Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati

Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati
Harus Memilih


__ADS_3

Naura pun turun dari taksi online tepat di depan rumah nya, sudah satu bulan dirinya meninggalkan rumah nya. Naura membuka pintu gerbang rumah nya melangkah sambil menenteng satu kantong kresek berisi kue dan buah.


Saat hendak akan mengetuk pintu, pintu rumah pun terbuka nampak Yanti yang membuka pintu tersebut dan tersenyum pada Naura.


" Mba Naura." Sapa Yanti.


" Mamah ada? " Tanya Naura.


" Ibu ada di dalam sedang membuat pola." Jawab Yanti.


" Tumben buat nya di rumah, biasanya di ruko." Ucap Naura.


" Sekarang Ibu sepi jahitan setelah Mba Naura tak jadi menikah sama Mas Noval."


" Lah.. apa hubungan nya? Kok di kaitkan sama saya." Ucap Naura heran.


" Ibu bisa dapat proyek jahitan besar terkenal di kalangan pejabat itu dari Ibu Ayu, malah sekarang nggak tahu semua nya pada beralih tidak sama Ibu lagi."


" Pasti Tante Ayu melakukan sesuatu sampai seperti ini." Ucap Naura menuju ruang tengah dimana terlihat Mamah nya sedang membuat pola.


" Assalamualaikum Mah." Sapa Naura sambil meraih tangan Ibu Yuli.


" Walaikumsalam." Ucap Ibu Yuli ketus.


" Apa kabar Mah? Maaf Naura baru main." Ucap Naura.


" Buat apa kamu tanya kabar Mamah, kamu lihat Mamah sekarang."


" Maaf kan Naura Mah, ternyata keputusan Naura berdampak pada usaha Mamah."


" Kamu tahu, usaha Mamah tergeser oleh Lisa. Mamah heran kenapa wanita itu yang sekarang tempat tinggal nya jauh malah dia yang dapat orderan. Coba kalau kamu menurut apa kata Mamah, Mamah nggak seperti ini. Kamu tahu Mamah bisa sukses jalankan usaha ini berkat Tante Ayu dan Om Anas dan sebagai balasan nya kamu menikah sama Noval, bukan sama Rifki."


" Tapi Naura kan sudah menjadi istri Kak Rifki sekarang, masa Mamah masih seperti ini saja tidak ikhlas menerima."


" Jelas lah tidak ikhlas menerima, ada besan depan rumah saja nggak pernah menyapa."


" Mah, maaf kan Naura. Mungkin bagi Mamah Naura adalah anak durhaka. Maka Naura minta maaf sama Mamah, maaf kan kesalahan Naura."


" Mamah akan maaf kan kamu kalau kamu meninggalkan Rifki, pintu rumah ini selalu terbuka kapan saja untuk kamu tapi dengan satu syarat kamu bercerai dengan Rifki.


" Astaghfirullah Mah, nggak boleh Mamah berkata seperti itu. Meminta anak nya untuk bercerai, tidak ada orang tua yang ingin anak nya tak bahagia bahkan meminta meninggalkan pasangan nya, yang ada menginginkan kebahagiaan." Ucap Naura.


" Mamah seperti ini ingin kamu bahagia, yaitu dengan pilih an Mamah dia yang terbaik. Tak ada orang tua yang memberikan tak terbaik untuk anak nya."


" Maaf Mah permintaan Mamah saya tidak bisa memenuhinya." Ucap Naura.


" Baik kalau itu mau kamu, jangan pernah menginjakkan kaki kamu di rumah ini lagi paham..!!! "

__ADS_1


" Tapi Mah."


" Nggak ada tapi - tapi an, ini sudah bulat keputusan Mamah." Ucap Ibu Yuli dengan Melanjutkan kembali pekerjaan nya.


" Baik Mah kalau begitu Naura pamit." Ucap Naura sambil mencium punggung tangan Ibu Yuli.


" Assalamualaikum."


" Walaikumsalam."


Ibu Yuli berjalan menuju ke arah jendela dan menatap Naura yang kembali menaiki taksi online.


Ada rasa sedih dan rindu yang kini di rasakan pada Naura, Putri satu - satu nya.


" Maaf kan Mamah Naura, maafkan Mamah seperti ini. Karena Mamah hanya ingin kamu jauh dari orang - orang seperti mereka."


