
Rifki mengeliat kan tubuh nya dan membuka matanya terlihat istrinya sudah berada sangat dekat dengan wajahnya. Naura mendekat kan bibir nya untuk memberikan morning kiss seperti setiap hari.
Namun saat ini Rifki membuang wajahnya menghindari morning kiss seperti biasanya dan memilih untuk beranjak dari sofa.
Naura menatap heran namun segera menepisnya dan tersenyum ke arah suaminya yang sudah berjalan masuk ke dalam kamar nya.
" Kakak tadi malam pulang jam berapa? " Tanya Naura sambil memasak air.
" Jam 12 malam." Jawab Rifki datar sambil berjalan keluar dari kamar nya.
" Kenapa nggak kasih kabar? kalau kakak nggak bisa jemput Naura. Kemarin kesal dan khawatir, Saya hubungi kakak saja nggak di angkat."
" Hari ini kamu berangkat sendiri saja, mulai sekarang berangkat sendiri dan seterusnya. Dan jangan pernah menunggu suami kamu pulang."
Naura menatap ke arah suaminya dan berjalan mendekati Rifki yang sedang duduk di depan meja makan.
" Kenapa? " Tanya Naura heran.
" Ya nggak apa - apa, kemungkinan akan sering tak sama - sama lagi seperti dulu." Jawab Rifki.
" Ada masalah? "
" Kamu ngerti nggak sih suami bicara seperti ini? Mau ada masalah atau tidak bukan urusan kamu." Bentak Rifki.
" Kok Kakak kasar begitu sama Naura? Kakak nggak pernah bentak Naura sekarang Kakak bentak Naura." Ucap Naura dengan mata yang berkaca - kaca.
" Maaf ya, tolong jangan banyak tanya."
******
" Eh bumil naik motor sendiri nih." Sindir Putri.
" Kenapa masalah? " Tanya Naura.
Putri terlihat dari jauh mobil Rifki masuk ke arah Kodim, dan Putri menatap sambil tersenyum.
" Suami kamu pakai mobil, kamu pakai motor. Lagi marahan ya? " Ucap Putri.
" Nggak usah kepo deh." Ucap Naura yang langsung masuk meninggalkan Putri.
******
" Hi.. adik ipar." Sapa Dani langsung merangkul Rifki saat baru turun dari mobil nya.
" A - Abang, hari ini sudah bertugas disini? " Tanya Rifki.
" Yup, Abang mulai hari ini. Kamu bukan nya sudah dapat kabar sebelumnya? " Ucap Dani kembali bertanya.
" Sudah, ehm.. Abang tinggal di mana? "
" Saya menempati rumah Mamah yang dulu masih sama Papah. Itu kan bagian Mamah untuk Saya, dari pada kosong dan memang Abang lahir disini jadi ingin menetap disini." Ucap Dani.
" Sama Mamah Lisa? " Tanya Rifki.
" Nggak, dia bolak balik saja." Jawab Dani.
Rifki menatap sinis saat pria yang berpostur tubuh sedikit lebih tinggi datang dan angkuh menatap Rifki.
__ADS_1
" Hey Aldi, kenal kan ini adik ipar Saya." Ucap Dani.
" Saya sudah kenal Bang." Ucap Aldi datar.
" Oh sudah kenal ya, kirain belum." Ucap Dani.
" Kita bertemu lagi." Ucap Rifki.
" Kalau tahu Saya satu tempat tugas sama kamu, lebih memilih menjaga perbatasan." Ucap Aldi.
" Cih.. memangnya Saya juga mau apa setiap hari bertemu kamu." Ucap Rifki.
" Hey.. ada apa nih, santai saja dong. Kita masuk yuk." Ucap Dani menengahi.
******
" Kamu kenapa Put? " Tanya Liliana menatap heran dengan cara duduk Putri yang tak nyaman.
" Kena Ambeyen kali." Jawab Naura sambil terkekeh.
" Sembarangan saja kalau bicara." Ucap Putri kesal.
" Terus kenapa? " Tanya Liliana.
Putri pun lalu beranjak berdiri, dan melangkah keluar sambil membawa berkas.
" Coba deh lihat cara jalan nya, kok kaya ada yang ganjal gitu."
