
" Ini perlengkapannya, jadi Malik akan tinggal sama kamu." Ucap Putri.
Naura melihat 2 tas pakaian milik Malik dan juga beberapa pampers, Naura pun meletakkan Malik di atas kasur dan mengambil Ay dalam gendongan Rifki.
" Naura, semua siapa yang beli? Kakak kemarin ingin tanya nggak sempat saja." Tanya Rifki saat melihat begitu komplit perlengkapan milik Ay.
" Mamah Lisa yang kasih. " Jawab Naura, yang langsung memberikan ASI pada Ay.
" Maaf kan Kakak, waktu itu. " Ucap Rifki terhenti.
" Sudah kak jangan bahas ini."
" Kak, ayo kita pulang. Malik sudah aman sama Naura. " Ajak Putri.
" Nanti malam kakak balik kan kesini? " Tanya Naura.
" Iya kakak pulang lagi." Jawab Rifki.
" Eh.. nggak, Saya masih suka nyeri karena operasi dan rahim Saya habis di angkat perlu ekstra rawat." Ucap Putri.
" Saya juga punya luka operasi, bahkan luka cesar. Tapi jujur, Saya di rumah hanya bertiga kalau mereka menangis semua siapa yang akan bantu Saya. " Ucap Naura.
" Kan bisa satuan mereka di kasih ASI, kamu kan punya dua itu pem produksi ASI gitu saja repot. " Ucap Putri.
" Put, apa yang di katakan Naura benar, kakak akan tinggal disini. Kamu tinggal satu atap sama Naura juga tidak Mau kan? Jadi suami kamu harus ikut sama istri pertama. " Ucap Rifki.
" Kok begitu? Kakak kan pernah bilang setelah melahirkan akan bercerai tapi ini malah masih sama - sama. "
" Kamu ngerti nggak orang yang sedang hamil dan sedang nifas itu tidak bisa di talak, jadi kalau pun suami kamu akan talak istri pertama nya itu nanti. "
" Ah.. terserah. " Ucap Putri pergi keluar kamar.
Naura hanya terus membelai pipi Ay, dan terlihat wajah lelah pada Naura.
" Kakak akan kembali lagi, setelah mengantar Putri pulang. "
******
" Li, bagus yang mana? " Tanya Aldi saat memilih pakaian bayi perempuan.
" Bagus yang ini Bang." Jawab Liliana.
Aldi mengambil beberapa stel pakaian untuk anak Naura, dan beberapa sepatu bayi.
__ADS_1
" Bang, ini nggak kebanyakan? Anak kecil segitu cepat gede nya dan nggak bakalan ke pakai semua. "
" Nggak apa - apa, sudah niat kasih."
" Nanti kamu tolong berikan pada Naura, Abang nggak berani datang sekarang."
" Kenapa? " Tanya Liliana.
" Abang nggak akan dekati dia lebih saat ini, biar dia menyelesaikan masalahnya dulu." Jawab Aldi.
" Apakah Abang berharap menginginkan mereka cerai? "
Aldi hanya diam dan fokus masih mencari perlengkapan lain nya.
******
" Kak, tolong Malik dulu Saya kasih ASI untuk Ay dulu." Kata Naura saat tengah malam.
" Mah, kamu simpan stok ASI? " Tanya Rifki.
" Tadi sempat pompa, ada di kulkas, di hangatkan dulu di alat penghangat ASI. " Jawab Naura.
" Mah, ini juga dari Mamah Lisa? " Tanya Rifki.
Rifki sambil menggendong Malik pergi ke dapur mengambil ASI yang dingin lalu di hangatkan.
Rifki duduk di samping Naura, sambil melihat Ay yang sedang meminum ASI.
"Maaf, suami kamu belum kasih apa - apa untuk anak kita. Satu pakaian pun Saya belum membelikan nya. " Ucap Rifki.
" Sudah Pah, nggak usah di pikir kan. "
" Kalau kita jadi berpisah, bagaimana dengan Ay dan Malik? Apakah kamu akan begini sendiri. Kakak nggak sanggup, kakak mohon kamu jangan minta kata cerai. Demi Ay dan Malik. "
" Saya nggak sanggup lagi, terus terang begini saja demi Malik kan bukan demi Ay kakak bisa bermalam. Di pertahankan juga percuma, apa kakak akan ceraikan Putri? Malik juga butuh orang tua lengkap. Apalagi kondisi Malik, walau Putri menolak Malik tetap saja Malik tetap butuh orang tua lengkap. "
" Kakak ceraikan Putri, Malik ikut kita."
" Nggak, bersatunya kita tetap tak akan pernah mulus. Saya sudah capek, Saya ingin bahagia seperti kata Almarhum Mamah, Saya harus bahagia. "
" Apakah dengan adanya suami kamu sekarang disini kamu nggak bahagia? "
" Nggak, karena ini hanya demi Malik."
__ADS_1
Susu pun sudah hangat, dengan botol Rifki pun memberikan ASI dalam botol pada Malik.
" Kakak bisa bawa Malik pada Ibu nya, biar Saya kasih stok ASI untuk Malik. Nanti kakak ambil saja setiap pulang Dinas untuk ASI 24 jam. "
*****
Setelah Ay dan Malik tidur, Naura pun tidur tidak dengan Rifki yang duduk di depan kontrakan nya sambil menatap langit yang tertutup mendung sehingga tak nampak bulan dan bintang.
" kenapa kamu tidak ingin tetap bertahan sama Saya Naura? Cinta Saya dari dulu hanya untuk kamu. Kenapa harus kamu yang pergi, kenapa tidak Putri. "
Rifki membuka galeri ponselnya, diri nya membuka satu per satu photo Ay dan Malik. Dan menggeser kembali photo Naura dan diri nya setelah menikah.
" Kakak rindu kamu yang dulu, kakak rindu senyum an manis kamu, pelukan setiap pagi bahkan suara manja kamu."
****
" Sayang Papah berangkat Dinas dulu ya. " Ucap Rifki sambil mencium Ay dan Malik di dalam stroller bayi.
" Kakak cari baby sister ya buat anak kita."
" Nggak usah Kak, Saya akan hubungi Yanti saja. Dia kan nggak kerja sekarang. " Ucap Naura.
" Kamu yakin Yanti bisa? " Tanya Rifki yang ragu.
" Yanti kan pernah punya anak kak, tapi nggak lama anak nya meninggal dunia dan suami nya selingkuh lalu bercerai. " Jawab Naura.
" Ya sudah, kalau begitu. Dan Kakak harap pulang lah ke rumah kita. "
" Nggak kak, biar rumah itu sebagai tempat bertemu nya kita berdua dengan Ay dan salah satu dari kita bisa bermalam disana memberikan waktu untuk Ay. " Ucap Naura.
Rifki pun kembali mendung hingga akhir nya langsung pergi tanpa pamit pada Naura.
Naura pun tahu, suami nya marah pada diri nya, namun isi hati Naura sudah menolak.
" Maaf kan Saya kak. " Ucap Naura Pelan.
*****
" Li, aduh kalau suami Saya tahu ini dari Bang Aldi bisa marah. Kemarin juga melihat banyak barang di beli kan oleh Mamah Lisa suami Saya tiba - tiba melow.Ini lagi dari Bang Aldi bisa naik pitam. " Ucap Naura.
" Saya kemari hanya menuruti perintahnya jadi kamu terima ya. Urusan sama laki kamu pintar - pintar kamu saja lah bagaimana ngomong nya. " Ucap Liliana.
" Ya sudah tolong sampai kan terima kasih sama Bang Aldi. " Ucap Naura.
__ADS_1