Mutiara Yang Hilang

Mutiara Yang Hilang
#31


__ADS_3

kita tinggalkan penerbangan Ara dan ian yg cukup lumayan lama. yaaa kurang lebih 12 jam'an lah...


saat dalam perjalanan menuju kantor, hanya ada suara mesin mobil yg terdengar dan 2 orang insan yg yg sedang sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


"Dewi marah nggak ya pas gue keceplosan kaya tadi..? apa gue sekalian aja nanya sama dia tentang pendapat dia ke gue, udah kepalang tanggung juga ini.."


sedikit dari pemikiran jo.


"maksud ka Jo tadi bilang kaya gitu apa ya ? masa iya ka Jo ..... tapi nggak mungkinlah, ya kali kan ya ...... apaan sih dew mikirin yg nggak-nggak aja.."


sedikit dari pemikiran Dewi.


"kak,.... dew,....."


panggil keduanya bersamaan.


d : "kenapa ka ??"


j : "aku cuman mau minta maaf soal yg tadi.."


d : "nggak apa-apa ko ka.. lagian aku juga tau, kakak pasti cuman becanda doang kan.."


jawab Dewi dengan senyum yg sedikit di paksakan.


j : "ah iya,..."


sesaat hanya ada keheningan diantara keduanya.


"tapi,..... kalo aku beneran suka sama kamu gimana ??"


Jo bisa bertanya seperti itu ke pada Dewi tapi hanya dalam hatinya.


dirinya belum siap dengan penolakan yg akan Dewi lakukan padanya jika memang Jo harus mengatakannya saat ini dan Dewi menolaknya.


mereka pun tiba di kantor dan dengan profesional nya mereka melupakan kejadian tadi dan keakraban mereka dan berubah 180° menjaga wibawa dan sikap mereka layak nya seorang pimpinan dan asisten.


tak ada kata yg terucap dari keduanya, suasana terasa sangat canggung diantara mereka berdua.


setelah sampai di ruangan, masih tanpa kata, mereka langsung duduk di kursi masing-masing dan mengerjakan pekerjaan yg sudah menanti dari tadi.


"kenapa harus kaya gini sih.. suasananya canggung banget.."


itulah kira-kira kesamaan isi hati mereka masing-masing saat ini.


j : "dew, bisa kamu bawakan saya minuman soda yg dingin.."


pinta Jo, memulai pembicaraan agar suasana kembali mencair.


d : "baik pak, saya ambilkan.."


jawab Dewi, kemudian berdiri dan pergi meninggalkan ruangan menuju pantry.


j : "aaaah, kenapa kaya gini coba, gue harus cari cara biar suasana cair lagi.."


kesal Jo sambil mengacak-acak rambutnya, sesaat kemudian membetulkannya kembali karena takut ketahuan orang lain kalau saat ini dia sedang pusing.


Dewi pun datang dengan membawa sebuah nampan yg berisi pesanan Jo tadi.


d : "ini pak minumannya.."


j : "ah iya, terimakasih ya dew.."


Jo pun mengambil minumannya dan membukanya kemudian meneguknya.."


j : "oh ya, jadwal saya hari apa saja ?"

__ADS_1


d : "tidak ada jadwal meeting hari ini, jadwal bapak hari ini hanya memimpin rapat bulanan dengan para staf setelah makan siang nanti.."


j : "kalau gitu, nanti siang, kamu makan siang sama saya.."


d : "saya di kantin saja pak.."


j : "loh, kenapa ?"


d : "saya tidak enak dengan karyawan yg lain kalau saya harus selalu bersama bapak kemanapun bapak pergi.."


j : "loh, itukan emang udah jadi tugas kamu, kamu kan sekretaris pribadi saya.."


Dewi hanya diam, tidak menjawab perkataan Jo, karena memang yg di katakan oleh Jo itu benar.


j : "kenapa ? ada apa ?"


tanya Jo penuh selidik.


d : "tidak ada pak.."


j : "ya udah, kalo gitu kamu kerja lagi aja dulu.."


akhirnya mereka berdua pun kembali pada pekerjaan masing-masing.


