Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati

Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati
Permata Hati


__ADS_3

" Kenapa cucu kita cacat Ayah. " Ucap Ibu Astri.


" Kamu salah makan apa Putri? Hingga kamu terkena tumor sampai anak kamu jadi cacat." Ucap Pak Ilham.


" Eh.. kalian jangan se enak nya saja menyalahkan anak Saya, anak Saya juga nggak mau punya anak cacat. Dan masalah penyakit kan memang nya Putri yang minta." Ucap Ibu Luna.


" Ini nih.. karma, kamu memaksakan untuk hamil anak Rifki." Ucap Ibu Astri.


" Astri, bukan nya kamu juga mendukung tindakan Putri untuk memisahkan Naura sama Heru. Jadi kamu jangan salah kan anak saya." Ucap Ibu Luna.


" Stop... kalian bisa diam nggak sih? Saya ini sakit, dan sekarang Saya tidak bisa punya anak lagi. Punya anak satu cacat, Saya juga nggak mau. Tapi mau menolak bagaimana, karena sudah terlanjur lahir. Lantas kenapa hidup nggak mati Saja." Ucap Putri.


" Astaghfirullah Putri...!!! " Bentak Rifki.


" Kamu kenapa bicara seperti itu? Bagaimana pun dia anak kita. Walau terlahir nggak normal dia belum tentu suatu saat nanti akan membanggakan orang tua nya. " Ucap Rifki.


" Kalau kakak mau urus silahkan, Saya nggak mau. " Ucap Putri.


" Baik Saya akan urus, Saya akan urus anak kita kalau kamu nggak ingin mengurusnya." Ucap Rifki.


" Kamu mau urus anak yang memiliki keterbatasan? " Ucap Ibu Astri.


" Benar Rifki, ini bakalan ekstra nak. " Ucap Pak Ilham.


" Kalian aneh, semuanya aneh. Kalian nggak punya hati. " Ucap Rifki.


****


Rifki memasuki kamar rawat Naura, di mana Ibu Lisa sedang menggendong anak Naura dan Rifki.


" Dia rewel nggak mah? " Tanya Rifki.


" Dia nggak rewel, dia mengerti kalau Mamah nya belum bisa gerak leluasa. " Jawab Ibu Lisa.


" Saya ingin gendong anak Saya. "


Ibu Lisa tersenyum dan memberikan bayi mungil tersebut dengan Pelan.


" Mamah tinggal dulu ya. " Ucap Ibu Lisa.


" Nak, maaf kan Papah. " Ucap Rifki sambil mencium Putri nya.


" Kamu harus kuat, seperti Mamah. Di saat kamu tak bisa lagi sama Papah kamu harus jadi wanita yang kuat. Jangan lemah, jangan menangisi seorang pria yang telah menyakiti hati kamu. Tapi semoga kamu tak merasakan rasa nya sakit hati seperti Mamah kamu. Mamah kamu sakit karena Papah." Ucap Rifki.


Naura terbangun dan melihat Rifki sedang menggendong dan sesekali mencium Putri nya.


" Anak kita belum di kasih nama." Ucap Naura dengan suara seraknya.


" Kamu mau kasih nama siapa? "


" Kakak saja yang kasih nama."

__ADS_1


" Ayda Daania Khanza, di panggil nya Ay." Ucap Rifki.


Naura tersenyum ke arah Rifki yang tengah menggendong Putri nya.


" Bagaimana anak Putri sama Abang? " Tanya Naura.


" Anak kami, cacat. " Jawab Rifki.


" Ya Allah kak, cacat bagaimana? "


" Nggak bisa mendengar dan pertumbuhan nya kurang. Dan kini Putri tidak ingin mengurusnya, semuanya pada nggak mau mengurus cucu mereka bahkan Ibu nya pun cuek. " Ucap Rifki.


" Ya Allah kasihan sekali, nama anak Kakak siapa? "


" Belum Kakak kasih nama. " Ucap Rifki.


*******


Rifki melihat Putra nya menangis, Putri pun tak ingin memberikan Asi bahkan susu formula khusus pun tak mau.


" Pak tolong di bujuk Ibu nya, kasih an si dede haus. " Ucap Salah satu perawat.


