Mentari di balik Awan

Mentari di balik Awan
Bersyukur memiliki ku.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Hari demi hari di lewati Mentari dengan biasa, meski masih ada rasa penasaran yang mengganjal dalam hatinya. Tapi Awan selalu meyakinkan jika ia tak perlu banyak tahu tentang semua yang menyesakkan dadanya tersebut. Yang terpenting hari ini, esok dan lusa bagaimana caranya mereka terus mencoba bertahan dan saling mengasihi satu sama lain.


"Sayang, dasiku mana?" tanya Awan sedikit berteriak karna pagi ini ia akan berangkat lebih awal tiga puluh menit dari biasanya.


"Tunggu, aku ambilkan"


Mentari bergegas membuka lagi lemari baju dan menarik salah satu laci untuk mengambil dasi. Ia nampak berpikir sejenak untuk memantaskan nya dengan warna kemeja yang kini di kenakan suaminya.


"Ini aja, gimana?"


"Apa aja, kalau menurutmu cocok aku juga suka," jawab Awan sambil memberikan senyum terbaiknya.


Pria tinggi itupun kini bersiap untuk di pakaikan dasi, ia masih sangat bersyukur Mentari hanya melupakannya tapi tidak mengabaikannya. Apalagi semua kebutuhannya pun di layani dengan sangat baik kecuali urusan ranjang yang belum juga mereka lakukan.


#SorryYaLagiGakMood.


"Udah ganteng, sekarang tinggal sarapan ya"


"Ganteng dong, kan suaminya Mentari," goda Awan yang langsung membuat kedua pipi gadis itu merona karna malu.

__ADS_1


Keduanya keluar dari kamar dengan saling menggenggam tangan. Ruang makan masih nampak sepi karna ini memang belum waktunya seisi rumah menikmati sarapan pagi.


"Yakin cuma mau roti?" tanya Mentari memastikan ingin suaminya tersebut.


"Iya, belum begitu laper, Sayang"


Mentari pun mengangguk, ia mengambil sehelai roti gandum lalu di olesi selai kacang coklat kesukaan Awan, tak lupa segelas susu pun sudah terhidang diatas meja makan.


"Apa hari ini kamu sibuk?" tanya Mentari yang hanya menemani. Sama seperti sang suami, ia juga belum merasakan hawa lapar di perutnya.


"Entah, sepertinya jam 2 atau 3 aku sudah balik ke kantor. Ada pekerjaan sedikit lalu habis itu aku pulang," jawab Awan sambil mengunyah makanannya.


"Baiklah, aku akan menunggumu dirumah"


Awan paham yang di rasakan sang istri, tapi kecelakaan tempo hari yang sampai merenggut sebagian ingatan Mentari masih sedikit menyisakan trauma mendalam bagi Awan. Ia kini jauh lebih posesif bahkan tak pernah sekalipun mengizinkan gadis itu pergi tanpanya.


"Besok kita makan siang di luar ya, atau mau numpang makan dirumah utama?"


"Kalau kesana aku maunya akhir pekan, biar bisa ketemu Kak Sam," jawab Mentari menggoda, ia senang jika melihat raut wajah suaminya yang jengkel karna cemburu tak jelas pada si Tutut Markentut.


"Hey!!"

__ADS_1


Mentari tertawa, andai ia ingat dulu bagaimana ia mati-matian di buat cemburu tentu bisa saja ia kini dengan puasnya meledek Awan, suaminya itu.


Awan pun berpamitan karna sekarang sudah waktunya ia pergi ke kantor. Sudah ada setumpuk pekerjaan dan rentetan jadwal meeting yang harus ia hadiri hari ini.


.


.


Mentari yang masuk lagi kedalam rumah, memilih kembali ke kamarnya sampai menunggu yang lain berkumpul di meja makan.


Ia duduk di tepi ranjang dimana ia begitu nyaman berbaring disana sembari di peluk oleh sang suami.


"Aku mencintainya, dan aku bahagia namun hatiku seolah menyimpan luka. Ada apa dengan semua ini?" gumam Mentari yang bertanya pada dirinya sendiri.


Ia usap sprei putih kebiruan itu berharap ada satu saja kenangan yang terlintas di otaknya saat ini. Tapi, tangisan dan air mata yang terus terekam disana.


.


.


Hem, baiklah...

__ADS_1


Aku tak tahu harus bagaimana lagi, akan ku pastikan saja aku selalu ada untuk mu dalam keadaan apapun itu asal kamu bersyukur memilikiku!!


__ADS_2