Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati

Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati
Kasih Sayang


__ADS_3

Putri berjalan ke arah parkiran melihat Rifki yang sedang memutar motor nya.


"Apa kabar sayang." Sapa Putri.


"Kabar saya sangat bahagia." Ucap Rifki.


"Oh... saya kira nggak bahagia."


Rifki menatap ke arah Putri sambil duduk di atas motornya.


"Put, saya nggak habis pikir kenapa saya bisa punya mantan seperti kamu. Dulu kamu nggak kayak gini, semakin kesini semakin menjadi."


"Itu semua karena Kakak."


"Karena saya? Apa nya? " Tanya Rifki.


"Karena Kakak lebih mencintai Naura, sampai saya jadi istri Kakak tak pernah sedikit pun ada rasa untuk saya." Jawab Putri.


Rifki pun turun dari motornya, dan mencopot helm nya kembali.


"Put, kamu kan tahu dari dulu hati saya untuk siapa? Dan kamu juga tahu kan cara kamu memaksa saya menuju saya bertanggung jawab atas kehamilan Malik. Saya juga salah nggak bisa mengontrol saat kamu lakukan hal licik,Saya coba membagi cinta nggak bisa karena Cinta Saya sudah terkunci untuk Naura. Bahkan sampai Malik lahir, tapi Saya sayang sama Malik, Saya Cinta sama Malik walau dia berbeda. Kamu tahu, wanita yang kamu benci malah Mau merawat anak kita. Dia rawat seperti anak kandungnya sendiri, lantas kamu masih seperti itu saja?"


****


" Ini kemana orang beli pampers nggak datang - datang." Ucap Naura kesal.


Terdengar suara bunyi mobil berhenti tepat di depan rumah nya, terlihat Dani, Rena dan Ibu Lisa serta kedua kembar anak Dani dan Rena.


" Assalamualaikum." Sapa mereka.


"Walaikumsalam." Balas Naura langsung mencium punggung tangan mereka.


" Tante Mana Ay sama Malik? "


"Kami ingin main sama mereka. " Tanya kembar pada Naura.


"Ada sama mba Marni." Jawab Naura dan langsung mereka masuk kedalam.


"Nih kami belikan kamu makanan." Ucap Dani sambil menyerahkan satu kotak martabak.


"Makasih." Ucap Naura.


"Suami kamu Mana? " Tanya Ibu Lisa.


"Beli Pampers Mah, padahal di mini market ujung jalan sana sampai sudah satu jam malah masih belum pulang." Jawab Naura kesal.


"Mungkin nggak ada jadi ke toko lain." Ucap Rena.


"Nggak tahu juga."


Rifki pun datang dengan membawa pampers yang dia beli, lantas segera memasukan belanjaan ke kamar Ay dan Malik. Dan langsung bergabung dengan keluarga Naura.


"Beli pampers nya di mana Kak?" Tanya Naura.


"Di supermarket dekat rumah Bunda." Jawab Rifki.


"Astaghfirullah, pantas saja lama. Memang nggak ada disana nya? kan buat malam ini bisa beli di warung kalau di mini market nggak ada." Ucap Naura.


"Size XL nya habis, tadi sebenarnya sudah belanja hanya ketemu sama Putri." Ucap Rifki.

__ADS_1


"Oh.. jadi Kakak mau minta rujuk?" Tanya Naura.


"Nggak dengar kan dulu cerita nya. Saat pas di kasir mau bayar, dia naruh belanjaan nya minta di bayar in jadi kan satu struck. Kakak kan nggak Mau, dia maksa dari pada kena omel kamu Yank mendingan nggak jadi belanja. Dia nya nggak tetap minta di bayarin." Ucap Rifki menjelaskan.


"Nggak tahu malu sekali dia, sudah anak nya yang rawat siapa, eh bukan suaminya masih ngejar - ngejar." Ucap Rena.


"Mamah juga nggak ngerti sama anak nya Luna dan Rahmat, sebelas dua belas sama kedua orang tua nya." Ucap Ibu Lisa.


"Awas saja kalau rujuk." Ancam Naura.


"Nggak Yank, siapa sing mau rujuk." Ucap Rifki.


******


Rifki pun menghentakkan sangat keras saat mencapai puncak, di usap nya peluh yang membasahi kedua nya dan saling memberikan ciuman hangat saat terakhir.