" Ibu nya tidak mau menyusui bahkan sufor pun tak mau jadi bagaimana? " Ucap Rifki.


" Jalan satu - satunya Pak, cari Donor ASI dan Ibu nya harus di paksa. Kalau seperti ini anak nya harus di kasih nutrisi lewat infus. " Ucap Dokter Anak.


******


" Nggak , kalau Saya bilang nggak ya nggak." Ucap Putri marah.


" Baik kalau kamu nggak mau berikan ASI dan kamu nggak mau mengurusi anak kita, jangan harap suami kamu akan pulang ke rumah." Ancam Rifki.


" Main ancam ya, sudah tahu istrinya sekarang sudah tak bisa lagi punya anak dan lebih memilih ke Naura."


" Iya Naura masih bisa memberikan Saya anak banyak, Naura masih bisa mengurus suami sedangkan kamu, Ibu macam apa kamu tak mau mengurus anak kita."


" Tukar anak kita kak, tukar anak kita dengan Naura. " Ucap Putri.


" Apa...!!!! " Ucap Rifki


" Tukar anak kita, Saya akan merawat anak Kakak bersama Naura, biar anak kita Naura yang rawat." Ucap Putri.


" Kamu jangan g*****a Putri, Saya sebagai Bapak nya juga tidak setuju. Jadi sikap kamu memang seperti ini, kamu itu memang benar - benar bukan manusia."


*****


Liliana dan Aldi menengok Naura di rumah sakit, terlihat Aldi tersenyum saat mencoba menggendong Ay.


Naura tersenyum saat melihat interaksi Ay dan Aldi.


" Bang, kamu sudah cocok jadi Bapak." Ucap Liliana.

__ADS_1


" Benar kah? " Ucap Aldi.


" Benar Bang makan nya segera lah menikah."


" Saya akan baru menikah, ketika wanita yang Saya cinta itu sudah membuka pintu nya lebar - lebar. " Ucap Aldi.


" Naura, kapan kamu pulang? " Tanya Aldi.


" Sore ini Bang. " Jawab Naura.


Rifki pun masuk dan melihat Aldi yang tengah menggendong Ay, tatapan Rifki terlihat tak suka terhadap Aldi yang menggendong Ay dan itu pun di sadari Naura.


" Sudah lama? " Ucap Rifki.


" Sudah setengah jam." Ucap Aldi.


" Kita siap - siap, Kakak sudah urus semua nya. "


" Kata nya sore? " Tanya Naura.


" Kita pulang sekarang. " Jawab Rifki.


******


" Kak , kenapa sih melihat Bang Aldi begitu? " Tanya Naura saat sudah berada di dalam mobil.


" kakak nggak suka saja, kamu juga masih istri siapa? Dan Kakak tahu Aldi suka sama kamu. " Jawab Rifki.


" Tapi Saya juga sadar diri kak, dan Saya juga paham itu.


" Bagus kalau paham."


****


Rifki menggendong Ay , memberikan ruang untuk Naura istirahat. Naura masih merasakan sakit luka operasi sehingga gerak masih di batasi.


Rifki terus menciumi Ay yang tertidur pulas, hingga Putri kecilnya menggeliat.


" Kak sudah dong jangan di ciumi terus, Ay nanti bangun nangis lagi." Ucap Naura.


" Kakak gemas lihat nya, malah nggak ingin kemana - mana. "


" Kakak boleh kapan saja kemari, karena kakak Papah nya walau nanti kita sudah berpisah. " Ucap Naura menunduk.


" Apa kamu masih tetap ingin bercerai? Lihat lah anak kita, dia sangat butuh sosok orang tua lengkap. Kakak akan ceraikan Putri, kakak akan kembali sama kamu. "


" Apakah Putra kakak juga bersama Putri tidak meng ingin kan orang tua yang utuh juga? Sama kak dia juga sama, ingin memiliki orang tua yang utuh. Saya capek hidup seperti ini, Saya sudah terlalu mencoba kuat."


" Kakak ingin ceraikan Putri, karena hanya sebatas tanggung jawab. Putri tak mau mengasuh anak kita karena memiliki kekurangan, bahkan dia bilang ingin menukar anak kita. "


" Hah... Putri bilang begitu? Ibu macam apa dia. "

__ADS_1


__ADS_2