pipisnya udah lempeng?" tanya Skala dengan polosnya.


"Udahlah kalo dipegangin," sahut Heaven sedikit menarik urat, ia memang jarang sekali lembut saat bicara dengan Skala.


"Jangan lupa bekas pipisnya di lurusin biar gak bengkok," sambung Appa yang gemas dengan tingkah tiga cicitnya.


"Punya Bum lurus, tapi kadang suka kelipet sih," katanya yang sontak membuat yang lain menatap aneh pada pemuda imut tersebut.


"Kaya ketek dong." Skala tertawa terbahak-bahak sampai harus dipukul dengan bantal oleh Heaven yang duduk dikarpet karna sisi kanan dan kiri sudah ada kedua sepupunya.


"Enggak, mau liat?" tawar Rain yang sudah mau membuka resleting celananya.


Plaaak..


"Jangan, nanti emak-emak pada teriak." cegah Appa sambil memukul pelan tangan cicit kesayangannya karna memang selama ini mereka tinggal satu rumah.

__ADS_1


"Appa, Appa jangan pergi lagi ya. Skala udah mau otewe tobat," mohon Skala yang suda usel usel manja.


"Appa gak pernah kemana-mana, Appa selalu lihat kalian. Makanya jangan nakal nakal, Ok," pesan Appa yang dibalas anggukan kepala tanda paham meski tak janji.


"Ish, di bilang Bum gak nakal!"


"Iya, Heaven sama Skala yang nakal," rayu Appa agar Si penyuka kucing itu tak lagi merajuk.


Mereka terus saja mengobrol dan menceritakan banyak hal. Gelak tawa dan saling meledek terus ketiganya layangkan sampai membuat Appanya pusing sendiri karena jika sudah begini ia bingung harus membela yang mana. Semuanya begitu disayang olehnya sampai rasa rasanya saat-saat seperti ini enggan berlalu begitu saja.


"Pokonya jangan pergi lagi, Keh." pintar Rain yang seluruh wajahnya diciumi dengan lembut.


"Iya, Appa mau Skala iket ah biar gak kabur."


"Ketekin-ketekin sampe mabok," kata Heaven sambil tertawa. Dan....


.


.


.


.

__ADS_1


Gubraaaaak, yah... ternyata cuma MIMPI.


__ADS_2