
"Mba Saya pulang dulu ya. " Ucap Yanti.
" Iya Yanti, makasih sudah seharian jaga Ay." Ucap Naura.
"Sama - sama mba."
"Maaf pekerjaan kamu bukan yang dulu seperti sama Mamah. Tapi misal kamu ingin berhenti cari yang lebih lagi nggak apa - apa kok, kamu tinggal bilang saja."
"Saya senang mba bisa kerja merawat Ay, disini Saya bisa melepas kangen anak Saya yang sudah tiada."
"Kamu kuat, kamu bisa hidup tanpa suami. Saya pun berharap Saya akan seperti kamu kuat."
"Mba, yang mba lihat tidak seperti yang mba bayangkan. Hati Saya sebenarnya menangis, tapi Saya berusaha untuk tegar. Setegar nya Saya sama seperti mba tak bisa menompang tubuh ini suatu saat nanti. Tapi Saya masih merasakan bahagia tidak seperti dulu sakit." Ucap Yanti.
"Ya sudah mba Saya pamit." Ucap Yanti.
"Hati - hati ya." Ucap Naura.
Saat Yanti akan pergi, Rifki datang dengan mengendarai motor nya. Yanti pun tersenyum pada Rifki dan membalas nya.
"Ay sudah tidur?" Tanya Rifki dengan tangan Naura mencium punggung tangan suaminya.
"Sudah." Jawab Naura langsung berlalu.
Rifki pun menutup pintu rumah dan menguncinya, saat Naura yang hendak berganti pakaian nya dengan pakaian tidur Rifki langsung memeluk tubuh Naura yang hanya berbalut dalaman nya saja.
"Kak.. lepas." Ucap Naura saat Rifki tengah mengendus tengkuk leher nya sehingga merasakan geli.
Tangan Rifki yang sudah tak tinggal diam, membuat Naura ingin melepas dari belitan tangan kekar Rifki yang memeluk tubuhnya dengan tangan satu nya yang sudah kesana kemari.
"Ka.. -kakak ah... le -lepas ih... " Naura yang sedikit mulai berontak.
Tanpa aba - aba Rifki mengangkat tubuh Naura menuju ke atas tempat tidur.
"Kak, Saya mohon Saya sedang nggak mood." Ucap Naura.
"Kita sudah lama yank, apa kamu nggak kangen." Ucap Rifki sambil melepaskan kaos nya dan melemparkan ke sembarang arah.
"Kak Saya kan sudah bilang, Saya nggak mau."
"Dosa kamu yank menolak ajak an suami."
"Mana janji kakak, katanya akan mentalak saya? "
Seketika wajah Rifki berubah, dan menatap tajam ke arah Naura sehingga Naura pun merasakan sangat takut.
"Katakan sekali lagi?" Ucap Rifki.
"Mana janji kakak yang katanya akan mentalak saya? Saya minta cerai." Ucap Naura.
__ADS_1
Aaaaaarrrrrggghh
Rifki menarik kedua kaki Naura sehingga menjadi kan nya posisi terlentang, Rifki dengan kasar merobek rok milik Naura hingga terlepas dan menyisakan dalaman nya Saya.
"Kak.. " Ucap Naura yang sudah ke takut an saat Rifki yang sudah berubah seperti singa kelaparan.
"Kamu ingin kita pisah hah... "
Aaaaaarrrrrggghh
"Kakak... " Rifki menekan bagian inti Naura dengan ketiga jarinya.
"Bicara sekali lagi." Bentak Rifki.
"Saya ingin minta cerai."
Aaaaaarrrrrggghh
Rifki mulai menekan kembali dengan ketiga jarinya.
Hiks.. hiks.. hiks...
Naura menangis sesenggukan saat jemari Rifki terus menekan nya. Rifki pun langsung mencium bibir Naura, dengan kasar karena Naura hanya diam saat Rifki menggigit bibir nya lantas dengan leluasa mengeksplor mulut nya yang terbuka.
Terasa sudah cukup memberikan pelajaran pada Naura, tangan Rifki mencengkram rahang istri nya.
