Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati

Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati
Tulus


__ADS_3

Malik pun di pasang kan alat pendengar, saat pertama kali mendengar suara ,Malik tersontak kaget dan Menangis.


Naura pun langsung memeluk tubuh Malik, tangis haru Niken saat pertama kali merasakan Malik mendengar suara nya, bahkan suara Papah nya.


"Ini respon pertama anak Bapak sama Ibu, walau bisa mendengar kalian harus menggunakan bahasa isyarat karena Malik akan menggunakan itu suatu saat nanti." Ucap Dokter Farhan spesialis THT.


"Alhamdulillah Dokter, Malik bisa dengar saja Saya sangat senang. Apalagi anak seusia dia ini akan sedang masa - masa nya pertumbuhan." Ucap Naura.


"Lantas bagaimana perkembangan anak Saya untuk kedepannya?" Tanya Rifki.


"Seperti yang Saya jelas kan tadi, dan Malik adalah anak yang spesial."


*****


Malik pun sudah mulai berinteraksi saat Rifki dan Naura mengajak nya berbicara dan bercanda.


Ay pun yang di dekat kan dengan Malik pun merespon dengan adanya Ay yang langsung berinteraksi dengan bahasa bayi.


"Alhamdulillah nak, Papah senang kamu bisa dengar walau nanti kamu nggak begitu lancar untuk bicara." Ucap Rifki.


"Semoga Malik menjadi anak yang pintar dan luar biasa." Ucap Naura.


"Amin." Ucap Rifki.


"Mana cucu Oma sama Opa. " Ibu Astri dan Pak Rahmat pun datang berkunjung, di mana menantu, anak dan kedua cucu nya sedang berada di ruang keluarga.


"Bunda Ayah." Ucap Rifki langsung mencium punggung tangan kedua orang tua nya dan di susul oleh Naura yang melakukan hal yang sama seperti Rifki.


"Katanya Malik bisa dengar?" Tanya Pak Ilham.


"Benar Yah kemarin kami konsultasi pada Dokter anak lalu ke spesialis THT. Dan Malik di pasang kan alat pendengar. " Jawab Rifki.


"Alhamdulillah, kalau begitu." Ucap Pak Ilham.


"Tapi Malik nggak lancar bicara." Ucap Naura


"Sabar nak, kita nanti sama - sama mengajarkan pada Malik." Ucap Ibu Astri.


"Rifki, Mamah nya gimana? wanita itu menanyakan kabar nya nggak?" Tanya Ibu Astri.


"Nggak tahu Bund, sejak cerai dia nggak pernah tanya Malik atau hanya sekedar menelepon saja nggak. Padahal nomer ponsel masih tetap sama nggak ganti." Jawab Rifki.


"Sudah lah Bund, Malik ini anak Naura sekarang. Dan di akta menjadi anak Naura sama Kak Rifki jadi peduli apa sama Ibu nya. Malik suatu saat akan bisa menilai sendiri bagaimana itu Ibu nya." Ucap Naura.


"Benar juga sih kata kamu, yang penting apa kata nanti besar nya saja Malik lebih sayang ke siapa." Ucap Ibu Astri.

__ADS_1


"Tapi nggak akan kami halangi Malik untuk bertemu dengan Mamah nya, suatu saat bila Malik sudah besar Saya akan katakan kalau Saya bukan lah Mamah nya dan nama serta wajah nya Malik juga harus tahu." Ucap Naura.


"Bunda mau kirim video ke Luna biar dia tunjukkan pada Putri." Ucap Ibu Astri mengambil ponsel nya.


*****


"Mau kemana Put? " Tanya Ibu Luna.


"Mau nge mall. " Jawab Putri.


"Tante Astri mengirim kan photo Malik, dan mengatakan Malik sudah bisa mendengar menggunakan alat pendengar."Ucap Ibu Luna saat mendapatkan pesan dari Ibu Astri.


" Bagus dong kalau bisa dengar, jadi tuh anak nggak tuli." Ucap Putri.


"Apa kamu nggak ingin melihat sebentar saja Put? lihat anak kamu sangat lucu." Ucap Ibu Luna.


