
Dengan kursi roda Niken duduk dengan menatap tubuh suami nya yang kini terbaring lemah. Air Mata nya tak henti keluar, setelah 3 hari Rifki masih juga belum sadar.
"Mah, apa suami Saya akan bangun? " Ucap Naura sambil terisak.
"Pasti nak, pasti Rifki akan bangun." Ucap Ibu Lisa.
Ibu Astri pun setiap melihat Rifki selalu menangis, suami nya tak bisa berbuat apa - apa melihat kondisi terkini anak nya.
"Naura takut mimpi itu jadi nyata, dalam mimpi Kak Rifki bilang dia akan pergi dan meminta Naura jaga Ay dan Malik." Ucap Naura.
Hiks... hiks.. hiks..
"Naura, Bunda belum siap Nak kalau Rifki pergi. Hiks... hiks.. hiks.. " Isak Ibu Astri.
"Kak, bangun semua nya ingin Kakak bangun." Ucap Naura.
Naura mencium punggung tangan Rifki yang hangat, setetes air matanya jatuh ke punggung tangan nya.
******
"Kami bawa Malik. " Ucap Ibu Luna datang bersama Putri.
"Tapi Malik tidak bisa jauh dari Naura." Ucap Ibu Astri.
"Tante Saya Mamah nya, dan bagaimana Naura akan merawat Malik sedang kan kedua kaki nya saja lumpuh apalagi kedua pengasuhnya meninggal dunia." Ucap Putri.
"Dari pada melihat Naura sengsara mengasuh kedua anak nya dengan tubuh yang cacat lebih baik kami bawa Malik." Ucap Ibu Luna.
"Tante Putri, Malik belum bisa lepas dari ASI Saya. Kalian boleh bawa Malik tapi tunggu setelah lepas ASI. Bagaimana juga Malik anak Putri." Ucap Naura.
"Lama, kalau anak nya di ajar kan ASI lain pasti bisa kecuali Sufor. Saya juga sudah mendapatkan Donor ASI nya." Ucap Putri.
"Tapi.. " Ucap Naura terpotong.
"Alah banyak ngomong, Bund bawa Malik." Ucap Putri.
"Put, dari dulu saja kamu asuh Malik. Sekarang anak nya sudah mengenal orang dan kamu orang asing bagi Malik sekarang. Malik akan takut sama kalian berdua." Ucap Ibu Astri.
"Astri, anak kecil nanti lama - lama juga akan akrab, namanya juga pertama. Dari pada disini Naura cacat, Rifki koma pasti sebentar lagi juga mati. Lebih baik kami ambil Malik, nggak bakalan sengsara hidupnya." Ucap Ibu Luna.
"Astaghfirullah Luna, mulut kamu itu renyah sekali." Bentak Ibu Lisa.
"Kenapa Lisa? Fakta. " Ucap Ibu Luna.
"Kalau kamu ingin bawa Malik bawa saja, jangan bilang seperti itu." Ucap Ibu Lisa marah.
__ADS_1
Ibu Luna membawa Paksa Malik yang sedang di gendong Ibu Astri. Malik menangis saat dirinya di bawa oleh Ibu Luna.
Naura tak bisa berbuat apa - apa, karena Putri adalah Ibu kandung nya. Hanya memikirkan Malik yang tak bisa jauh dari nya.
"Putri, kalau Malik butuh sesuatu dan sama kamu tidak betah kamu kembali kan Malik sama Saya. Bagaimana pun Malik secara hukum adalah anak saya." Ucap Naura.
"Tapi Saya Ibu biologisnya, so Malik bakalan betah sama saya." Ucap Putri langsung pergi menyusul Ibu Luna yang sudah jauh.
Ibu Lisa dan Ibu Astri hanya mengelus dada melihat tingkah Ibu dan anak tersebut.
"Saya cacat ya, pantas kalau mereka anggap Saya tidak bisa apa - apa." Ucap Naura sedih.
"Jangan berkata begitu nak, mereka memang bukan manusia biarlah suatu saat nanti Allah akan membalas mereka." Ucap Ibu Lisa.
******
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Aldi yang masih mengenakan seragam nya berjalan ke arah Naura yang kini sedang bersandar di kepala ranjang.
