
"Eh Bang Aldi, baru ketemu lagi. " Ucap Naura saat bertemu di Alun - alun kabupaten saat selesai Upacara bendera.
"Iya nih baru ketemu lagi, gimana kabar Ay?" Tanya Aldi.
"Alhamdulillah Bang sehat, tambah gemuk loh sekarang." Jawab Naura.
"Syukur alhamdulillah, Abang senang lihat nya."
Rifki dengan wajah yang sudah mulai berubah berjalan mendekati Naura dan langsung merangkul pundak istrinya.
"Sudah kan nggak ada acara lagi setelah upacara?" Tanya Rifki sambil menatap Aldi yang membuang mukanya ke samping.
"Sudah Yank, langsung balik lagi ke kantor." Ucap Naura.
"Ya sudah kalau begitu, yuk. " Ucap Rifki langsung menarik tangan Naura.
"Bang duluan ya." Ucap Niken.
"Iya." Ucap Aldi.
Sepanjang jalan di atas motor Rifki lebih memilih diam, sedangkan Naura pun memilih diam juga karena tahu bahwa suaminya tengah cemburu. Hingga akhir nya mereka sampai lah di depan kantor Naura.
Naura langsung turun dan berjalan, sedangkan Rifki langsung berbelok ke kODIM.
*****
"Sudah berapa kali Saya bilang jauhi Naura." Ucap Rifki pada Aldi.
"Tadi nggak sengaja ketemu, kan saling Sapa." Ucap Aldi.
"Harapan kamu meleset, kita nggak jadi cerai."
Aldi tersenyum kecut saat mendengar penuturan Rifki.
__ADS_1
"Syukur lah kalau begitu, dan kamu jaga baik - baik Naura. Jangan sakiti dia yang kedua kali nya, kalau itu terjadi Saya akan mengambil nya dari kamu." Ucap Aldi sambil berlalu.
******
Hingga malam tiba, Rifki masih tetap dengan wajah datar nya sambil memeluk Malik yang kepalanya bersandar di atas bahu kanannya yang sedang mulai mengantuk.
Sedangkan Naura sedang bermain dengan Ay, Naura sesekali melirik ke arah suaminya yang tidak mengajak bicara sepatah kata pun.
"Pah, Malik udah tidur kasihan dia seperti itu." Ucap Naura.
Rifki pun lantas masuk kamar menidurkan Malik, sedangkan Naura masih asik bermain bersama Ay.
Rifki pun kembali duduk di sofa sambil melanjutkan nonton televisi.
"Pah, dari tadi diam terus sama Mamah kenapa sih?" Tanya Naura yang akhir nya mulai kesal.
"Pikir saja sendiri." Jawab Rifki.
"Pikir gimana? Orang Mamah saja nggak tahu apa - apa tahu - tahu Papah diam saja." Ucap Naura kesal sambil mengangkat Ay masuk kedalam kamar nya.
Saat hendak akan tidur setelah menemani Ay dan Malik tidur. Terlihat Rifki sudah menutup rapat tubuh nya dengan selimut. Sehingga membuat Naura mendengus kesal.
Naura pun naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut nya. Naura pun diam dan menatap ke arah suaminya yang terbungkus selimut seperti kepompong.
Naura pun dengan tenang lebih memilih mengalah dan memeluk tubuh suaminya yang terbungkus selimut.
"Setiap hari apa yang Saya harapkan di waktu pagi adalah merasakan hal yang paling indah bersama prajurit pujaan hati. Menunggu pagi untuk prajurit hati yang selalu membuat hati ini selalu merasakan ingin lebih. Beberapa waktu setiap hari menunggu pagi hanya berharap semoga ada secerah cerita indah antara kamu dan Saya. Walau saat itu menjelang pagi hanya masih dengan cerita sedih hingga hati ini lelah dan tak ingin lagi berharap apa yang akan terjadi di pagi esok hingga malam berakhir berganti pagi. Mungkin ini jawaban dari doa setiap awal menyambut hari, Menunggu pagi untuk prajurit hati yang kini telah kembali ."