"Maaf kan kakak sayang, kalau kakak kasar. Tapi kamu harus tahu, suami mu ini akan tetap jadi suami kamu sampai waktu di dunia ini habis. Suami kamu sudah memutuskan kamu yang akan di pertahankan." Ucap Rifki yang merubah tangan nya dari cengkraman menjadi belaian lembut di pipi kanan Naura.
"Putri sudah kakak talak." Jawab Rifki.
"Kakak nggak sedang bercanda kan?"
"Nggak sayang, makan nya suami kamu ini kenapa tadi marah saat kamu mengatakan itu. Kamu tetap menjadi pemegang tahta yang paling tinggi, tak ada lagi yang bisa merusak ke bahagia an kita." Ucap Rifki yang sudah mendekati kembali bibir Naura.
Naura pun menerima apa yang di lakukan suaminya, berbeda saat tadi sempat berontak. Kini kedua tangan Naura mengalungkan di leher Rifki.
Sekian lama mereka tak menyatukan ada sensasi yang berbeda. Saling melepaskan rindu dan saling menikmati.
Hingga kedua nya sama - sama mencapai puncak dengan berakhir pada sebuah senyuman dan ciuman di kening Naura.
****
"Jadi Putri bukan lagi istri kakak?" Tanya Naura sambil berbaring di atas tubuh Rifki yang masih terbungkus satu selimut.
"Iya, buat apa wanita seperti dia di pertahankan. Sama Malik dia nggak sayang, mau jadi apa istri seperti itu ke depan nya." Jawab Rifki.
"Lantas Malik sama siapa sekarang?" Tanya Naura mengangkat wajah nya tepat berhadapan dengan Rifki.
"Sama Bunda, Malik sama Bunda yang rawat." Jawab Rifki.
__ADS_1
"Kenapa Malik nggak ikut kesini saja?"
Rifki menatap ke arah Naura, hingga mata mereka saling beradu pandang.
"Apa nggak keberatan?" Ucap Rifki ragu.
"Malik sudah Saya anggap sebagai anak Saya sendiri, bawa lah Malik kesini."
"Tapi nanti Yanti bagaimana dia akan repot."
"Cari kan satu baby sister untuk Malik."
"Terima kasih sayang, terima kasih."
*****
"Ini namanya Marni, Bunda yang cari. Dia akan rawat Malik nanti." Ucap Rifki.
" Marni, kamu sudah tahu kan kondisi Malik. Mungkin akan berbeda saat merawat Ay, kalau Malik akan merespon lama kalau kita tak menyentuhnya."Ucap Naura.
" Baik Bu, apakah ada yang lain?" Tanya Marni.
"Nggak ada, tapi kalau ada apa - apa minta tolong saja sama Yanti. Atau telepon saya." Jawab Naura.
"Baik Bu."
"Masalah gaji Bapak sudah jelas kan ya pasti nya, kamu nanti bisa tidur di kamar dekat kamar Ay dan Malik."
" Terima kasih bu."
Marni dan Yanti pun mengasuh kedua bayi tersebut, sesekali Ay tersenyum berbeda dengan Malik yang akan tersenyum atau merespon ketika lawan bicara nya menyentuhnya.
"Kak, apakah Malik perlu pakai alat pendengaran? Dan saat besar nanti kita juga harus bisa berinteraksi cara agar dia mengerti apa yang kita maksud." Ucap Naura.
"Malik anak yang sehat, dia cerdas kakak yakin dia akan jadi kebanggaan kita." Ucap Rifki sambil merangkul pundak Naura.
"Apakah belum ada kabar dari Putri?" Tanya Naura tiba - tiba.
"Jangan merusak mood hari ini menanyakan kabar dia." Jawab Rifki.
"Menanyakan anaknya?"
"Malik akan menjadi anak kita, atas nama Saya dan kamu di akte kelahirannya bukan atas nama Ibu kandungnya."
"Apa tidak lancang?"
"Sudah lah Yank, kamu jangan pikir kan yang terlalu berlebihan. Peduli apa sama orang yang sudah mengobrak abrik rumah tangga kita. Dia saja nggak peduli kenapa kamu masih memikirkan dia."
"Karena Saya seorang Ibu, memiliki naluri yang sangat kuat."
__ADS_1
"Itu kamu memiliki hati layaknya Malaikat tapi dia tidak memiliki hati layaknya setan yang pasti masuk neraka"