"Abang bawakan buah,semoga suka." Ucap Aldi sambil meletakkan keranjang buah nya.
"Kaki nya bagaimana?"
"Saya lumpuh Bang, dan kemungkinan akan cacat seumur hidup."
"Mukzijat pasti ada."
"Abang sudah lihat Kak Rifki? " Tanya Naura mengalihkan pembicaraan.
"Belum, setelah dari sini Abang akan menjenguknya. " Jawab Aldi.
"Abang mau sekarang sama saya?"
"Kamu ingin bertemu suami kamu?"
Naura menganggukkan kepala nya. Aldi pun lalu mengangkat tubuh Naura dan di duduk kan di kursi roda.
Aldi mendorong Naura di kursi roda menuju kamar rawat Rifki. Dengan sesekali obrolan kecil terlontar diantara kedua nya hingga tak terasa sampai lah pad kamar rawat Rifki, yang masih penuh dengan alat medis yang terpasang di tubuh nya.
"Kak, Saya datang sama Bang Aldi. Kakak masih betah tidur, apa tidak rindu sama saya?" Naura mengusap wajah suami nya yang tampak berwajah pias.
Aldi melihat Rifki dengan rasa Yang iba, apalagi wanita yang diam - diam dirinya masih menyimpan rasa menitik kan air matanya.
__ADS_1
"Kak, maaf kan saya. Malik di bawa sama Putri, bagaimana pun Malik anak kandung nya maaf kan saya tidak bisa mempertahan kan Malik."
Aldi mengusap punggung Naura yang terisak, dan terus memegang tangan suami nya.
"Kamu harus kuat Naura, Rifki pasti siuman." Ucap Aldi.
"Saya akan selalu menunggu Bang, setiap pagi Saya berharap suami Saya akan bangun di kala matahari terbit. "
******
"Diam....!!! " Teriak Putri.
"Bunda bisa buat diam Malik nggak Sih? Dari tadi nangis terus." Ucap Putri.
"Lihat baby sister nya juga sudah kewalahan, susu dari Ibu susu bayaran itu juga nggak cocok." Ucap Ibu Luna.
"Lagian kalian kenapa bawa Malik kemari, sudah tahu mereka merawat Malik." Ucap Pak Rahmat.
"Ayah, Naura cacat terus Rifki masih koma. Lantas Rifki meninggal dunia, Naura janda terus cacat siapa yang akan merawat Malik, apalagi teman nya Rifki itu si Aldi pasti kalau Naura janda akan di nikahi nya. Lantas Malik anak Putri, pasti di telantarkan." Ucap Ibu Luna.
"Apa kalian nggak sadar, Malik sebenarnya di telantarkan sejak bayi oleh Ibu nya." Ucap Pak Rahmat.
"Ayah, kemarin kan berbeda. Saya pikir lagi Saya ambil Malik kembali, kalau masih ada umur panjang kan Saya masih bisa dekati Papah nya, kalau nggak bagi hasil harta dong peninggalan Papah nya Malik." Ucap Putri.
" Ayah sudah capek, nggak mau tahu lagi masalah kalian." Pak Rahmat pun lantas meninggal kan istri dan anak nya.
"Urus saja Ayah perusahan kita, biar semakin pesat." Ucap Ibu Luna.
******
"Ay sayang, haus ya nak? " Naura memberikan ASI langsung pada Ay di temani Ibu Lisa dan Rena.
"Mah, Malik cocok tidak ya sama ASI nya?" Ucap Naura.
"Semoga saja nak. " Ucap Ibu Lisa.
"Si Putri sama Ibu nya itu aneh, kenapa nggak dari dulu saja di asuh malah sekarang di ambil. " Ucap Rena kesal.
"Walau Saya cacat juga, Saya masih bisa kasih ASI."
"Alasan saja dia. " Ucap Rena.
"Sudah, lebih baik sekarang kamu fokus sama Ay dan kondisi kamu sekarang. Malik sama Ibu nya bukan orang asing.Jadi kamu yang tenang sayang." Ucap Ibu Lisa.
"Sebenarnya Mamah juga sama Naura, nggak tenang memikirkan Malik. Walau Malik dan Ay bukan cucu Mamah tapi Mamah sayang sama Ay dan Malik."
__ADS_1