
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Heaven pulang dengan perasaan kecewa karna Samudera menolak datang ke sekolahnya esok untuk menghadiri surat pemanggilan dari pak Darno, salah satu guru rasa musuh bagi Si putra pewaris Biantara.
Senakal apapun dia, ia tetap orang yang amanah jika ada pesan pasti akan ia sampaikan dengan baik, begitu pun dengan masalah sekolahnya meski harus mendengar papanya mengoceh dari sore hingga malam, bahkan tak jarang Heaven terlelap saat Awan memarahinya.
TRIIIING..
Pintu lift terbuka lebar yang artinya Heaven sudah sampai di lobby Perusahaan Rahardian Group. Gedung mewah pencakar langit nan gagah yang beberapa tahun mendatang akan jatuh pada Rainerly, sepupunya.
Entah ia akan memegang kuasa di Perusahaan Biantara atau Rahardian nyatanya sampai detik ini Heaven belum memikirkannya. Otaknya hanya penuh dengan hobbynya saja yaitu balap liar dan dunia malam lainnya.
Dan kini diatas kuda besi kesayangannya, ia masih nampak berpikir akan kemana arah tujuannya saat ini, malas rasanya jika harus pulang kerumah dengan membawa surat pemanggilan orangtua.
Kediaman Rahardian pun dipilih Heaven, karna itu satu-satunya harapan terakhirnya lewat jalur ninja.
Dengan kecepatan tinggi, ia melajukan motor besarnya itu ditengah jalan yang cukup ramai lancar tanpa rasa takut. Sudah biasanya bagi seorang Heaven menjadi penguasa jalanan.
.
.
"Siang, Onty Ara," sapa Heaven pada wanita bar-bar kesayangan baby koala.
"Aromanya bawa masalah nih," cetus Ara dengan tangan melipat didada.
"Haha, Kalo ngomong suka bener. Onty punya indera ke-enam ya?" tawa Heaven sampai menggema keseisi ruang tengah Kediaman Rahardian.
__ADS_1
"Kamu kan sama masalah kaya anak kembar," kekeh Ara sambil mencubit gemas pipi kanan Heaven.
"Astaga! apa iya ya?" tanyanya pura-pura terkejut padahal dalam hatinya ia cukup jengkel.
"Iyalah, makanya kembar dong, kata XyRa dan ArXy," jawab Ara dengan bangga namun dibalas cibiran oleh Heaven.
Panjang lebar berdebat dan melempar candaan akhirnya Heaven harus kembali kecewa saat orang yang di carinya itu ternyata tak ada, ia yang ingin bertemu dan minta tolong pada Gala harus membuang napas kasar saat tahu Unclenya sedang berada di luar kota sampai lusa.
"Mohon maaf, anda kurang beruntung," bisik Ara yang kemudian kabur dengan cepat.
"Ampun! dikira gue undian gosok," umpat nya semakin kesal.
Heaven pun langsung menoleh saat bahunya dirangkul secara tiba-tiba, sosok pria yang tak jauh berbeda usia dengannya.
"Kenapa?" tanya Skala, anak tunggal Aurora ArMikha Rahardian Wijaya.
"Nih, gue orang!" kata Skala menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuk.
"Ogah, gak butuh yang segede gitu, gue maunya yang tua!" jawab Heaven dengan ketus.
Skala tahu masalah apa yang sedang dialami sepupunya itu, karna sebelum Heaven ia dulu lah yang kenyang dalam semua bentuk kenakalan tapi ia sedikit lebih baik karna tak sampai setiap minggu ayah atau ibunya datang ke sekolah.
"Emang Ucle Awan gak ada?" tanya Skala.
"Papah ada, cuma males aja yang ada triple dapet siraman rohaninya," jawab Heaven.
"Ya udah, gak usah pake orangtua, ribet amat."
__ADS_1
"Terus kalo Si tua bangka itu nanya gimana?" tanya Heaven frustasi.
"Lo pura-pura kesurupan," kekeh Skala, ia bahkan sampai melempar bantal kearah Heaven.
"Gak mungkin bisa lah gue kesurupan," balasnya meyakinkan.
"Loh, emang kenapa? iman lo kuat banget ya?" Skala balik bertanya.
"Bukan!"
"Terus apa?" rasa penasaran membuat Skala kembali bertanya pada sepupunya tersebut
.
.
.
Kan sama-sama SETAN...
Ya Allah, angkat tangan ma bocah satu ini dah 🤣🤣🤣🤣..
Ternyata dia kembaran Si Ketan Ocong 😌
like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1