Mutiara Yang Hilang

Mutiara Yang Hilang
#14


__ADS_3

setiap harinya berlalu dengan begitu banyak cerita dalam kehidupan.


cerita cinta Ara dan ian pun berjalan dengan sangat mulus tanpa hambatan apapun.


menjelang hari bahagia mereka pun, segala sesuatunya sudah hampir siap, hanya tinggal fitting baju pengantin, karena baju lah yg menjadi faktor utama untuk pengantin.


a : "gimana sayang ?"


Ian hanya bisa diam, melihat calon istrinya itu mengenakan kebaya putih yg sangat elegan dan sangat cocok dipakai oleh Ara.


a : "sayang ?"


i : "iya sayang ? kamu, kamu cantik banget sayang.."


ara pun tersenyum mendapat sanjungan dari Ian.


setelah selesai fitting baju, mereka pun kembali melanjutkan perjalannya ke sebuah gedung yg akan menjadi tempat pesta pernikahan mereka nanti.


terlihat di dalam gedung tersebut banyak orang yg berlalu-lalang menyiapkan dekorasi dan lain sebagainya.


Ara dan ian yg melihat semua orang yg bekerja pun hanya bisa tersenyum bahagia, karena mereka yakin dengan konsep yg mereka pilih dari sang W.O tidak akan mengecewakan.


setelah semua nya selesai, mereka pun memilih untuk pulang.


sesampainya di rumah Ara, Ian pun mampir sebentar untuk memberikan calon mertuanya itu sebuah hadiah.


ibu : "apa ini nak ?"


i : "itu hadiah untuk ibu.."


ibu : "ibu kan sedang tidak berulangtahun, kenapa kamu kasih ibu hadiah..?"


canda ibu Ara yg memang suka sedikit bercanda.


i : "tidak ibu, Ian memberikan hadiah yg tidak seberapa ini hanya untuk ucapan terimakasih Ian pada ibu, karena ibu sudah melahirkan seorang putri yg cantik, baik dan shaleha dan ibu juga sudah merawat, menjaga dan membesarkan nya selama ini dengan penuh kasih sayang, sehingga ian bisa bertemu dengan Ara, hingga saat nya tiba nanti Ara akan Ian bawa bersama Ian, menjadi orang yg akan paling ian sayang dan cinta.."


mendengar perkataan ian barusan, ibu Ara pun memeluk tubuh putri kesayangan nya dengan penuh cinta dan dengan perasaan yg tidak bisa di ungkapkan, senang, sedih dan lain sebagainya bercampur jadi satu, seketika linangan air mata pun mulai menetes membasahi pipi ibu.


Ara yg mendapat pelukan hangat dari ibunya pun ikut terbawa suasana, tapi Ara berusaha keras agar tidak menangis di hadapan ibunya.


a : "kenapa ibu menangis ?"


ibu : "ibu hanya tidak menyangka, kalau anak kesayangan ibu ini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yg akan segera memiliki suami.."


jawab ibu dengan tersenyum memandang wajah putrinya itu.


a : "ibuuuu, Ara sayang ibu.."

__ADS_1


kembali mereka berdua berpelukan, Ian yg melihatnya hanya bisa tersenyum akan kehangatan keluarga ini.


antara Ara dan ibunya tidak ada satu rahasia pun yg di sembunyikannya. sebisa mungkin Ara akan menceritakan segalanya pada ibu nya, karena memang sejak kecil Ara di ajarkan oleh ibunya agar selalu menceritakan segala sesuatu yg bisa atau yg yakin untuk di ceritakan, seberat apapun Ara punya masalah pasti Ara akan bercerita kepada orangtuanya.


ibu : "setelah kalian menikah nanti, tolong jaga Ara selayak nya ibu dan ayah menjaga Ara selama ini, tolong bimbing Ara agar bisa menjadi istri yg baik.."


nasehat ibu pada Ian, Ian pun memberikan jawabannya dengan tersenyum tulus dan menganggukkan kepalanya.


ibu : "Ara juga, setelah menikah nanti, turuti apa perintah suami mu, layani suami mu dengan baik, jaga nama baik keluarga mu nanti, selalu komunikasikan segala sesuatu nya dengan baik, jangan sampai ada masalah atau kesalahpahaman antara kalian berdua, karena berumah tangga tidak hanya mementingkan 1 pihak saja tapi ke-2 belah pihak.."


