Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati

Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati
Berat Masalah Hidup


__ADS_3

" Kakak Pulang dulu." Ucap Rifki saat jam menunjukkan pukul 2 dini hari.


" Pulang ke rumah Putri? " Tanya Naura.


" Nggak, kakak akan pulang ke rumah kita." Jawab Rifki.


" Saya akan selalu menunggu esok pagi setiap hari. Dari dulu berharap ada yang berubah suatu yang indah. Tapi itu semuanya belum terjadi."


" Kasih kesempatan kakak, agar bisa kembali seperti dulu. "


Naura menggelengkan kepala nya, dan menatap kedua mata suami nya.


" Salah satu harus mengalah, salah satu harus ikhlas. "


" Kakak tahu, tapi percaya lah hanya kamu yang kakak sayangi."


Setelah Rifki pergi, Naura terus menatap jalanan hingga mobil berjalan sangat jauh dan hilang dari pandangan mata.


Naura menatap rumah mertua nya ada seutas senyuman yang hanya Naura tahu arti dari senyuman tersebut.


Langkah kaki Naura pun masuk ke dalam rumah nya, Ibu Yuli dengan mata yang berkaca - kaca menatap anak nya menutup pintu rumah dengan sangat pelan.


" Mamah. " Ucap Naura saat membalikkan badannya.


" Sampai kapan kamu akan jalani ini semuanya? "


Naura hanya tersenyum menatap Mamah nya yang berkaca - kaca.


" Mah, mungkin ini jalan Naura. Mungkin memang hubungan Naura dengan suami memang harus seperti ini."


" Mamah ingin kamu tinggal kan Rifki, lepaslah dari nya lalu hidup mandiri. Mamah akan bantu kamu dan cucu Mamah."


" Naura ingin lepas, tapi Naura berat Mah. Sakit hati ini, sesak hati ini tapi Naura sulit melepaskan Kak Rifki. Dia seperti ini bukan karena ulah nya tapi Putri yang membuat kami seperti ini."


" Bagaimana pun dia seorang pria, apakah hanya sebatas tanggung jawab saja. Mamah nggak sanggup kamu seperti ini."


" Saya akan berjalan sesuai alur yang di buat. Bagaimana nanti alur nya mah."


*****


Rifki berjalan memasuki kamar nya, di mana diri nya selalu menghabiskan waktu bersama Naura dan kini kamar ini entah kapan akan di tempat bersama.


Rifki menatap photo pernikahan nya, dan tiba - tiba dari sudut matanya terlihat sedikit buliran air mata.


" Saya mungkin sekarang cengeng, mungkin bisa di katakan pria yang lemah dan breng****k.Hati Saya juga sakit seperti ini, andai saat itu tak menuruti aja kan Putri kita tidak seperti ini."


Rifki pun meletakkan kembali figura photo nya, dan dengan mengambil sebuah obat yang berada di lacinya meminum beberapa butir obat penenang hingga diri nya memejamkan mata.


******


" Jam segini kenapa masih belum lihat Rifki? " Tanya Arya.


" Ijin kali Bang." Ucap Lukman.

__ADS_1


" Siapa yang ijin? " Tanya Aldi yang baru datang.


" Bang Rifki belum kelihatan batang hidungnya." Jawab Lukman.


" Bro, kok Saya seperti nya sering lihat Rifki nggak sama istrinya malah sama teman istri nya sih? " Tanya Arya.


" Kamu kepo banget sih jadi pria kayak emak - emak. " Jawab Aldi.


" Nggak, seperti ada masalah deh." Ucap Arya.


" Mau dia ada masalah atau apa Saya nggak peduli." Ucap Aldi.


******


" Eh Naura, kamu tuh jangan rakus ya. Kita ini berbagi suami, apa. kamu nggak mikir apa Saya juga sedang hamil anak nya. Seharusnya dia itu malam tadi pulang ke rumah Saya bukan sama kamu." Bentak Putri.


" Kamu pikir suami kita itu tadi malam bermalam dengan Saya apa? Kamu coba hubungi dia ada dimana." Ucap Naura.


" Kamu jangan sok ngelak, pasti kamu rayu Kak Rifki untuk meninggalkan saya."


