
" Nama nya juga pria Naura, kalau nggak berantem nggak keren." Ucap Aldi tersenyum.
" Tapi itu seperti nya sakit ya? " Tanya Naura.
" Lebih sakit lagi kalau melihat seorang wanita yang tersakiti." Jawab Aldi.
Terlihat Dani berjalan mendekati Naura dan Aldi, dan langsung merangkul pundak Naura.
" Masuk ke kantor, jangan bicara berdua seperti ini nggak pantas." Ucap Dani.
" Iya Bang, Saya pamit ke kantor. " Ucap Naura lantas menyebrang jalan menuju kantor nya.
" Sementara kamu jangan dekati Naura, mereka masih status suami istri. Saya berharap mereka tak jadi cerai. " Ucap Dani.
" Buat apa di pertahankan kalau orang ketiga ada di antara mereka. " Ucap Aldi.
" Bukan nya kamu juga orang ketiga sekarang? "
Aldi hanya diam, dan menatap Naura dari jauh yang sudah masuk ke dalam kantor nya.
*****
" Tolong berkas Ibu Naura di ganti." Ucap Pak Sarif.
" Berkas sudah Acc Pak, tinggal tanda tangan saja. " Ucap Pak Hasan pegawai BKPSDM.
" Siapa yang bawa? " Tanya Pak Sarif.
" Pak Noval." Jawab Pak Hasan.
" Konfirmasi lagi, ganti sama yang ini."
Pak Hasan menatap kaget saat melihat berkas usulan, dan dengan segera melaporkan berkas usulan tersebut.
" Katakan, hanya ada satu sanksi berlaku sama minta turun kan pangkat golongan nya. Saya nggak Mau tahu, usulan ini harus ACC." Ucap Pak Sarif.
" Lebih baik bapak bicara sendiri sama beliau, Bapak kan kenal. Tapi dari Badan Pengawas Daerah ingin sekali meminta Ibu Naura pindah kesana. Malah kepala nya langsung."
" Kalau masalah itu Saya apa boleh buat, yang penting ACC kan berkas yang Saya bawa." Ucap Pak Sarif.
" Baik Pak Berkas saya terima."
" Terima kasih. "
******
__ADS_1
" Eh.. kenapa sih harus ada masa - masa seperti ini kamu sama Kak Rifki? " Tanya Putri kesal.
" Masa apa Putri? Lagian hanya beberapa bulan lagian kamu juga nanti akan puas sendiri." Jawab Naura.
" Mau minta pisah saja kebanyakan lagu."
" Suka - suka Saya dong, lagian kamu panas ya? Ingat status kamu itu lebih kuat Saya."
" Tapi sebentar lagi status Saya akan naik." Ucap Putri.
" Selamat ya. " Ucap Naura mencibir.
******
" Mba Luna, ini maksud nya apa? Anak buah Almarhumah memberikan semua ini. Bukan nya ini bukan hak kami tapi hak anak nya." Ucap Nila sepupu Ibu Luna.
" Luna, kami malu menerima ini." Ucap Ikraar.
" Benar mba Luna, kami memang salah telah mengacuhkan Yuli bahkan anak nya. Kami tidak pantas." Ucap Elena.
Ketiga sepupu Ibu Luna meletakkan. sebuah Amplop berisi kan uang bernilai besar pada Ibu Luna.
" Yuli benar - benar mengembalikan harta Papah, kalau yang di kalian mungkin hasil lain yang ada sedikit suntikan dana dari Papah." Ucap Ibu Luna angkuh.
" Loh kenapa jadi Saya yang di salah kan, ya memang semestinya anak kandung lebih berhak dari pada menantu." Ucap Ibu Luna tetap angkuh.
*****
" Ini Kakak beli kan kamu susu hamil, vitamin dan kebutuhan lain nya. Serta ini ada uang yang kakak bagi dua sama Naura."
Putri pun menerima uang tersebut dan menghitungnya.
