
Rifki masih memeluk tubuh istrinya yang hanya berbalut selimut, Naura yang ingin beranjak bangun di tarik nya kembali ke dalam peluk kan nya.
"Pah, nggak enak sama Yanti dan Marni mereka sudah dua jam yang lalu pulang. Dan kita masih seperti ini terus." Ucap Naura yang mencoba melepaskan tangan kekar Rifki yang melingkar di perut nya.
"Nggak, Papah masih mau begini. Masih kangen." Ucap Rifki.
"Iya tapi kan Pah, bisa nanti malam lagi. Besok masih cuti kan? " Ucap Naura.
"Masih cuti tapi kan Mamah juga harus berangkat Dinas juga."
"Tapi kan setidak nya kan ada waktu."
"Sekali lagi dulu ya, nanti baru keluar kamar." Ucap Rifki yang sudah memainkan salah satu benda ke sayang an nya.
"Sekali nya lagi Papah itu bisa berkali - kali lagi."
"Ayolah mah. " Rifki pun mulai menyerang kembali Naura hingga Naura pun tak bisa untuk menolak.
****
Dani menoleh ke arah kamar adik nya sejak ke datang an nya 1 jam yang lalu tak keluar kamar juga Naura dan Rifki.
Sedangkan Yanti dan Marni pun tak berani untuk mengetuk pintu kamar nya. Rena pun hanya melirik ke arah suami nya sambil menggendong Ay.
"Bang ketuk saja, kata mereka sudah 3 jam di kamar." Ucap Rena.
"Sama Rifki kan baru datang, paling juga lagi sayang - sayang an. " Ucap Dani.
"Setidak nya kan mereka nggak tahu kita datang." Ucap Rena.
"Lihat saja sampai 30 menit lagi."
Pintu kamar pun terbuka, dan Naura pun keluar hanya mengenakan pakaian tidur terusan yang memperlihatkan bentuk tubuh nya.
"Eh ada Abang sama mba Rena. " Ucap Naura yang langsung masuk kembali ke kamar nya dan Rifki pun keluar kamar hanya mengenakan kaos dan celana pendek.
"Loh ada Bang Rifki sama Mba Rena, dari tadi? " Tanya Rifki sambil mencium punggung tangan Dani dan Rena.
"Sudah 1 jam. " Ucap Dani sambil tersenyum.
"Lah kenapa nggak ketuk kamar saja?" Ucap Rifki.
"Semua nya nggak ada yang berani mengganggu acara kalian. " Ucap Dani.
"Siapa tahu di dalam sedang bikin adonan jadi kita hanya diam saja." Ucap Rena.
Naura pun keluar dengan pakaian yang layak di pandang, lantas langsung bergabung dengan Dani, Rena dan suami nya.
"Dari tadi? " Tanya Naura.
"Sudah 1 jam. " Jawab Rena.
"Maaf, kenapa nggak di panggil suruh Marni atau Yanti." Ucap Naura.
"Nggak berani Naura, kalian kan sedang bikin adonan." Sindir Rena.
"Ih mba apa an sih, kita tadi tidur doang." Ucap Naura dengan pipi memerah.
"Tidur plus - plus. " Ucap Rena kembali.
"Mba juga sama kan , Bang Dani baru pulang juga begitu. " Ucap Naura nggak mau kalah.
"Eh.. kata siapa? bukti nya kita ada disini." Ucap Rena.
"Benar Bang, nggak capek langsung kemari? " Ucap Rifki.
"Kita tiba di rumah kan 3 jam yang lalu, kangen - kangen an sebentar langsung kemari." Ucap Dani.
"Memang nya ada perlu apa sih Bang? seperti nya penting." Tanya Naura.
__ADS_1
"Begini, ruko kamu kan yang dulu Mamah Yuli jual dan sekarang jadi pemilik orang itu dan di jual lagi. Sedangkan semua nya sudah balik nama kan? "Ucap Dani.
" Benar, lantas apa urusan nya?" Tanya Naura.
"Katanya yang kelebihan tanah itu nggak kebawa sertifikat karena masih nama pemilik nya kakek kamu." Jawab Dani.
"Terus? " Ucap Luna.
"Tante Luna ingin uang kelebihan tanah nya itu karena masih ada bukti sertifikat nya."
"Kalau itu Saya nggak tahu om ceritanya, dan lagi an saat akad jual beli kan sudah jelas ukuran nya dari mana kemana mana. Maksud nya kelebihan tanah samping yang di buat taman? "
"Iya, kelebihan tanah samping."
"Jadi saat akan proses akad jual beli lagi sedikit terganggu yang tiba - tiba Tante Luna muncul. "
"Kenapa baru sekarang? kenapa nggak dari awal saja."
"Mungkin ini ide Tante kamu ingin dapat kan ruko itu."
"Kalau Mau tinggal bayar saja ke orang yang pemilik sekarang. Kenapa mesti ribut kayak gini."
"Kan Tante kamu itu licik, dalih bilang kelebihan tanah itu masih milik dia dan nggak sah jual beli nya." Ucap Dani.
"Yanti, ke sini kamu. " Panggil Naura.
"Kenapa mba? " Tanya Yanti.
"Kamu kan yang urus saat jual beli ruko?" Tanya Naura kembali.
"Benar mba, apa ada yang salah?"Tanya Yanti
"Masalah tanah yang di gunakan taman itu aslinya punya Mamah atau bukan?"
