Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati

Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati
Mengambil keputusan


__ADS_3

Naura membuka amplop yang di berikan oleh Yanti pada nya, di bacanya sebuah tulisan tangan milik Mamah nya.


Teruntuk Naura anak ku...


Nak, sebelum nya maaf kan Mamah.


Karena Mamah, kamu terkena imbasnya.


Mungkin kalau dahulu tak terjadi, kita akan hidup bahagia.


Maaf kan Mamah sayang, karena Mamah kamu menjadi menderita. Mamah lebih memilih pergi demi mengurangi rasa beban hidup kamu.


Naura....


Kamu pantas bahagia, kejarlah ke bahagia an kamu.


Naura...


Sampai kan pesan ini pada semua saudara, berikan apa yang Mamah titipkan Pada Yanti. Biar mereka diam, dan tidak menyudutkan kamu.


Maaf, Mamah capek sayang.


Mamah lebih memilih pergi..


Naura melipat kertas tersebut, dengan mata yang berkaca - kaca.


" Mamah titipkan apa sama kamu? " Tanya Naura pada Yanti.


Yanti mengambil sesuatu dari tasnya dan memberikan pada Naura.


" Ibu memberikan semua nya, yang ini sebuah cek untuk Ibu Astri sebagai ganti di mana dulu keluarga nya nenumpang hidup, dan ganti rugi atas pencurian Kakek mba Naura. Dan yang ini warisan dari kakek pihak Papah mba Naura untuk di berikan pada Ibu Luna. Ibu selama ini tak makan untuk warisan yang di berikan mertua nya. Dan Ibu minta, rumah ini sudah Ibu jual dan berikan semuanya pada keluarga lain nya. " Ucap Yanti.


" Bukan nya ini sudah menjadi hak milik Mamah yang akan di warisan kan ke Saya." Ucap Naura.

__ADS_1


" Untuk mba ada sendiri, hasil keringat Ibu. " Yanti memberikan sebuah tabungan untuk Naura yang sangat banyak.


" Selama ini Ibu menabung untuk Mba Naura, Ibu sudah rencanakan semuanya."


*****


Acara 7 hari nya Ibu Yuli berjalan lancar, Naura sengaja mengumpulkan semua keluarga.


" Maaf untuk sebelum nya mengganggu waktu kalian semua. Dan Saya ucap kan terima kasih untuk bisa hadir di acara 7 hari nya Mamah Saya. "


" Kamu Mau bicara apa Naura? Lihat kami sudah nggak betah." Ucap Salah satu sepupu Papah nya Naura.


" Benar ponakan Saya yang cantik kamu Mau apa hah...? " Ucap Ibu Luna.


Ibu Lisa , Dani, Rena dan Rifki merasakan kesal terhadap saudara - saudara Papah nya Naura. Yang sampai saat ini masih tetap tak menyukai Ibu Yuli.


" Dari sini, Saya semakin yakin. Kalau kalian datang kemari bukan untuk berduka tapi untuk bersorak ria. Memang benar, apa yang di katakan Mamah. Kenapa dia melakukan seperti ini, karena kalian tak pernah menganggap Mamah Saya ada. Bahkan pernikahan Saya dengan suami yang kalian tahu suami Putri itu adalah aslinya suami sah Saya. Kalian sebut Mamah Saya pelakor, yang pelakor disini siapa, dan kalian bilang apa yang di miliki Mamah adalah bukan hasil kerja keras nya tapi warisan. Disini sebuah amplop di saksikan semuanya biar kalian tak membenci Mamah Saya, Bunda Astri ini cek senilai berapa banyak orang tua bunda saat itu membiayai Mamah sama Nenek Saya dan cek pengganti uang yang sudah di curi kakek Saya atas usaha kalian berempat. Dan Tante Luna rumah ini pemberian kakek, ini hasil penjualan rumah, mungkin ini lebih berhak buat Tante. Dan sisa uang disini untuk diam nya mulut kalian yang membenci Almarhumah Mamah Saya. " Ucap Naura sehingga membuat semuanya diam.


" Yank, apa kamu nggak salah ucap? Ini hak kamu bukan hak mereka? " Tanya Rifki.