" Sudah ih penting apa bahas masalah Putri berjalan."
*****
" Nggak apa - apa." Jawab Rifki.
" Sejak baru datang Abang terlihat seperti mempunyai masalah."
" Nggak ada apa - apa kok."
Saat waktu jam makan siang tiba, Naura berjalan mendekati Rifki yang sedang duduk bersama Lukman. Sambil menenteng makanan yang di pesan nya secara online dirinya bawa untuk makan siang bersama suaminya.
" Istrinya Abang." Ucap Lukman lantas pergi.
" Yank makan siang sama - sama yuk." Naura yang langsung duduk di samping Rifki.
" Kenapa kamu repot - repot, suami kamu nanti bakalan cari sendiri." Ucap Rifki.
" Kakak kenapa sih? Dari Pagi sikap nya dingin terus? " Tanya Naura.
" Suami kamu ingin sendiri, dan tidak ingin di ganggu kamu paham." Jawab Rifki dengan nada menekan.
Dari jauh Aldi menatap Rifki yang selama ini menjadi musuhnya dan tatapannya tertuju pada wanita yang di samping Rifki yang kemarin dirinya mengantar pulang.
" Jangan terus pandangi Rifki, kalau kamu memang tak suka Sama dia. Karena menatap orang yang kita benci akan semakin benci." Ucap Dani menepuk bahu Aldi.
****
Naura berjalan lemas sambil mengusap perut nya yang lapar. Karena Rifki yang tak Mau menerima makan siang yang Naura bawa.
__ADS_1
" Dek." Panggil Dani.
" Abang ada disini? " Tanya Naura.
" Abang Dinas sama suami kamu, dia nggak cerita? " Jawab Dani kembali bertanya.
" Nggak Bang, mungkin lupa." Ucap Naura.
" Kamu kenapa? " Tanya Dani saat melihat Naura dengan wajah yang sendu.
" Nggak apa - apa Bang, biasa wanita hamil." Jawab Naura bohong.
" Itu bawa apa? "
" Oh ini makan siang Naura, tadi ingin makan siang sama - sama hanya saja Naura tiba - tiba Kenyang."
*****
Saat hendak akan membuang makanan yang Naura pesan di tong sampah, sebuah tangan kekar mencengkram tangan Naura.
Naura menatap ke arah pria berseragam loreng dengan menatap ke arah Naura.
" Lepaskan tangan Saya." Ucap Naura.
Pria tersebut melepaskan tangan nya dan mengambil kresek yang ada di tangan Naura.
" Kembali kan itu Mau saya buang." Ucap Naura.
" Kamu nggak mubazir membuang makanan yang sangat enak ini, dan kamu harus tahu di luar Sana masih banyak yang ingin makan - makanan seperti ini. Lantas kamu Mau buang begitu saja? "
Naura membaca nama yang ada ada di seragam loreng tersebut.
" ALDI." Ucap Naura.
" Kenal kan Saya Aldi, Saya juga teman suami kamu dan Saya juga sepupu Liliana. Apa kamu lupa? " Ucap Aldi sambil mengulurkan tangan nya namun tak di Sambut oleh Naura dan Aldi pun langsung menarik tangan nya kembali.
" Kamu tahu itu makanan, berati kamu tahu apa yang terjadi sama Saya dan suami Saya? " Tanya Naura.
" Seperti itu, suami yang tak menghargai istri." Jawab Aldi.
" Maaf Saya harus masuk."
Namun tangan Naura di cegat oleh Aldi, dan manarik tangan Naura berjalan menuju ke arah pos.
" Mau apa sih? " Tanya Naura.
" Kita makan sama - sama di dalam pos." Jawab Aldi.
" Maaf Saya tidak Mau makan dengan orang yang Saya nggak kenal."
" Suami kamu kenal sama Saya, dan Liliana teman kamu kan."
Lantas terdengar bunyi suara perut Naura yang keroncongan, dan membuat Aldi tertawa hingga membuat wajah Naura memerah.
" Ayolah, makan. Saya temani kamu makan."
Naura dengan terpaksa makan bersama Aldi, yang sebelumnya Aldi meminta izin pada security untuk meminjam tempat nya.
__ADS_1
" Sayang makanan itu di beli dengan uang." Ucap Aldi sambil makan.