
" Ibu.... bangun bu... bangun... hiks... hiks... bangun bu..!!! " Yanti berteriak histeris saat melihat Ibu Yuli tergeletak terkujur kaku dengan mulut berbusa.
" Hiks.. hiks... Ibu, kenapa Ibu lakukan ini Bu... kasihan Mba Naura Bu... hiks... hiks... "
Yanti dengan segera berlari meminta bantuan dan menghubungi polisi.
*****
Praaannggg
Naura terduduk lemas di samping nakas, setelah mendengar kabar tentang Ibu nya. Air matanya tumpah saat mendapatkan kabar tentang Ibu Yuli yang meninggal dunia akibat over dosis.
Terdengar bunyi ambulance tepat di depan rumah nya, para tetangga pun berdatangan dan semua keluarga pun tahu tentang meninggalnya Ibu Yuli.
Hiks..hiks... hiks...
" Mamah...!!! " Isak tangis Naura di depan jenazah Ibu Yuli.
" Yang sabar ya mba Naura." Ucap Yanti sambil terisak.
Ibu luna dan Pak Rahmat pun datang bersama Putri, dan terlihat Ibu Astri pun bersama Pak Ilham sedang duduk.
Naura tak bergeming saat jenazah Ibu nya akan di mandikan, Rifki langsung berlari masuk saat mendengar kabar Ibu Mertuanya meninggal dunia.
" Yank." Rifki memeluk tubuh Naura.
" Mamah. " Ucap Naura pelan.
" Iya Mamah telah tiada."
" Mamah pergi meninggal kan Saya, perlahan semua orang yang Saya cintai akan pergi satu persatu."
Rifki memeluk erat tubuh Naura, Dani dan Rena di ikuti Ibu Lisa pun datang melayat. Kedatangan Ibu Lisa di sambut hangat oleh keluarga almarhum Papah Naura.
" Sayang." Ibu Lisa menghampiri Naura yang sedang di peluk Ibu Lisa.
Naura menatap ke arah Ibu Lisa dan menatap ke semua saudara Papah nya.
" Kalian semua pasti tersenyum melihat Mamah Saya terbujur kaku. Saya tahu disini bersorak senang karena Saya paham semuanya banyak yang tak suka sama Mamah. Kalian semuanya hanya mengucapkan perpisahan terakhir saja ya kan? " Ucap Naura sambil meneteskan air mata.
" Nggak Nak kamu salah, Mamah yang sakit tapi Mamah nggak pernah membenci Mamah kamu sampai ajalnya menjemput. Mamah hanya berpikir, mungkin Mamah ada kekurangan demi Allah Mamah nggak pernah seperti itu. " Ucap Ibu Lisa.
" Mamah bilang tidak, tapi mereka tante dan om Saya bahkan saudara lain nya. Mamah melakukan ini pantas karena tertekan, Saya pun sakit merasakan nya dengan merusak rumah tangga Saya yang tak tahu apa - apa sebagai anak."
Hiks... hiks...
" Sudah ya.. Mamah sudah pergi, jangan bicara yang nggak - nggak." Ucap Rifki.
" Kenapa Kak, kenapa membela? apa karena biang masalah nya kedua orang tua kakak dan mertua kakak. Ingat kalau bukan karena mereka dan semuanya disini, kalau kalian merasakan bahagia di saat berduka silahkan kalian pergi." Teriak Naura.
" Naura kamu nggak boleh berkata seperti itu." Ucap Rifki.
__ADS_1
" Benar Nak." Ucap Ibu Lisa.
" Tinggal kan Saya sendiri." Ucap Naura.
Jenazah Ibu Yuli pun selesai di mandikan, dan di kafani. Setelah di sholati Jenazah Ibu Yuli di makamkan di dekat makam suami nya.
Perlahan tanah pun menutupi jenazah Ibu Yuli, yang kini sudah tertutup rata. Taburan bunga pun rata menutupi tanah.
Rifki terus berada di belakang Naura, hanya Putri yang menatap tak suka melihat semuanya.