" Saya tidak salah, dan ini pesan Mamah terakhir. Saya mensetujui pesan Mamah, karena kebencian ini dasar nya sudah jelas. Saya minta sebagai anak dari Yuliana stop untuk terus membenci nya biarkan Almarhumah Mamah Saya tenang disana." Ucap Naura.


" Naura, kamu pikir dengan ini bisa membalikkan semuanya? Kamu merendahkan saya." Ucap Ibu Luna.


" Tante mengaku rendah? Memang Tante rendah harga diri sama hal nya anak Tante." Ucap Naura.


" Naura kamu...!!! " Bentak Putri.


" Ponakan tak di untung kamu. " Bentak Ibu Luna.


" Silahkan ambil suami Saya, silahkan kalau kamu ingin dia Tapi ingat suatu saat kamu akan kena karma. Dan untuk saudara Saya disini, lihat saudara yang kalian anggap terhormat sebenarnya lebih rendah dan lebih hina. " Ucap Naura.


Semua nya yang tadi mencibir dan tak suka pada Mamah Naura kini kembali berbisik membicarakan Putri, dan tentang harta peninggalan.

__ADS_1


" Yanti kamu urus semuanya, Saya akan berkemas. " Ucap Naura.


" Nak seharusnya kamu jangan pergi dari rumah ini. " Cegat Ibu Lisa.


" Mah, disini Mamah meninggal kan uang hasil kerja keras nya untuk anak dan cucu nya dan segala yang berhubungan dengan mereka semua akan Saya tinggal kan. Karena saya pantas bahagia, tanpa ada nya hinaan dan memandang Saya sebelah mata. " Ucap Naura.


" Biarlah apa kata mereka, tapi ini hak kamu."


" Nggak mah, ini lebih dari cukup menutup mulut mereka dan membuka mata mereka yang tak pernah menganggap kami."


******


" Seharusnya kalian malu, seharusnya kalian itu tak seperti ini. Mana pikiran kalian, percuma kalian kesini datang untuk berduka. Kematian Yuli Saya anggap karena ulah kalian dia depresi karena masalah Yuli sampai Naura kena dampak nya. Dan terutama kamu Putri, kamu harus nya malu merebut suami sepupu kamu hingga hamil, yang pantas di cibir itu adalah keluarga Rahmat. Kamu juga Astri, orang tua kamu melakukan hal itu pada Yuli tak membuat kekurangan sedikit pun, masalah tentang kakek nya Naura itu memang kesalahan kakek nya jangan sampai mendarah daging. Kalian puas kan sekarang." Ucap Ibu Lisa.


" Kami semua menyukai kamu Lisa, bukan Yuli dan sifatnya juga kami lebih menyukai kamu." Ucap salah satu keluarga.


" Kenapa dia seperti itu? Semuanya gara - gara di rubah manusia yang bernama Luna dan Astri. " Ucap Ibu Lisa.


******


" Kamu akan kembali ke rumah kita kan?" Tanya Rifki.


" Nggak kak, Saya akan tinggal mencari rumah yang di kontrak." Jawab Naura.


" Itu rumah kamu, sudah atas nama kamu."


" Rumah itu biar untuk anak kita, Kakak mau sementara yang urus orang juga nggak apa - apa."


" Apa kamu ingin pergi meninggalkan suami kamu? "


Naura menatap suami nya dengan mata berkaca - kaca.


" Saya capek, seperti Mamah tapi Mamah melakukan hal yang tak semestinya terjadi. Mungkin ini jawab an setiap hari menunggu esok ada keajaiban untuk hubungan kita. Ternyata semakin di pertahankan semakin sakit, mungkin titik lelah Saya sudah berakhir sampai disini, Saya nggak sanggup lagi."

__ADS_1


"Kakak mohon, jangan pergi. " Rifki memegang kedua tangan Naura yang semakin terisak.


" Kita tetap rawat anak kita sama - sama, tapi kita tak bisa bersama. Percuma kita masih pertahankan ini semua. Saya juga tak akan pernah mengajarkan anak kita untuk membenci salah satu orang tua nya.


__ADS_2