
Putri pun telah pulang dari rumah sakit, tangis bayi nya tak diri nya hiraukan. Hingga membuat Rifki kesal.
" Put, anak kita nangis. Tolong lah kasih ASI untuk dia. " Ucap Rumah Rifki.
" Kasih ASI? Ogah Saya nggak mau. "
" Put, tidak ada seorang ibu yang membenci anak nya. Anak kita nggak salah, apa kamu nggak lihat tubuh nya kurus. Selama di rumah sakit melalui selang infus dan tak ada yang cocok susu nya. "
" Ribet amat, suruh siapa kek yang urus itu anak. "
" Astaghfirullah Putri...!!! Kamu sadar nggak sih, apa yang kamu lakukan hah... Saya nggak habis pikir kamu. "
Putri hanya diam dan terus memandang keluar jendela, dan tiba - tiba menangis.
Hiks.. hiks...hiks...
" Dari awal pernikahan kita nggak bahagia, hingga lahir anak kita. Kini Saya sudah nggak sempurna, dan kakak ancam Saya untuk pergi. Saya benci melihat anak itu karena pasti kakak akan lebih sayang pada anak dari Naura. "
Hiks... hiks...
" Saya nggak ada pikiran kesana, bagaimana pun bentuk anak Saya akan tetap Saya sayangi."
" Bisakah sedikit saja untuk belajar mencintai Saya? Bisakah sedikit saja untuk berikan perhatian pada Saya. " Ucap Putri
Rifki mendekati Putri, dan mencoba mendekatkan Putra nya.
" Gendong lah, berikan dia ASI. Dia butuh kamu sama seperti kamu butuh Kakak. "
Putri mencoba menggendong bayi nya, putri terisak menatap bayi mungilnya yang kecil dan kurus.
" Sayangi dia, anak kita nggak bersalah." Ucap Rifki.
Hiks... hiks... hiks...
" Maaf kan mamah sayang, hiks.. hiks... " Ucap Putri.
" Anak kita belum di kasih nama, apakah kamu mau memberikan nama untuk dia? " Tanya Rifki.
" Malik, Saya kasih nama dia Malik Kak. "
" Abraham Al Malik, Kakak berikan nama anak kita Abraham Al Malik. "
*****
" Sayang haus ya.. " Ucap Naura pada Ay saat memberikan ASI untuk Ay.
Naura terus mengusap wajah putri nya yang lucu, matanya berkaca - kaca saat memandang wajah lucu bayi nya.
" Sayang kangen nggak sama Papah? Pasti kamu kangen kan? Kita harus terbiasa seperti ini, dan kamu pun mempunyai saudara laki - laki yang satu Papah. Kamu harus sayang sama dia sayang, bagaimana cara kedua orang tua kamu menjadi seperti ini jangan kamu benci nak, karena kita adalah saudara, kita keluarga. Dan maaf kan Mamah, kalau mamah ambil keputusan ini karena mamah nggak mungkin hidup seperti ini terus." Ucap Naura sambil terus memberikan ASI pada bayi nya.
__ADS_1
*****
" Bagaimana, mau menyusu? " Tanya Rifki.
" Nggak mau kak, Malik nggak mau. " Jawab Putri.
" Padahal sudah berbagai macam sufor kita coba tapi tak bisa. " Ucap Rifki.
" Bagaimana dong kak, Saya takut kenapa - napa sama Malik. "
" Kita konsultasi ke Dokter anak. "
****
" Anak kami nggak mau menyusu, bahkan segala merk susu formula juga. Jadi bagaimana solusinya? " Tanya Putri.
" Anak Bapak sama Ibu sehat, tidak ada apa - apa. Malah pencernaan nya juga bagus. " Jawab Dokter Anisah.
" Apakah harus mencari Ibu susu? " Tanya Rifki.
" Benar Pak, jalan satu - satu nya, dan kalau tidak begitu kasihan anak Bapak sama Ibu." Jawab Dokter Anisah.
*****
" Kak jadi bagaimana Malik? " Putri semakin stres melihat Putra nya tak mau menyusu bahkan Rifki pun sama.
" Kak ini rumah siapa? " Tanya Putri.