" Kak, sehari saja disini bisa kan? " Pinta Putri.
" Maaf nggak bisa, biar kan suami kamu bersama istri pertama. Kami mungkin tidak akan seperti ini lagi nanti, jadi kamu harus mengerti. Dan bukan nya ini yang di minta sama kamu, dan semuanya akan tercapai."
******
" Kak." Sapa Naura sambil mencium punggung tangan suami nya yang baru datang.
" Mau makan atau Mau langsung mandi? " Tanya Naura.
" Kakak ingin bicara sama kamu." Jawab Rifki.
Naura dan Rifki pun duduk berdampingan dan beberapa detik sama - sama diam.
__ADS_1
" Ini gaji kakak, seperti biasa Kakak bagi dua." Ucap Rifki.
" Terima kasih Kak."
" Kamu akan terima gaji dari kakak tinggal menghitung bulan dan kesana akan tetap kakak jamin untuk anak kita."
" Iya kak. "
Rifki mengusap perut Naura yang kini sudah mulai memasuki usia 7 bulan.
" Kita cek yuk, anak kita laki - laki atau perempuan." Ajak Rifki.
" Nggak kak, Saya ingin kejutan saja." Ucap Naura.
" Kenapa? Papah nya ingin tahu. "
" Nggak kak, Saya ingin kejutan saat dia lahir yang penting sehat dan kuat."
Rifki mengusap pelan wajah Naura, dan menatap kedua mata Naura yang terlihat bening.
" Apakah air mata sudah kering? dan apakah kamu setegar ini menghadapi detik - detik perpisahan? " Tanya Rifki.
" Ini sudah keputusan yang yakin, jadi Saya harus benar - benar kuat. Kita berpisah juga baik - baik dan awal kita jadian juga baik - baik." Jawab Naura.
" Tapi Kakak nggak Mau kamu mundur, kakak ingin tetap kamu ada disisi kakak sampai ajal menjemput. "
" Saya ingin seperti Mamah, tapi bukan seperti Mamah mengakhiri hidup nya. Saya ingin terlepas dari bayang - bayang rasa sakit hati Mamah yang mereka benci jatuh pada Saya. Mamah benar, Saya harus bahagia. Saya nggak kuat kak untuk tetap bertahan seperti ini."
Rifki memeluk tubuh Naura, memejamkan matanya menahan sesak.
" Ijin kan tubuh ini memeluk kamu, mungkin setelah selepas ini kita tak bisa lagi seperti ini. Apalagi di luar sana mungkin ada cinta yang sedang menanti, cinta yang mungkin akan membuat kamu bahagia. Kakak tahu kamu bisa tersenyum, bisa tertawa saat ini tapi tidak dengan kakak seakan senyum itu hilang dengan mendung mengelilingi kamu." Ucap Rifki.
" Kita sama - sama berdoa, agar kita bahagia selalu saat kita sudah jalan masing - masing. Kenangan kita sebelum berpisah, saat - saat indah sekarang akan jadi kenangan, Mari kita habiskan bersama masa - masa indah ini."
Rifki Melonggar kan peluk kan nya dan menatap ke arah Naura, dengan mata Rifki yang sudah berkaca - kaca.
" Suami kamu yang sekarang cengeng, saya menyesal untuk saat ini dan ke depan sudah memberikan kesempatan permata untuk pergi, Saya menyesal . Dan kenapa kamu yang harus mengalah. " Ucap Rifki.
*****
Naura dan Rifki habis kan waktu bersama, tak ada yang bisa untuk memisahkan mereka. Hanya Putri yang selalu menangis, karena Rifki selalu datang hanya sebentar begitu setiap hari.
" Jadi anak kita seperti ini karena mereka ingin bercerai? " Tanya Pak Ilham.
"Begitu lah Ayah, apa yang di katakan Putri tidak pernah salah." jawab Ibu Astri.
__ADS_1