a : "iya ibu, Ara ngerti, karena selama ini kan Ara belajar dari ibu dan ayah, meskipun ibu dan ayah berjauhan tapi kalian tetap harmonis dan bisa mendidik Ara dengan baik.."


obrolan mereka pun berlanjut, dari membahas hal yg serius, bisnis, bahkan bercanda bersama, saling bercerita satu sama lain. meskipun Ian hanya seorang calon menantu nya tapi ibu sudah menganggap Ian sebagai anak nya sendiri, begitupun dengan Ian, Ian sudah menganggap ibu Ara sebagai ibunya sendiri, sehingga tidak ada rasa canggung saat Ian bercerita hal yg sedikit pribadi.


di tempat lain, terlihat 2 orang yg sedang bekerja dengan bersungguh-sungguh dengan pekerjaan nya masing-masing. berkutat dengan data, komputer, dokumen, file dan lain sebagainya.


"wi, tolong bawakan saya minuman yg segar ya.."


pinta Jo pada dewi.


"minuman segar seperti apa ka ?"


tanya Dewi karena tidak tau minuman segar seperti apa yg di inginkan oleh atasannya itu.


"cola enak kali ya.."


"baiklah ka, saya akan ambilkan.."


jawab Dewi lalu berlalu pergi ke pantry untuk membawakan minuman yg di minta Jo.


d : "ini ka..."


j : "makasih ya dew.. loh kamu nggak bikin ?"


d : "nggak ka, aku nggak haus, sekalian aja nanti makan siang.."


j : "oh ya, kamu nanti makan siang sama siapa ?"


d : "kaya nya sendiri ka, soal nya kan aku orang baru disini, belum ada temen juga.."


j : "makan dimana ?"


d : "kaya nya di cafe depan kantor deh.."


j : "saya temenin ya, kebetulan saya juga nggak ada acara apa-apa nanti siang.."


Dewi merasa terkejut dengan perkataan Jo barusan, karena tidak menyangka kalau atasannya ini mau bergabung dengannya hanya untuk makan siang.

__ADS_1


d : "kakak serius ?"


j : "iyalah, kenapa ?"


d : "nggak apa-apa.."


j : "bolehkan ?"


Dewi hanya mengangguk dan tersenyum, tanda dia setuju.


di dalam sebuah cafe, Dewi dan Jo yg sudah di hadapkan dengan hidangan yg mereka pesan pun mulai memakan maknanya masing-masing. Dewi yg notabennya orang yg sedikit cuek dengan keadaan sekitar, hanya menghiraukan Jo yg dari tadi sesekali melihat nya yg sedang mengunyah makanannya. karena merasa terus di perhatikan akhirnya Dewi pun mulai menatap balik jo dengan tatapan yg susah di artikan.


d : "kenapa ka ? ada yg salah ya dengan cara makan aku ?"


tanya Dewi karena merasa sedikit malu jika memang ada sesuatu yg salah dengan makannya.


j : "nggak ada ko.."


jawab Jo tersenyum.


saat Dewi kembali menyuapkan makanannya tanpa Dewi sadari ada saus dari makanannya yg meleber ke sudut bibirnya. dengan sigap, Jo pun langsung membersihkan nya dengan tissue tanpa permisi dulu pada sang pemilik bibir.


Dewi yg merasa terkejut dengan perlakuan Jo padanya tadi pun hanya bisa diam terpaku, karena baru kali ini ada laki-laki yg memperlakukannya seperti itu.


j : "maaf, tadi saus nya meleber ke sudut bibir kamu.."


d : "ah iya tidak apa-apa ka, terimaksih.."


tanpa ada yg tau satu sama lain, jantung mereka berdua pun berdetak dengan lebih cepat dari sebelum-sebelumnya. mereka pun kembali memakan makanannya masing-masing dengan diselingi obrolan ringan agar tidak terlalu canggung karena situasi yg tadi terjadi. hingga akhirnya mereka kembali ke kantor dan mengerjakan pekerjaan nya kembali.


*


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


keesokan harinya.......


__ADS_2