
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Lisya?!"
Mentari yang masih mendongakkan wajahnya mengangguk pelan, ia memang tak pernah menolak atau menghindari kontak fisik antara ia dan Awan karna semua terbukti bahwa memang mereka adalah pasangan halal.
"Siapa dia? apa aku mengenalnya?" tanya gadis cantik itu lagi yang kini terlihat sedikit lebih kurus. Wajahnya nampak tirus dengan bibir yang masih pucat.
"Kalian baru pertama kali bertemu, dan dia bukan siapa-siapa juga bagimu," jelas Awan dengan senyum kecil di ujung bibirnya.
Awan ingin menjaga perasaan sang istri, di kehidupan Mentari yang kedua ini tentu ia ingin semua berjalan jauh lebih baik. Di lupakan adalah hal paling menyakitkan yang pernah pria itu rasakan seumur hidupnya, karna dulu ia begitu bangga bisa di cintai Mentari tanpa syarat.
"Lalu kenapa aku selalu sakit jika namanya terlintas? apa aku pernah buat salah padanya?"
Awan menggelengkan kepala, ia bingung harus menjawab apa karna semua tak menguntungkan baginya. Jujur salah, bohong pun tentu semakin salah.
"Tak perlu di ingat jika sakit, kamu hanya harus fokus pada kesembuhanmu. Aku ingin kamu ingat aku lagi," ucap Awan penuh harap. Suami mana yang tak terluka jika hanya bisa memeluk raga tapi tidak dengan hatinya padahal jika mau menelisik ke belakang itu pula lah yang dulu di rasakan Mentari.
Awan yang pulang kerumah memang langsung memeluk sang Istri, menghadiahi wanita halalnya itu dengan ciuman berkali-kali tapi setelahnya nama si Mantan lah yang di sebut.
.
__ADS_1
.
.
Sampai di kediaman Biantara mereka di sambut hangat oleh keluarga yang sudah berkumpul menunggu di ruang tengah. Obrolan hangat dan candaan saling bersahutan membuat Mentari jauh lebih merasa nyaman di banding saat di rumah sakit.
"Mimih senang kamu pulang, semoga lekas sembuh ya, Sayang"
"Iya, Mih. Aku sudah jauh lebih baik. Kalian tak perlu khawatir," ungkap Mentari sambil menatap satu persatu semua yang sedang berkumpul. Tak semuanya di ingat oleh Mentari, tapi ia cukup senang karena sambutan tetap hangat padanya.
"Jika butuh sesuatu, jangan sungkan ya, Nak." pesan Diana, si Nyonya besar Biantara yang berbicara sambil tersenyum hingga terlihat lesung pipinya yang menambah kesan cantik elegan sang pawang Phyton.
"Benar kata Mamih, ingat tak ingat kamu harus merasa nyaman disini. Kami semua keluargamu yang sayang padamu, Tari" sambung Langit yang tentu akan melakukan semua yang terbaik untuk menantunya itu.
"Kamu harus istirahat, kita ke kamar ya," ajak Awan yang langsung di iyakan.
Pasangan suami istri itu pun langsung beranjak ke kamar yang berada di lantai dua, Awan yang tak melepas sama sekali tangannya langsung mempersilahkan Mentari masuk lebih dulu.
"Ini kamar kita, apa kamu ingat?" tanya Awan yang berjalan di belakang sang istri yang sepertinya sedikit antusias saat masuk.
"Aku tak ingat, tapi aku ingat ranjangnya," jawab Mentari saat ia membalikkan tubuh mungilnya.
__ADS_1
"Ada apa dengan ranjangnya? apa yang kamu ingat?" tanya Awan lagi sedikit menggoda.
Mentari menggeleng, ia menatap ranjang itu lama seolah sedang memaksa ingin tahu sesuatu dengan benda tersebut.
"Sayang, kamu kenapa." Awan yang panik sampai menangkup wajah Mentari yang terlihat muram dan sedih.
"Jangan di paksa, kamu tak perlu tahu apapun yang membuatmu terluka. Percayalah jika aku akan membahagiakanmu, Sayang."
Mentari menunduk, ia bingung dengan hatinya saat ini tapi ia juga sungguh di buat penasaran dengan masalalu pernikahannya.
.
.
.
Kenapa aku hanya ingat, bahwa aku sering menangis di sana?
\*\*\*\*\*
Duh.. karunya teuing ah..
__ADS_1
Slepet bae, gigit apanya kek gitu 😝😝😝🤣
#MulaiKan..