Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati

Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati
Merelakan


__ADS_3

Hoek.. hoek..


Putri segera berlari keluar ruangan saat dirinya mual, dan Naura terus menatap ke arah pintu sampai Putri pun kembali.


Putri pun kembali merasakan mual dan kembali keluar lagi, Naura pun mengusap perutnya lalu terus melanjutkan pekerjaan nya.


" Kamu sakit? " Tanya Liliana.


" Dari kemarin Saya muntah - muntah terus, bahkan pusing kepala." Jawab Putri.


" Kalau begitu kamu pulang saja istirahat." Ucap Liliana.


" Iya ya Saya pulang saja, rasanya sudah nggak tahan."


******


" Yank kamu Mau mampir ke tempat jajanan favorite kamu nggak? " Tanya Rifki.


Naura hanya diam dan terus menatap ke arah luar jendela.


" Yank." Rifki memegang tangan Naura.


" Iya." Ucap Naura menatap ke arah Rifki.


" Mau mampir tempat jajanan favorite kamu nggak? "


" Langsung pulang saja kak."


" Ya sudah."


Setelah sampai Naura pun langsung masuk kedalam kamarnya dan lantas langsung berganti pakaian, begitu pun dengan Rifki.


Saat Naura sudah selesai berganti pakaian, Rifki memeluk tubuh Naura dari belakang.


" Yank, kangen."


Naura menggelengkan Kepalanya dan hanya memegang tangan Rifki.


" Mau kan? Kita sudah lama nggak melakukannya." Bisik Rifki.


" Kak."


" Iya."


" Tadi Putri muntah dan mual."


" Terus? "


" Dia mungkin hamil."


" Peduli apa, biarkan saja."


" Dia hamil anak Kakak."


Rifki melonggarkan peluk kan nya sedangkan Naura menatap suaminya dari arah cermin.


" Kata siapa dia hamil? Belum tentu dia akan hamil."


" Apa Kakak tega, anak itu lahir tanpa seorang Ayah, sedangkan Ayah nya bahagia bersama keluarganya."


' Biarkan saja, dia harus tanggung sendiri akibat ulahnya."

__ADS_1


" Ini bukan masalah ulah siapa nya tapi anak nya butuh sosok seorang Ayah."


" Sudah lah jangan terlalu jauh pikirannya."


******


" Bunda...!! " Teriak Putri.


" Bunda..!!! " Teriak Putri kembali.


" Ada apa sih? Teriak - teriak kaya di hutan." Ucap Ibu Luna.


" Bunda." Ucap Putri sambil menunjukkan sebuah tespek.


" Ini maksud nya apa? " Tanya Ibu Luna saat menerima tespek yang di berikan pada dirinya.


Mata Ibu Luna membuat hebat saat melihat sebuah garis merah dua, dan terlihat Putri pun tampak bahagia.


" Kamu hamil? " Tanya Ibu Luna.


" Iya Bund, hamil anak Kak Rifki." Jawab Putri.


" Bagus, kamu harus minta pertanggung jawaban nya dan harus segera nikah kan kamu." Ucap Ibu Luna.


" Sekarang Naura perlahan akan tersingkir Bund." Ucap Putri.


" Benar, kita akan temui Rifki di rumah nya."


******


Naura mendengar suara ketukan pintu, dan saat membuka terlihat Ibu Luna dan Putri serta Ibu Astri yang terlebih dahulu di beri kabar tentang kehamilan Putri sebelum bersama - sama mendatangi rumah Naura dan Rifki.


" Bunda Tante. " Sapa Naura yang langsung menyambut dengan bersalaman namun di tepisnya.


" Suatu hal yang mudah untuk mencari rumah kalian." Jawab Ibu Astri dengan angkuh.


Putri terus menatap Naura sambil tersenyum tidak dengan Naura yang hanya berwajah datar.


" Mana suami kamu? " Tanya Ibu Luna.


" Ada, nanti Saya panggil kan." Jawab Naura yang segera berjalan menuju ruang tengah.


Namum Rifki sudah berjalan mendekat dan bersalaman dengan semuanya.


" Tumben kemari? " Tanya Rifki.


" Sayang, Bunda kemari itu karena bunda ingin mengucapkan selamat sama kamu." Jawab Ibu Astri.


" Selamat apaan?" Tanya Rifki yang nampak. bingung.


" Sayang, coba tunjukkan." Ucap Ibu Astri memberikan perintah.


Putri pun memberikan sesuatu yang terbungkus plastic warna hitam dan setelah membuka membuat Mata Rifki membulat hebat.