" Hah.. ini, ini tempat tinggal Naura. " Jawab Rifki.
" Ngapain kemari? "
" Naura juga kan sedang menyusui, kenapa nggak mencoba Naura jadi Ibu susu untuk malik." Ucap Rifki.
" Hah... Naura!! "
" Kenapa? nggak mau? "
" Ehm.. ya sudah lah dari pada anak Saya kelaparan. "
Rifki dan Putri pun berjalan masuk menuju rumah kontrakan Naura, Rifki mengetuk pintu namun terdengar suara tangisan Ay yang sangat keras.
Rifki pun membuka pintu, terlihat Ay habis mandi dan sedang di pakai kan baju oleh Naura.
" Anak Papah baru mandi Nih. " Ucap Rifki sambil mencium Ay yang wangi minyak telon.
" Iya nih Pah mandi lagi, tadi terkena gumoh sampai banyak kena badan. " Ucap Naura.
Putri menatap interaksi mereka, hati nya sangat teriris saat melihat nya. Dan tak pernah di rasa kan oleh Putri sikap Rifki yang seperti sama Naura.
__ADS_1
Naura melirik ke arah pintu yang terlihat Putri tengah berdiri sambil menggendong Malik.
" Kakak ajak Putri? " Tanya Naura.
Rifki menoleh ke arah Putri yang sedang berdiri di depan pintu kamar.
" Naura, kami boleh minta tolong tidak? " Ucap Rifki.
" Minta tolong apa? " Tanya Naura kembali bertanya.
" Mau nggak jadi Ibu susu untuk Malik? "
Naura menatap ke arah Putri yang seperti memohon dan Naura hanya diam.
" Tolong lah Naura, Malik tak Mau menyusu pada Saya bahkan susu formula pun tak Mau. Hanya satu harapan kami yaitu kamu Naura." Ucap Putri.
" Kenapa harus Saya? Banyak kan cari donor ASI di luar Sana. kenapa harus Saya? "
Naura menggendong tubuh Ay dan membawa nya keluar kamar.
" Tolong lah Naura, apa kamu tega sama Malik, dia juga sama anak kamu. " Ucap Putri.
Naura menoleh ke arah Putri, dan membalikkan badannya kini berhadapan dengan Putri.
" Anak, kamu bilang dia juga anak Saya. Lantas Ay apakah kamu anggap anak kamu juga hah..? Kamu datang kemari hanya ingin Saya jadi Ibu susu untuk anak kalian, kalau tidak seperti ini kamu nggak akan sudi datang menemui Saya. "
" Baik, kalau kamu tidak Mau. Saya cari Ibu susu lain, dan Kak jangan pernah kamu ajak Saya kesini lagi. " Ucap Putri kesal.
" Naura, kakak mohon. Demi Malik jangan melihat orang tua nya. Kakak paham kamu sakit hati, tapi apa kamu tega Malik yang kurus seperti ini."
Naura terus menatap ke arah Malik yang tubuh nya lebih kurus dari Ay yang sangat gemuk dan sehat.
" Baik, Saya akan jadi Ibu Susu untuk Malik. Tapi kalau Malik ada apa - apa jangan salah kan Saya. " Ucap Naura.
" Terima kasih sayang. " Ucap Rifki sambil memeluk tubuh Naura.
Naura pun memberikan ASI pada Malik, bayi laki - laki milik Putri meminum ASI sangat lahap.
Putri dan Rifki tampak bahagia dan lega, Naura pun tersenyum melihat Malik cocok menggunakan ASI nya.
Ay yang di gendong Rifki menggeliat sambil mengercap bibir nya mencari sesuatu.
" Ay lapar juga nak? " Ucap Rifki lalu mendekati Naura yang sedang menyusui Malik.
" Malik lahap Kak, lihat dia cocok berati sama Saya. " Ucap Naura.
" Iya sayang, lihat ternyata dekat saja. Malik ternyata memilih kamu. " Ucap Rifki sambil tersenyum.
" Kalian memang serasi, tapi Saya tidak akan rela membuat kalian bersama. " Ucap Putri dalam hati.
__ADS_1