Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati

Menunggu Pagi Untuk Prajurit Hati
Sama - Sama Berjuang


__ADS_3

" Kamu sedang apa disini? " Tanya Rifki.


Dan Rifki melihat Dani dan Ibu Lisa masuk ke dalam IGD.


" Di dalam siapa? " Tanya Rifki kembali.


" Istri kamu mau melahirkan, kamu di hubungi nggak di angkat. " Jawab Aldi.


Rifki melihat ponselnya, dan banyak panggilan dari Naura.


" Naura. " Rifki berlari masuk melewati Putri.


Rifki melihat Naura yang sedang merintih kesakitan.


" Kak. " Ucap Naura lirih.


" Ya sayang, maaf kakak nggak angkat. Kakak disini bersama Putri dia juga sama mau melahirkan tapi dengan cara operasi karena ada Tumor. " Ucap Rifki.


Ahhhhhhkk


Naura mencengkram tangan Rifki.


" Istri kamu harus cesar. " Ucap Aldi.


" Saya akan menanda tanganinya." Ucap Rifki segera beranjak pergi.


" Rifki. " Panggil Pak Ilham.


" Naura mau melahirkan, Saya mau ke bagian Administrasi. " Ucap Rifki.


" Putri butuh kamu, Naura masih ada keluarga lain yang bisa mengurusnya." Ucap Pak Ilham.


" Ayah, Naura juga istri Saya, sama mau melahirkan. Naura juga tanggung jawab saya." Ucap Rifki.


Dani pun datang menghampiri Rifki dan Pak Ilham.


" Kalau kamu tidak peduli sama Naura, Saya yang akan mengurusnya. " Ucap Dani.


" Urusan Putri sudah selesai Bang, tinggal masuk ruang operasi, Saya urus administrasi Naura Bang." Ucap Rifki segera menuju ke bagian Administrasi.


****


" Loh Bapak kan tadi sudah menandatangi berkas istri Bapak. " Ucap salah satu bagian Administrasi.


" Ini juga istri saya." Ucap Rifki.


" Hah. " Ucap nya.


" Sudah mba tolong mana berkasnya." Ucap Rifki.


Petugas pun memberikan berkas untuk persetujuan operasi dengan masih banyak pertanyaan di otak nya.


****


" Bunda... sakit.....!!! " Teriak Putri.


" Sabar sayang, sebentar lagi kamu masuk ke ruang operasi." Ucap Ibu Luna.


Sedangkan di seberang nya lagi Naura sedang merintih sakit, di mana Ibu Lisa terus memberikan semangat pada Naura.


Rifki pun masuk melihat Putri yang sedang kesakitan begitu juga Naura. Rifki menghampiri Putri sebentar lalu menuju ke ranjang Naura.


" Kakak sudah tanda tangan, nanti segera di lakukan operasi. " Ucap Rifki sambil mencium kening Naura.


Putri dan Naura pun sama - sama di bawa ke ruang operasi yang berbeda. Di mana keluarga menunggu di depan ruang operasi.


Rifki dengan sedikit harap - harap cemas mondar mandir di depan ruang operasi.

__ADS_1


" Aldi Naura kenapa bisa sama kamu? " Tanya Dani.


" Kami nggak sengaja bertemu di mall, barang belanjaan Naura juga masih di mobil saya." Jawab Aldi.


" Terima kasih sudah bawa istri Saya kesini." Ucap Rifki yang di anggukkan oleh Aldi.


" Semoga saja Naura dan anak nya selamat." Ucap Ibu Lisa yang panik.


Terlihat di sebelah ujung Ibu Luna terus menangis dengan Ibu Astri memeluk tubuhnya.


" Mah, kenapa Tante Luna? " Bisik Dani.


" Tanya saja sama Rifki." Ucap Ibu Lisa.


" Rifki, Mertua kamu kenapa menangis terus?" Tanya Dani.


" Putri ada Tumor dan rahim nya harus di angkat karena Tumor nya ganas. Dan anak kami harus segera di lahir kan." Jawab Rifki.


" Karma. " Ucap Pelan Dani yang masih terdengar di telinga Ibu Lisa dan Rifki.


Dokter pun keluar, semua keluarga pun berkumpul mendekati Dokter kandungan tersebut.


" Suami Ibu Naura? " Ucapnya.


" Saya Dok. " Ucap Rifki.


" Selamat Pak anak bapak lahir dengan selamat, dan Ibu nya juga Alhamdulillah selamat bisa melalui semua nya. "


" Alhamdulillah. " Ucap Rifki, Aldi, Dani dan Ibu Lisa.


" Anak Bapak cantik seorang perempuan."


" Alhamdulillah ya Allah. "


Lantas Dokter yang mengoperasi Putri pun keluar, dengan wajah sedikit serius menatap ke arah mereka.


" Bagaimana Dokter, anak dan istri Saya? " Tanya Rifki.