Rifki pun bergeser dari atas tubuh Naura dan membersihkan sisa - sisa Cinta mereka.


"Yank, kamu duluan yang masuk kamar mandi." Ucap Rifki saat setelah membersihkan inti milik Naura.


"Iya." Ucap Naura berjalan begitu saja ke kamar mandi di kamar nya dengan tanpa sehelai benang.


Tangis Ay pun terdengar, Rifki pun segera memakai kaos dan celana nya yang berserakan di lantai.


Owaaaaa... owaaaaa


"Marni Ay kenapa?" Tanya Rifki.


"Demam Pak." Jawab Marni.


Rifki pun memegang kening Ay yang sangat demam tinggi.


"Baik Pak." Ucap Marni.


Rifki pun menggendong Ay, dengan mengusap punggung nya agar Putri nya tenang.


"Pah, Ay kenapa? " Tanya Naura langsung mengambil Ay dari Rifki.


"Demam." Jawab Rifki.


Marni pun datang, dan memberikan obat penurun panas pada Ay.


"Marni kamu jaga Malik, biar Ay sama saya." Ucap Naura.


"Baik Bu."


Naura pun menidurkan Ay di kamar nya, namun demam Ay tak kunjung turun.


"Bagaimana Pah? masih demam." Ucap Naura.


"Kita ke rumah sakit sekarang." Ucap Rifki.


*****


"Bagaimana Dok?" Tanya Rifki.


"Nggak apa - apa, hanya demam biasa besok juga reda." Jawab Dokter.


"Alhamdulillah, kami khawatir soalnya di beri obat penurun panas masih tetap saja." Ucap Naura.

__ADS_1


"Nggak apa - apa bu, besok insya Allah mendingan tapi bila masih ada keluhan nanti kesini lagi."


"Baik Dokter. " Ucap Rifki.


"Saya tulis resepnya dulu."


*****


"Kamu ijin kan? " Tanya Rifki.


"Iya Pah, Saya ijin. Kalau masuk nanti kepikiran terus." Jawab Naura.


"Kalau ada apa - apa kasih kabar."


"Iya sayang, disini juga kan ada Marni sama Yanti."


Rifki memegang kening Ay, demam nya pun sudah mulai menurun. Ay pun terlihat sangat lelap setelah menangis semalaman.


*****


"Ay kenapa? " Tanya Ibu Astri.


"Demam biasa bund." Jawab Naura.


"Bunda khawatir saat Rifki bilang Ay demam." Ucap Ibu Astri.


"Ay sudah di bawa ke Dokter?" Tanya Ibu Lisa.


" Sudah tadi malam langsung ke IGD, soalnya kami khawatir demam nya nggak turun - turun." Jawab Naura.


"Tapi kata Dokter nggak apa - apa kan?" Tanya Ibu Astri.


"Nggak apa - apa Mah." Ucap Naura.


Ibu Astri dan Ibu Lisa pun sangat lega, saat mendengar cucu mereka hanya demam biasa.


"Malik pun datang bersama Yanti, Ibu Lisa langsung mengambil Malik dari gendongan Yanti.


"Ini Cucu Oma Lisa tambah ganteng." Ibu Lisa menciumi kedua pipi Malik yang terlihat sedikit gemuk.


"Malik ada sedikit perubahan Naura." Ucap Ibu Lisa.


"Iya nih, sedikit gemuk." Ucap Ibu Astri.


"Iya Bunda , Mamah kami kasih vitamin juga buat Malik. Biar membantu pertumbuhan nya juga." Ucap Naura.


Malik pun tersenyum dan merespon saat kedua Oma cantik nya mengajak bercanda.


*****


"Berapa hari kakak akan latihan gabungan?" Tanya Naura sambil membantu memasukan perlengkapan Rifki kedalam tas ranselnya.


"Sekitar seminggu, Kakak sama Bang Dani juga." Jawab Rifki.


"Nanti jangan lupa berkabar."


"Iya sayang, jaga anak - anak."


"Iya, hati - hati." Naura memeluk tubuh Rifki yang sudah bersiap - siap menunggu jemputan yang akan membawa nya ke tempat latihan gabungan.

__ADS_1


__ADS_2