Naura mengeratkan pelukannya sedangkan di balik selimut Rifki mendengar apa yang katakan istrinya itu . Ada seutas senyuman saat merasakan dekapan Naura yang semakin erat.
Perlahan Rifki membuka selimut nya dan melirik ke arah wanita nya yang masih setia memeluk tubuh nya.
Terlihat cairan bening yang membasahi pipi nya dengan segera mengganti posisi nya sehingga Naura berada di bawah tubuh nya.
__ADS_1
Rifki menghapus air mata Naura yang keluar begitu saja.
"Maaf ya sudah mendiami Mamah." Ucap Rifki pelan sambil mengecup kedua mata Naura.
"Suami mana yang tidak cemburu melihat istrinya mengobrol bersama pria yang mencintai istrinya. Asal Mamah tahu, Papah takut akan kehilangan wanita yang benar - benar Malaika. Tak hanya sebagai Malaikat tapi sebagai Cahaya yang menemani pria yang berada di depan ini, untuk tetap terus berjalan menghadapi apa yang terjadi. Jujur takut untuk ke sekian kali nya, jangan katakan kata pisah yang akan membuat hati ini semakin hancur." Ucap Rifki.
Naura tersenyum dan mengecup bibir Rifki, di usap nya dengan Ibu jari bibir suaminya, terus di usap nya hingga kecupan kedua Naura darat kan.
"Tak akan pernah untuk mengkhianati Cinta, karena Cinta kita kuat walau beribu kawat berduri itu ada di kanan kiri kita. Tak ada niat pun setelah kembali nya prajurit pujaan hati kedalam pelukan ini untuk di ganti dengan Cinta yang baru di tanam. Tak ada kata Cinta untuk orang lain, yang hanya ada kata Cinta untuk kamu seorang sayang, I love you."
Bibir mereka pun saling bersentuhan hingga membuat suara yang berdecak, ******* dan belitan pun terjadi, hingga sama - sama saling terbuai dengan sekali ledakan kedua nya mencapai puncak yang tak bisa di ucap kan dengan kata - kata.
*****
"Ingat mulai sekarang jangan cemburu sama Bang Aldi." Ucap Naura sambil mengeringkan rambutnya setelah sama - sama mandi keramas di malam hari.
"Kalau mau jangan marah harus bisa menghindar dari Aldi." Ucap Rifki.
"Menghindar bagaimana? Kalau bertemu di jalan diam saja gitu. Bagaimana menghindar kantornya saja berhadapan." Ucap Naura sambil menyisir rambutnya yang sudah sedikit kering.
"Ya tetap saja kalau ketahuan ketemu suami kamu gimana nggak cemburu." Ucap Rifki yang berdiri di belakang Naura.
"Sudah ya Pah, Mamah capek berdebat terus, intinya kalau memang Mamah suka sama Bang Aldi dari kemarin tetap minta cerai walau Papah sudah cerai kan si Putri."
" Dan ingat, Mamah nggak mau lagi kejadian seperti." Ucap Naura kembali hingga membuat suami nya diam tak bergeming.
*****
"Bisa di bantu alat dengar tapi ini kemungkinan anak bapak sama Ibu bicara pun kurang lancar. Kemungkinan nanti kelainan itu akan tampak jelas saat nanti tumbuh dewasa." Ucap Dokter spesialis anak.
"Apakah bisa dengan terapi rutin?" Tanya Naura yang sambil menggendong Malik.
"Bisa kita ajar kan anak untuk bisa berinteraksi dan mengenal di sekitar agar saraf - saraf nya bekerja." Jawab Dokter Rahma spesialis anak.
__ADS_1
"Kalau bisa anak kami di pasang alat pendengar saja mulai sekarang." Ucap Rifki.
"Bisa, saya kasih rujukan ke Dokter THT dan dari sana akan dapat penjelasan lebih jelas lagi. Agar memeriksa semua saraf yang berhubungan dengan pendengaran nya hingga memeriksa dari segi pita suara anak kalian."