Sampai semua pelayat pun pergi, Dani lalu menghampiri Naura yang Masih duduk di depan pusara Mamah nya.
" Mamah tidur ya Bang, baru kemarin Mamah mengobrol sama Saya. Kini Mamah sudah tidur cantik." Ucap Naura.
" Kita pulang yuk, kasihan kamu sedang hamil." ucap Dani.
" Sekarang hanya calon anak Naura yang akan menemani Naura. Nanti juga satu persatu akan pergi begitu juga suami Saya. "
" Abang nggak akan tinggal in kamu." Ucap Rifki.
" Mungkin Mamah benar, pergi jauh itu lebih baik."
******
Naura bersandar di kepala ranjang, saat sedang bersama Rifki Liliana datang masuk, dan teman - teman satu kantor duduk di kursi bawah tenda.
" Naura, yang tabah yang ikhlas." Ucap Liliana.
" Apa yang terjadi sama Mamah kamu, jangan punya pikiran jelek atau benci."
" Saya ikhlas Mamah pergi, ini mungkin yang terbaik buat mamah." Ucap Naura.
" Bang Rifki, tolong hibur Naura dulu. Bagaimana pun sekarang Naura lebih memerlukan Abang." Ucap Liliana.
" Pasti Li, makasih sudah datang melayat. "
" Sama - sama Bang. "
" Yank, Kakak temui tamu di luar dulu."
Naura menganggukkan kepala nya dan Rifki pun keluar kamar.
" Naura, hubungan kamu kembali membaik?" Tanya Liliana.
" Seperti itu lah sekarang, Saya sekarang pasrah saja setelah apa yang menimpa Mamah. Mungkin bebannya sangat berat." Jawab Naura.
*****
" Kak, ayo pulang. Saya capek sama ingin rebahan." Rengek Putri di depan Dani, Lukman dan Arya, bahkan Aldi pun datang dan melihat.
" Kalau Mau pulang, Sana pulang. Saya akan disini sampai 7 hari. " Ucap Rifki.
__ADS_1
" Kakak ini bagaimana sih, jadwal nya sama Saya. "
" Dalam hal ini nggak ada jadwal, Saya menemani Naura."
Aldi melirik ke arah Dani, dan hanya menggelengkan kepala nya. Lantas Aldi berdiri pamit ingin ke kamar kecil.
Aldi lebih memilih menghindar mendengar perdebatan kecil teman nya, dan mencari sosok Naura.
Terlihat Naura sedang duduk di depan meja makan sambil melamun.
" Naura." Panggil Aldi.
" Bang, baru datang? " Tanya Naura.
" Dari tadi hanya nggak enak ingin masuk tadi masih banyak tamu." Jawab Aldi.
" Saya turut berduka cita."
" Terima kasih Bang."
" Bang Aldi." Ucap Liliana.
" Loh kok kamu belum pulang?" Tanya Aldi.
" Sengaja Saya ingin menemani Naura dulu." Jawab Liliana.
" Bang, keluar lah. Saya nggak mau Bang Rifki marah." Ucap Liliana.
" Naura, Abang ke depan lagi." Ucap Aldi.
" Iya Bang."
*****
" Ayah Bunda, lihat kak Rifki tetap berada di rumah Naura. Apa nggak bisa Ayah sama Ibu bujuk suruh pulang? " Ucap Putri.
" Kamu untuk saat ini ikhlas dulu ya, Rifki tak akan pernah pergi saat seperti ini." Ucap Ibu Astri.
" Benar Putri, kamu bermalam saja disini. Pasti suami kamu besok kemari." Ucap Pak Ilham.
" Ya sudah lah. " Ucap Putri kecewa.
*****
" Mba Naura. " Panggil Yanti.
" Kenapa Yanti? " Ucap Naura.
" Ini ada surat dari Ibu, sebelum meninggal dunia Ibu memberikan nya pada saya." Ucap Yanti.
" Terima kasih yanti." Ucap Naura.
__ADS_1