' Ini?? " Ucap Rifki sambil melirik ke arah Naura yang sudah menundukkan Kepalanya sambil mengusap perut nya.


" Putri hamil anak kamu, kami minta kamu tanggung jawab nikahkan Putri." Ucap Ibu Luna.


" Benar Kak, Saya hamil anak Kakak. Saya minta Kakak nikahkan saya." Ucap Putri.


" Nanti malam kamu harus menikah dengan Putri, Bunda sama Ayah sudah siapkan semuanya." Ucap Ibu Astri.

__ADS_1


" Ta - tapi nggak mungkin ini anak saya." Ucap Rifki.


" Nggak mungkin bagaimana sih Kak, jelas ini anak Kakak. Apa Kakak nggak mau bertanggung. jawab? " Ucap Putri kesal.


" Saya nggak bisa menikahi Putri." Ucap Rifki.


" Rifki, ini ada anak kamu. Bagaimana pun kamu harus bertanggung jawab. " Bentak Ibu Astri.


" Kenapa kamu bisa sampai hamil, kenapa kamu setelah itu tidak minum pil biar nggak hamil." Bentak Rifki.


" Kak, Saya ini nggak mau menolak rejeki, Dan setelah anak kita hadir Kakak ingin menolak nya? " Bentak Putri.


" kalau kamu nggak melakukan hal g****la semuanya nggak terjadi. Seharusnya ini kamu tanggung sendiri." Ucap Rifki marah.


Naura semakin terisak dan meremas perut nya, mendengar Naura menangis semakin kencang Rifki segera mendekati Naura.


" Yank, Kakak sungguh minta maaf. " Ucap Rifki.


Hiks.. hiks.. hiks...


" Naura ijinkan suami kamu untuk menikahi Putri anak yang di kandung Putri berhak atas pengakuan dari Rifki. " Ucap Ibu Luna.


Hiks... hiks.. hiks...


" Ini kah cara kalian ingin memisahkan Saya dengan suami Saya hiks.. hiks.. hiks.. "


" Kamu tinggal bilang iya apa susah nya, dan tanda tangan ini sebagai tanda persetujuan suami kamu berpoligami." Ucap Ibu Astri.


" Bunda, jadi Bunda sudah siap kan? " Ucap Rifki.


" Iya kenapa? Dan berharap suatu saat Naura yang kamu ceraikan."


" Bunda begitu sangat jahat, Saya tidak akan pernah menceraikan Naura, Saya tidak akan menikahi Putri tapi jangan harap minta lebih dari saya." Ucap Rifki.


Naura mengambil surat yang berada di tangan Ibu Astri, dan menanda tanganinya.


" Naura!! " Ucap Rifki.


" Saya ijinkan Kakak menikahi Putri, bagaimana pun anak yang di kandung Putri adalah anak Kakak. Dia juga butuh sosok figur Ayah nya. Dan Kakak ingat kan Saya pernah bilang apa, setelah ini lepaskan saya." Ucap Naura.


" Nggak Saya nggak akan melepaskan kamu."


" Kak, kita nggak bisa hidup satu atap dengan madu, Kakak paham kan kita siapa, hati Saya sudah terlanjur sakit. "


" Tapi mohon jangan tinggal kan suami kamu."


******


Rifki masih duduk diam di sofa, sedangkan Naura duduk di seberang nya. Bahkan hubungan yang sudah mulai membaik kini menjadi renggang kembali.


" Pergi lah Kak, malam ini adalah Kakak Milik Putri." Ucap Naura yang berusaha tegar.


" Setelah acara selesai Kakak akan pulang."


" Nggak kak, bermalam lah bersama Putri. Dia istri Kakak, bagaimana pun secara agama Putri istri kakak." Ucap Naura yang masih terlihat tegar namun seperti menahan sesuatu.


" Maaf."


" Sudah entah berapa kali maaf yang terlontar dari mulut kakak, tapi kata maaf itu tidak akan pernah bisa mengubah semuanya."


" Sampai kapan pun, cinta Saya tetap sama kamu. Sampai nyawa ini berakhir cinta Saya tetap sama kamu tak ada yang bisa menggantikan posisi kamu walau Putri sekarang ada di antara kita."

__ADS_1


Naura tersenyum kecut dan mulai berkaca - kaca.


" Saya tak akan pernah kuat menjalani rumah tangga seperti ini, hanya berusaha tegar di depan keluarga Saya bahkan orang lain. Mungkin takdir kita seperti ini, jalan yang sulit untuk bersatu. " Ucap Naura yang sudah mulai terisak.


__ADS_2