*******


Naura pun turun dari taksi dan terlihat Rifki bergegas untuk masuk kedalam mobil.


" Yank mau kemana? " Tanya Naura.


" Darah tinggi Papah kambuh, tadi jatuh di kamar mandi." Jawab Rifki yang sebelum datang Naura mendapatkan telepon dari Bunda nya.


" Yaudah Kak, Saya ikut." Ucap Naura.


*****


" Kenapa Ayah tidak di bawa ke rumah sakit? " Tanya Rifki.


" Ayah kamu nggak mau, tadi Dokter Roy sudah periksa keadaan Ayah kamu. Dan hanya karena darah tinggi nya kambuh." Jawab Ibu Astri.


" Bermalam lah di sini, apa kamu tidak rindu sama Ayah Bunda." Ucap Pak Ilham.


" Rifki akan bermalam disini."


Naura yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu kamar, dan saat hendak ingin masuk Putri, Ibu Luna dan Pak Rahmat pun datang langsung masuk kedalam kamar Pak Ilham, yang tanpa memperdulikan Naura.


" Mas Ilham bagaimana keadaan kamu? " Tanya Ibu Luna panik.


" Bagaimana Ilham? " Tanya Pak Rahmat.


" Tidak apa - apa hanya darah tinggi Saya kambuh." Jawab Pak Ilham.


" Kakak kapan datang? " Tanya Putri.


" Sejak tadi." Jawab Rifki yang langsung menoleh ke arah Naura.

__ADS_1


Rifki pun bangun dan berjalan ke arah Naura dan menggandeng tangan nya untuk ikut masuk.


" Yank, nggak apa - apa kan kita bermalam disini?" Tanya Rifki.


" Nggak apa - apa kak." Jawab Naura sambil tersenyum.


" Kamu kenapa nggak bermalam di rumah kamu saja Naura, kasihan Mamah kamu sendirian." Ucap Ibu Luna.


" Mamah sama Yanti Tante, tadi siang Saya habis bertemu sama Mamah." Ucap Naura.


" Ya sudah biarkan suami Saya istirahat, kita lanjut ngobrol di ruang tamu." Ucap Ibu Astri.


Semua pun duduk di ruang keluarga, saling berbincang tak kecuali Naura hanya diam dan menyimak.


" Kak, lebih baik tinggal lah disini. Kasihan Tante sama Om berdua." Ucap Putri.


" Benar loh Rifki, Ayah kamu takut seperti itu lagi. Bahaya loh kalau sampai stroke dia." Ucap Pak Rahmat.


" Kami sudah memiliki rumah, dan kami akan tetap tinggal disana." Ucap Rifki.


" Eh Naura, kamu sekarang kan sudah jadi bagian dari keluarga Ilham. Seharusnya kamu juga sadar diri dari mana kamu berasal dan ingat jangan sampai seperti Mamah kamu suka merebutin suami orang, jangan mentang - mentang mertua kamu nggak suka sama kamu, malah kamu Selingkuh." Ucap Ibu Astri.


" Bunda bicara apa sih."


" Insya Allah Saya tidak seperti itu Bund, sifat jelek Mamah Saya tidak akan menurun sama saya." Ucap Naura.


" Bagus itu." Ucap Ibu Astri.


" Saya sih nggak pernah menganggap dia ponakan." Ucap Ibu Luna.


" Stop...!!! Kalian semua kenapa sih menyudutkan istri Saya. Kalian terus menyudutkan Naura Saya pergi sekarang." Bentak Rifki.


" Kak, biarkan." Ucap Pelan Naura.


" Nggak Yank, mereka lama - lama keterlaluan." Ucap Rifki.


" Kita masuk kamar, lama - lama disini telinga bisa pecah gendang nya." Rifki menarik tangan Naura menuju masuk kedalam kamar Rifki.


" Lihat tuh Menantu kamu, di perlakukan seperti itu sama anak kamu lama - lama melunjak dia." Ucap Ibu Luna.


" Lihat saja nanti, mereka nggak akan lama seperti ini." Ucap Ibu Astri.


*****


" Kalau nggak nyaman malam ini kita pulang." Ucap Rifki.


" Besok pagi saja, Ayah kan minta kita menginap." Ucap Naura.

__ADS_1


" Maaf kan keluarga kakak."


" Nggak apa - apa kak, memang sejak dulu juga begitu."


__ADS_2