Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Ciuman pertama.


__ADS_3

"Hem, kok aku mendadak pengen ceburin kamu ya?" ucap Mentari yang entah kenapa tiba-tiba kesal pada suaminya.


Tatapan mata gadis tersebut begitu geram seakan penuh dendam yang ingin ia lampiaskan. Akhir akhir ini Mentari memang sering bersikap seperti itu, bahkan mendadak di cubit dan di gigit adalah hal yang sudah biasa bagi awan, mau tak mau ia harus menikmatinya meski sakit luar biasa.


"Nanti kita berenang aja ya, Sayang. Kalau aku nyebur ke danau, emang kamu gak kasihan suamimu yang ganteng ini di cium ikan?" goda Awan mengalihkan pikiran Mentari yang nampak serius ingin melakukan apa yang tadi ia katakan.


"Gak apa-apa, bikin istri seneng itu pahala loh"


Awan pun hanya bisa membuang napas berat, ia lalu menarik tangan Mentari menuju salah satu kamar disana.


Cek lek..


"Ini kamar Mimih, kita pake ini aja ya," kata Awan yang mempersilahkan istrinya masuk lebih dulu.


"Ada berapa kamar disini?" tanya Mentari yang kagum dengan isinya, tak banyak barang tapi cukup nyaman dan tampak elegan.


"Ada empat, kamar Appa, Mimih, Uncle Air dan Uncle Bumi," jawab Awan yang duduk di tepi ranjang dengan sorot mata tak lepas pada si


Sang istri yang sedang membuka gorden pintu kaca.

__ADS_1


"Bagus banget, aku jadi inget Cimol, By!"


Ingin rasanya Awan memotong peliharan Mentari yang ada di kampung, apapun itu selalu saja di kaitkan dengan si hewan berkaki empat tersebut. Awan yang muak tentu tak ingin menimpali, kesal rasanya selalu mendengar nama Cimol terus menerus.


.


.


Mentari yang senang berada di villa tersebut terus saja berkeliling ke setiap ruangan yang katanya barang dan letaknya tak berubah meski berkali-kali melakukan renovasi, bangunan ini mirip dengan Rumah Utama yang abadi setiap isinya karna Reza dan Melisa tak ingin kenangan yang terjadi semasa si kembar remaja ikut berubah saat di ingat atau di ceritakan.


"Disini terakhir Mimih dan Pipih bersama, karna Appa langsung kirim Pipih untuk kuliah jauh. Mereka pisah selama kurang lebih 4 tahun sampe akhirnya baru bisa menikah dan punya aku dan Senja," kata Awan yang memeluk Mentari dari belakang saat mereka ada di bawah sebuah pohon dekat danau buatan.


"Aku bingung, apa aku harus mengingatnya atau tidak. Aku sudah bahagia, kamu tenang saja" Mentari memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan sang suami.


Keduanya saling menatap penuh kasih sayang sampai akhirnya Awan menuruti nalurinya sebagai laki-laki dewasa. Di tariknya pinggang Mentari agar lebih dekat dan mudah ia sentuh.


Wajah yang semakin dekat membuat nafas hangat mereka kian terasa, Mentari yang reflek menutup mata membuat pria yang sering mati-matian menahan hasratnya itu mulai berani mendaratkan bibirnya.


Bingung harus melakukan apa, Mentari hanya diam menikamati meski rasanya semua terasa tebal dan sakit saat Awan memintanya sedikit membuka mulut. Ciuman yang tadinya lembut dan pelan kini semakin menuntun dan panas karna berga irah.

__ADS_1


"By---" de sah Mentari yang bingung sendiri dengan tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Awan yang melanjutkan cumbuannya ke leher.


.


.


.


Basah....



Hampura ah, baru up ☺..


Abis 100harian sama mulud, dari kemaren perang sama panci 😂😂


InshaAllah nanti balik kaya biasa lagi ya 🙂

__ADS_1


__ADS_2