"Itu sudah punya Mamah mba, sudah di bayar saat Kakek mba masih hidup. Terus salah nya Ibu belum buat sertifikat hanya Ibu sudah bilang pada pemilik kedua, tanah ini punya Saya hanya belum sempat di sertifikat, tangan sebelah kan memang beda, dan terus kata si pembeli kedua ya sudah sekalian buat saja lantas di buat, dengan bukti sertifikat atas nama masih Kakek mba." Ucap Yanti menjelaskan.
"Nah masalah nya Tante Luna punya bukti di atas materai dan itu punya milik nya juga. "
"Nggak tahu juga itu bagaimana otak nya." Ucap Naura kesal.
"Sudah gini saja, proses jual beli mereka tetap berjalan kan karena kuat nya bukti dari sertifikat yang Mamah kamu pegang. Nanti akan bisa di lihat mana yang palsu mana yang asli." Ucap Dani.
"Benar nanti Abang kamu yang urus." Ucap Rena.
"Terus kenapa mereka datang nya ke Abang nggak ke Saya? " Tanya Naura.
"Karena yang beli teman Abang." Jawab Dani.
"Ntar Saya ke bicara sama Tante Luna." Ucap Naura.
*****
"Kamu mau menemui Tante Luna?" Tanya Rifki.
"Iya Pah, Saya ingin menemui nya pasti ada sesuatu." Jawab Naura.
"Mau di temani? "
"Nggak usah Pah."
"Ya sudah hati - hati, ingat jangan sampai emosi. "
"Iya sayang, berangkat dulu ya. " Ucap Naura sambil mengecup pipi Rifki.
*****
"Tumben kamu kemari? " Tanya Ibu Luna.
"Tante, kenapa tante baru sekarang menuntut masalah tanah samping ruko? Jelas - jelas itu milik Mamah di kasih sama Kakek." Jawab Naura.
__ADS_1
"Eh Naura, itu juga masih punya hak Tante dong karena yang kasih kan Ayah Tante." Ucap Ibu Luna.
"Sudah gini saja Tante, sebenarnya Kakek juga kasih adil kan harta nya. Kenapa kasih ke Mamah karena Papah lebih dulu meninggal dunia saat bagi waris." Ucap Naura.
"Tapi itu hak Tante. "
" Hak Tante bagaimana sih, dan Om Rahmat lihat istri Om jangan bikin masalah." Ucap Naura.
"Naura jujur sebenarnya kami terlilit hutang, hanya Jalan satu - satu nya itu." Ucap Pak Rahmat.
"Ayah, kenapa bilang sama Naura." Bentak Ibu Luna.
"Sudah lah Bund, kita terus terang saja. Pikiran Ayah sudah bleng apa lagi kamu buat surat di atas materai begini nggak kuat dan memakai keadaan yang benar - benar tanah itu belum balik nama." Ucap Pak Rahmat.
"Asal tahu saja, orang yang kalian hadapi nggak bodoh. Masalah hutang jangan ungkit - ungkit pada Mamah Saya yang sudah meninggal dunia. Kalian tahu Mamah meninggal dunia itu gara - gara kalian. "
"Maaf kan kami Naura." Ucap Pak Rahmat.
"Naura, bantu kami hanya kamu yang bisa bantu." Ucap Luna yang sudah tak memiliki wajah.
"Bantu apa Tante? Bayari hutang? ." Ucap Naura.
"Kamu bantu Tante, hanya kamu ponakan Tante. " Ucap Ibu Luna.
"Terus anak Tante mana? Putri dong suruh usaha. Saya kan sudah urus anak nya, masa Mau berkorban lagi setelah berkorban mengikhlaskan suami." Ucap Naura.
"Baik lah Naura kalau kamu nggak Mau membantu kami." Ucap Pak Rahmat.
"Maaf sudah cukup Saya mengasuh Malik, dan sudah cukup apa yang Mamah kembali kan semua nya." Ucap Naura.
******
Setelah dari rumah Tante dan Om nya, Naura pergi ke salah satu cafe mendinginkan kepalanya yang panas dengan memesan minuman dingin kesukaan nya susu cokelat.
"Boleh gabung."
Naura menoleh ke arah pria yang di samping nya dengan memakai jaket hitam dan topi hitam dengan kaos putih di dalam nya.
"Bang Aldi sama siapa?" Tanya Naura.
"Sendirian, tuh sedang service motor di bengkel depan." Jawab Aldi.
"Sendiri? " Tanya Aldi.
"Iya Bang sendiri." Jawab Naura.
"Rifki kemana? "
"Ada di rumah, kasihan masih capek." Ucap Naura sambil menyedot minuman nya.
"Selamat ya kemarin naik pangkat." Ucap Naura.
"Makasih, kalau kamu kapan kenaikan pangkat nya? "
"Baru saja satu dua tahun naik pangkat." Ucap Naura.
"Oh.. " Ucap Aldi.
"Bang Aldi sekarang sama siapa? " Tanya Naura
"Sama Liliana. " Jawab Aldi.
"Ya itu sih jelas, maksud nya pacar nya siapa?"
"Oh itu, belum ada dan belum move on dari kamu. Maaf ini salah."
"Nggak apa - apa Bang, memang sulit."
"Saya bahagia kalau kamu bahagia sekarang, apalagi Rifki hanya memiliki kamu."
__ADS_1
"Berat juga saat itu Bang, mungkin jodohnya seperti ini."
"Abang berharap suatu saat jodoh Abang seperti kamu."