Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati

Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati
Biarlah Kami Bersatu


__ADS_3

" Tante, bagaimana sih calon istri Saya di dalam sama pria lain. Apa Tante nggak bisa menolak." Ucap kesal Noval.


" Sudah Noval kita biarkan untuk malam ini kamu tahu anak Tante drop." Ucap Ibu Yuli.


" Saya nggak jamin kalau mereka tidak ngapa - ngapain."


" Kamu bilang apa Noval? Jangan asal bicara kamu, Saya tahu Naura tidak seperti itu." Ucap Ibu Yuli.


" Laki - laki sama perempuan." Ucap Noval.


" Stop Noval, Tante tahu Naura seperti apa dan Rifki seperti apa."


" Jadi bagaimana pernikahan Saya sama Naura? "


" Kamu bisa diam tidak Noval, Tante juga pusing."


******


" Ayah apa tidak bisa seret Rifki untuk pulang? " Ucap Astri.


" Jujur Ayah pernah lihat Rifki turun dari lantai kamar Naura saat jam 5 pagi." Ucap Pak Ilham.


" Ja - jadi Ayah tahu? " Ucap Ibu Astri.


" Iya."


" Terus Ayah ingin menikahkan." Ucap Ibu Astri.


" Apa kita tidak keterlaluan sama mereka Bund." Ucap Pak Ilham.


" Kenapa Ayah tiba - tiba bicara seperti itu, apa Ayah merasa kasihan sama anak mantan pacar Ayah itu."


" Kamu bicara apa sih Astri, itu masa lalu yang begitu sangat tak ingin di ingat. Malah sekarang kamu ungkit lagi." Ucap Pak Ilham kesal.


******


" Mau makan? " Tanya Rifki.


Naura menggelengkan kepalanya, dan terus menggenggam tangan Rifki.


" Dari pagi belum makan, jadi tadi pingsan." Ucap Rifki kembali.


" Saya sudah nggak lapar setelah melihat kakak." Ucap Naura sambil tersenyum.

__ADS_1


" Kakak sayang sama kamu, kakak nggak Mau kehilangan kamu sayang." Ucap Rifki.


" Sama Kak, semoga kedua orang tua kita mengerti dengan sikap kita." Ucap Naura.


Rifki mencium kening Naura, lalu turun ke bibir nya dan menautkan kening nya.


Dari balik pintu Ibu Yuli menyaksikan semuanya dengan segera meninggalkan kamar Naura.


" Ya Allah jujur Saya nggak tega melihat ini semua, tapi jujur Saya tidak rela anak Saya menikah dengan anak orang yang dulu menghina Saya habis - habis an." Ucap Ibu Yuli.


Flashback On.


" Eh.. Astri, lihat bukan nya itu anak tukang buruh cuci di rumah kamu? " Tunjuk Luna.


" Benar dia bisa kuliah disini berkat bokap gue." Ucap Astri.


" Wah.. kalau begitu dia itu numpang hidup sama keluarga kamu dong." Ucap Luna.


" Yaeyalah, dan lihat saja tas yang dia pakai dia mana mampu beli tas semacam itu. Dia itu pakai tas bekas nyokap Saya. " Ucap Astri.


Saat Yuli berjalan melewati Luna dan Astri dengan sengaja Luna kakinya menghalangi langkah Yuli sehingga terjatuh dan Astri serta Luna tertawa terbahak - bahak.


Hahahahah


" Kalian kenapa sih selalu bully Saya, selama ini saya tidak pernah berbuat jahat sama kalian." Ucap Yuli.


" Kamu memang tidak jahat tapi kamu itu sudah numpang hidup sama kedua orang tua Saya, apalagi kamu hanya seorang pembantu, Ibu buruh cuci nggak pantas kuliah di tempat elit kayak begini." Ucap Astri.


" Saya memang nggak pantas mungkin di mata kalian. Tapi Saya punya hak bisa belajar di sini. Saya dan ibu Saya juga manusia yang punya perasaan dan kami pun sebenarnya tidak mau bergantung hidup pada kedua orang tua kamu. Tapi mereka memaksa, dan karena ibu Saya sudah mengabdi lama sama keluarga kamu mungkin ini hadiah buat kami." Ucap Yuli.