" Tanpa di rayu juga, suami kita akan datang sendiri kemana."


" Kamu jangan macam - macam, suatu saat suami kita akan meninggalkan kamu."


" Silahkan kalau kamu mau rebut dia dengan cara kamu. Dan ingat karma berlaku.'


" Kamu sumpahin Saya?? "


******


Tok... Tok....


" Kak...!! "


Tok... Tok..


Ceklek


Rifki dengan wajah yang tampak kusut melihat Putri sudah berdiri di depan nya dan menerobos masuk.


" Kenapa tadi malam nggak pulang? "


" Maaf, tadi malam bermalam disini."


" Bohong, pasti bersama Naura."


" Kalau iya bersama Naura lantas apa masalahnya? "


" Kak, Saya juga istri Kakak, Saya juga berhak di beri nafkah bathin sama Kakak. Saya itu istri kakak sekarang, bukan Naura saja. Kak ingat ini ada anak kakak juga, bukan Naura saja yang hamil. Saya hanya butuh suami yang ada di samping Saya, nafkah bathin kak, tak hanya materi saja."


" Maaf kan Saya, dari awal Saya belum bisa. kejadian ini juga salah kamu, ini juga dampak akibat ulah kamu sendiri."


" Kak, memang Saya salah. Tapi Saya mohon hargai Saya juga sebagai istri kakak. Saya hamil anak kakak, Saya juga butuh belaian dari kakak."

__ADS_1


Rifki mengusap wajah nya dengan kasar, lalu menatap mata Putri berkaca - kaca.


" Baik mulai sekarang kakak akan berlaku adil."


******


3 hari sudah tanpa kabar dari Rifki, dan 3 hari sudah Rifki yang antar jemput Putri. Naura melihat semua nya, dan hanya bisa menatap dari jauh dengan mata berkaca - kaca.


" Kamu yang sabar." Ucap Liliana.


" Iya Li, Saya insya Allah kuat. " Ucap Naura.


Rifki dari jauh menatap kantor Naura, berharap bisa melihat hanya dari jauh. Dani pun mendekati adik ipar nya.


" Pasti sangat berat membagi hati, di mana saat ini kamu berada untuk melupakan salah satu dulu."


" Saya juga memang harus adil, ini resiko saya."


*****


" Naura apa benar suami kamu berpoligami?" Tanya Pak Sarif kepala Badan Keuangan Daerah.


" Kata siapa Pak? "


" Ada saja yang bilang, dan kamu tahu bila di suami kamu bocor juga, dia juga kenapa sanksi. Ingat kita sama - sama seorang Abdi Negara tak boleh memiliki istri atau suami lebih dari satu."


" Maaf kan kami Pak. "


" Untuk suami kamu itu urusan di kesatuan nya, disini biar kamu urusan Saya. Dan ingat Naura, kalau sampai tembus ke atas kamu bisa urusan lebih ribet nanti nya. Jadi Saya akan redam masalah kamu. Dan Saya sangat perihatin atas apa yang di lakukan oleh orang ketiga tersebut.'


" Terima kasih Pak."


" Saya harap masalah kamu bisa di atasi."


*****


" Alhamdulilah Pak Bu bayinya sehat.' Ucap Dokter kandungan saat Putri memeriksa kandungan nya.


Rifki menatap bahagia melihat janin yang masih kecil, tampak berubah saat melihat anak nya yang masih dalam kandungan istri nya.


" Ibu jangan capek - capek ya, karena kandungan ibu juga sangat lemah."


" Terus bagaimana solusinya? " Tanya Putri.


" Ibu ekstra istirahat." Jawab Dokter kandungan.


" Kamu jangan capek - capek ingat pesan Dokter." Ucap Rifki sambil mengusap perut Putri.


" Pasti sayang demi anak kita. "


****


Putri dan Rifki keluar dari ruang pemeriksaan dan melihat Naura yang sedang menunggu di kursi pasien. Rifki beradu pandang dengan Naura yang hanya sendiri an untuk mengecek kandungan nya.

__ADS_1


Saat Rifki akan berjalan menuju Naura, Putri menghalanginya.


" Ingat kak, kalau lagi sama Saya jangan bawa masuk Naura, begitu sebaliknya. "


__ADS_2