" Bagaimana Dokter, anak Saya? " Tanya Ibu Luna yang di peluk Pak Rahmat.


" Bayinya lahir dengan selamat, dan Ibu nya masih kritis." Jawab Dokter yang menangani Putri.


Hiks... hiks... hiks..


" Putri Yah.. hiks.. hiks.. " Isak Ibu Luna.


" Jenis kelamin cucu kami apa Dokter? " Tanya Ibu Astri.


" Anak nya laki - laki." Jawab Dokter.


*****


Rifki berdiri di antara kedua bayi nya, hanya bayi Putri yang berada dalam inkubator dengan alat medis yang menancap di tubuh nya. Ada rasa haru sedih dan bahagia. Setelah selesai mengadzani Rifki menuju ke kamar rawat Putri di mana Putri masih terbaring lemah.


Rifki pun mengusap wajah Putri yang masih belum sadar kan diri. Hati nya sedikit teriris melihat istri sirinya terbaring lemah.


" Rifki, Bunda mohon jangan kamu tinggal kan Putri, walau dia sudah tidak sempurna. Hiks.. hiks.. hiks.. " Ucap Ibu Luna.


" Nak, kamu mulai sekarang harus perhatian lebih sama Putri. Ingat Putri itu sekarang nggak seperti dulu." Ucap Ibu Astri.


*****


Naura tersenyum saat melihat bayi nya telah lahir, Naura yang masih sakit karena luka cesar hanya bisa menatap bayi mungilnya yang di gendong oleh Ibu Lisa.


" Lucu Naura, wajahnya seperti kamu." Ucap Ibu Lisa.


" Papah nya dari tadi belum terlihat batang hidungnya. " Ucap Dani gemas.

__ADS_1


" Bang, tahu kabar Putri? " Tanya Naura.


" Buat apa tanya - tanya kabar? Mertua kamu saja malah nggak menengok kamu. Padahal tahu cucu nya juga lahir. " Jawab Dani.


" Selamat ya Naura." Ucap Aldi.


" Makasih Bang, dan makasih juga Bang sudah membawa Saya ke rumah sakit." Ucap Naura.


" Sama - sama Naura. " Ucap Aldi.


*****


Rifki melihat bayi yang di lahir kan Naura yang sangat gemuk, sehingga membuat Rifki sangat gemas namun tidak dengan yang di lahir kan Putri bayi laki - laki yang kecil dan kurus.


" Pak Rifki. " Sapa Suster.


" Iya sus? " Ucap Rifki.


" Bapak di minta untuk bertemu Dokter Anis, spesialis anak."


" Baik Dokter, Saya kesana sekarang."


Rifki pun duduk di depan Dokter Anisah spesialis anak dan Dokter Anisah menatap serius pada nya.


" Pak, ini mengenai Putra bapak. "


" Kenapa dengan Putra Saya? "


" Putra Bapak tak bisa mendengar, pendengarannya terganggu dan harus menggunakan alat. Dan pertumbuhan nya sedikit terganggu. "


Bagai mendapatkan sebuah tamparan, Rifki begitu lemas saat mendapatkan kabar tentang putra nya yang memiliki kekurangan.


" Apakah bisa di obati? " Tanya Rifki.


" Ini bawa an lahir jadi sangat sulit, hanya alat bantu pendengar saja yang bisa untuk membantunya. " Jawab Dokter Anisa.


*****


" Anak Saya mana kak? " Tanya Putri saat sudah sadar.


" Bunda juga belum bisa gendong sayang, dia masih dalam perawatan." Ucap Ibu Luna.


" Apa karena prematur ya jadi belum bisa di bawa kemari." Ucap Ibu Astri.


" Kamu konsultasi sama Dokter kan Rifki, anak yang prematur itu baik nya bagaimana." Ucap Ibu Luna.


" Anak kita Putri. " Ucap Rifki terhenti.


" Kenapa Kak sama anak kita? " Tanya Putri.


" Anak kita tuna rungu dan pertumbuhan nya sangat terganggu. " Jawab Rifki.


" Apa kak...!!! Nggak mungkin, ini pasti salah. Pasti anak kita tertukar sama Naura. " Ucap Putri.


" Kamu jangan bercanda Rifki." Ucap Ibu Astri.


" Benar nak, kamu pasti salah dengar. " Ucap Pak Ilham.


" Dokter anaknya langsung bicara sama saya."


" Nggak kak, ini pasti salah. Pasti yang sama kita anak Naura bukan anak saya." Ucap Putri.


" Benar pasti ini anak Naura tertukar sama kita. " Ucap Ibu Luna.


" Anak yang di lahir kan Naura itu perempuan bukan laki - laki." Ucap Rifki.


" Nggak... anak Saya nggak cacat, ini pasti bohong." Ucap Putri tak ingin menerima kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2