" Tapi dengar - dengar kamu nggak punya Ayah ya dan hasil di per******sa." Sindir Luna.


" Saya juga harus hati - hati sama Bokap takut jatuh cinta sama ibu kamu." Ucap Astri lalu meninggalkan Yuli dengan menyenggol bahu nya hingga terdorong ke belakang.


" Saya memiliki Ayah, memang hidup Saya tidak seberuntung kalian." Yuli sambil meneteskan air matanya.


" Iya Ayah yang juga seorang pencuri, preman dan Ibu kamu itu di tinggal begitu saja tanpa tanggung jawab." Ucap Luna.


" Sudah di kasih hati, eh Ayah nya pencuri preman lagi. " Ucap Astri.


" Apalagi, Ayah nya sudah bikin usaha kami itu bangkrut sudah menguras habis modal usaha kita." Ucap Luna.


" Nggak tahu malu cih.... " Ucap Astri.

__ADS_1


Flashback Off


Ibu Yuli menghapus air matanya, dan memandang photo suami nya.


" Memang hidup Saya beruntung berkecukupan bukan hasil kerja keras. Saya bisa seperti ini karena menikah sama kamu mas, dan setelah Ayah kamu meninggal dunia harta warisan perusahaan jatuh ke tangan Saya. Mungkin pantas mereka selalu hina Saya hingga sampai Naura yang kena imbasnya Saya hanya hidup dari kerja keras orang lain."


******


Naura tertidur memeluk tubuh Rifki, namun malam ini Rifki tak bisa memejamkan matanya seperti malam - malam kemarin.


Rifki terus memandang wajah kekasihnya, di belainya pipi nya ada sebuah senyuman dari Rifki saat memandang wajah kekasihnya.


" Apakah esok - esok kita masih bisa seperti ini sayang? Itu yang kakak takutkan di setiap hari. Kakak sangat takut tak bisa lagi memeluk kamu tak bisa lagi memandang kamu lebih dekat. Itu yang kakak takutkan setiap hari."


******


Adzan Shubuh berkumandang Rifki baru bisa tertidur namun Rifki merasakan ada yang membangunkannya. Dan saat mata nya terbuka dan masih memerah melihat Ibu Yuli berdiri tepat di samping tempat tidur.


" Bangun dan pulang lah." Ucap Ibu Yuli pelan .


Rifki pun bangun dan menyingkirkan tangan Naura dari atas tubuhnya. Dan berjalan meninggalkan kamar Naura.


" Rifki." Panggil Ibu Yuli.


" Iya Tante." Ucap Rifki.


" Tante sangat memohon sama kamu untuk tinggal kan Naura. Anak Tante tak pantas bersanding sama kamu apalagi kamu keturunan keluarga terhormat. Tante bukanlah wanita baik - baik."


" Tante kenapa berkata seperti itu? " Tanya Rifki.


" Mungkin alasan Ayah Bunda kamu benar kenapa melarang anak nya berhubungan dengan anak Tante." Jawab Ibu Yuli.


" Tante saya mencintai Naura, 15 tahun Tante kami menjalani hubungan tanpa restu dari Tante sama Ayah Bunda. Sampai kita sudah dewasa dimana fase untuk kita menikah. Saya mohon sama Tante, lupakan masa lalu Tante sama Ayah , Bunda, Tante Luna dan Om Rahmat.Jangan terus kami yang jadi korban.Kami pantas bahagia, kami pantas bersatu."


Ibu Yuli diam dan membalikkan tubuhnya.


" Pulanglah, mungkin semalam kedua orang tua kamu itu tidak bisa tidur. " Ibu Yuli berjalan masuk kembali ke kamarnya.


Sedangkan dari balik pintu kamar, Naura mendengar semua ucapan Rifki dan Mamahnya. Naura terbangun saat merasakan pelukan Rifki tak lagi dia rasakan.


Naura menutup pintu kamarnya sangat pelan,dan lantas kembali berbaring di atas tempat tidur. Dan memeluk bantal yang tadi di tiduri oleh Rifki dengan meninggalkan wangi perfume milik Rifki yang masih membekas.


" Semoga Saya masih bisa tetap mencium aroma wangi ini." Ucap Naura sambil mencium bantal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2