"Sudah lah mah, kesana juga ngapain? Yang ada malah di ketawain sama tuh si Naura."


*****


"Naura Ini berkas yang harus di periksa, rata nya ada di dalam map sesuai masing - masing Dinas." Ucap Liliana.


"Makasih Li. " Ucap Naura.


" Alhamdulillah baik, sekarang hidup saya merasakan sangat nyaman tanpa manusia satu itu." Jawab Naura.


"Ehm... ngomong - ngomong anak nya benar kamu yang asuh?" Tanya Liliana.


"Iya benar saya yang asuh." Jawab Naura.


"Kok kamu Mau sih asuh anak nya, nggak suruh dia saja gitu atau suruh mertua kamu."


"Putri itu nggak mau mengasuh Malik, dan di bawa sama suami saya dong. Sedangkan Malik hanya bisa pakai ASI saya, dari pada bolak balik ASI lebih baik Malik sama saya saja, malah di akta kelahiran dia Ibu nya saya."


"Benar - benar hati kamu itu baik Naura, kalau saya jadi kamu sudah saya tinggalin. Ngapain mengasuh anak dari seorang pelakor."


" Awal - awal mungkin begitu tapi saya pikir lagi, anak nggak salah yang salah orang tua nya. Suatu saat nanti dia pasti akan mengerti dan akan tahu dari cerita sebenarnya."


****


"Minum." Rifki menyodorkan kopi hangat pada Aldi yang sedang duduk di kursi panjang dekat pos.


"Terima kasih." Ucap Aldi.


"Sebaiknya kita mulai sekarang berdamai seperti dulu lagi, sebelum kita mengenal yang namanya Melati dan kamu belum kenal nama Naura." Ucap Rifki.

__ADS_1


Aldi tersenyum kecut sambil meminum kopi pemberian dari Rifki.


"Dua kali hati saya patah, saya hanya bisa menata hati kembali." Ucap Aldi.


"Saya tahu, kamu jatuh pada yang salah. Jatuh kembali pada musuh yang sama." Ucap Rifki.


"Maaf kan kemarin saya sudah banyak berharap, dan mendoakan yang tak baik." Ucap Aldi.


"Kita lupa kan, dan saya pun tak akan lagi berpikiran kembali mengenai masalah hati. Karena hati yang kamu incar sudah tepat menempati hati yang pernah tergeser sekarang sudah tak lagi takut."


"Jaga hati nya, jangan sampai akan terlepas kembali seperti kemarin.Karena bila lepas kembali akan lain lagi cerita nya. Mungkin saya akan lari mengambil jaring dan memperlakukan nya lebih dari apa yang kamu berikan."


"Tidak akan pernah, saya nggak akan biar kan lepas kembali." Ucap Rifki tersenyum.


******


"Mah,pampers Ay di mana? " Teriak Rifki dari dalam kamar.


"Pah,pampers Ay masih di tempat nya kan?" Ucap Naura mendekat sambil menggendong Malik.


"Yang ada punya Malik, punya Ay habis."


"Habis,perasaan masih deh. Pakai punya Malik saja dulu."


"Malik Size M anak kita Size XL. "


"Ya sudah Papah beli gih sekalian."


"Ya sudah Papah beli dulu ya."


****


Rifki pun membeli beberapa packs pampers sesuai Size milik Ay, dan memasukan pada keranjang nya yang ada dua keranjang.


"Sekalian hitung sama yang ini mba?"


"Rifki menoleh saat seorang wanita berdiri di di belakang nya dengan menaruh satu keranjang belanjaan milik nya yang di satu kan milik Rifki.


" Mba saya pampers aja ya ini bukan punya saya."


"Nggak mba satu kan, saya ini masih teman dekat nya."


pegawai mini market pun merasa bingung dengan perdebatan Rifki dan wanita tersebut hingga pembeli yang mengantri ikut kesal.


"Maaf mba, saya nggak jadi beli." Ucap Rifki kesal meninggalkan belanjaan nya.

__ADS_1


__ADS_2