"kenapa Dewi jadi kaya gitu ya ? apa jangan-jangan ada yg nggak beres di kantor ini..?"


gumam Jo dalam hati.


jam makan siang pun tiba.


j : "ayo.."


ajak Jo pada Dewi yg masih duduk di kursinya dengan sedikit melamun.


d : "ahh, iya pak ?"


j : "ayo.."


d : "kemana pak ??"


j : "ini sudah jam nya istirahat makan siang.."


d : "iya kah ??"


Dewi pun langsung melihat jam yg ada di tangannya.


d : "ah iya, bapak benar.."


Jo yg melihat tingkah Dewi yg seperti itu pun merasa sedikit aneh tapi jo tidak langsung bertanya padanya karena ini masih di area kantor.


j : "ya sudah, ayo.."


d : "baik pak.."


mereka berdua pun akhirnya keluar dari ruang, memasuki lift.


saat pintu lift terbuka, masih ada beberapa karyawan yg berlalu lalang di area gedung kantor. Dewi mencoba bersikap profesional dengan tetap mengangkat wajahnya dan berjalan mengikuti pimpinan nya dengan sangat elegan dan berwibawa.


beberapa karyawan pun langsung membungkukkan badannya saat berpapasan dengan atasannya tersebut dan tidak sedikit dari mereka membicarakan pimpinan mereka dengan sekretaris pribadi nya.


*flashback


saat Dewi akan kembali dari pantry dengan membawa minuman dingin yg di minta oleh Jo, tanpa sengaja Dewi mendengar 2 orang karyawati sedang membicarakannya, meskipun hanya bisik-bisik, tapi cukup lumayan terdengar jelas. Dewi pun memutuskan untuk sedikit mendengarkan pembicaraan mereka dari balik dinding.


k.1 : "enak banget ya jadi Bu Dewi.."

__ADS_1


k.2 : "lah, kenapa emang ?"


k.1 : "kerja satu ruangan sama bos, mana bos tuh ganteng, kaya, karismatik, berwibawa.. kemana bos pergi dia juga pasti ikut.."


k.2 : "lah kan itu emang udah tugas nya jadi sekretaris pribadi kaya gitu.."


k.1 : "iya gue juga tau.. bahkan ya, tadi pagi aja, Bu Dewi datang 1 mobil sama pak bos.."


k.2 : "oh ya ?"


k.1 : "iya, gue liat sendiri, gue yakin nanti siang sama pulang kantor pasti Bu Dewi di anterin lagi sama pak bos.."


k.2 : "ya udahlah ya, biarin aja, usil banget lu campurin urusan orang lain, mau Bu Dewi sama pak bos ada apa-apa atau nggak ada apa-apa juga bukan urusan kita ini.."


k.1 : ya emang siiih.."


k.2 : "ya udah, kita balik kerja lagi aja.."


para karyawati itu pun akhirnya kembali dengan pekerjaan mereka masing.


Dewi pun kembali melanjutkan langkahnya.


kembali ke Dewi dan Jo yg sudah ada di sebuah restoran untuk makan siang.


sambil menunggu makanan yg mereka pesan Jo pun menanyakan hal yg sedari tadi ingin dia tanyakan pada Dewi.


j : "kamu kenapa dew..??"


tanya Jo pada Dewi yg sedang sedikit melamun.


d : "hah, kenapa kak ?"


j : "kamu kenapa ? dari tadi aku lihat kamu banyak melamun, apa karena masalah tadi pagi ?"


d : "bukan ko ka, ini bukan masalah tadi pagi.."


j : "trus gara-gara apa ?"


d : "nggak kenapa-kenapa ko ka, nggak usah di pikirin, aku janji deh, nggak bakalan mikirin ini lagi dan nggak bakalan ngelamun lagi.."


jawab Dewi dengan tersenyum manis kepada Jo.


"udahlah, ngapain juga gue mikirin perkataan mereka yg tadi, toh disini gue juga kerja, sama kaya mereka.. ka Jo juga nggak masalah, masa iya gue harus masalahin.."


gumam Dewi dalam hati mencoba merubah suasana hatinya dan mencoba bodo amat atas perkataan yg tidak seharusnya Dewi pikirkan.


*


*


*


*


*


*


*


tak usah berkutik saat orang berbisik...


tak usah marah, kalau suasana masih bisa meriah...


karena saat kau rasa susah, pasti nanti akan ada mudah...

__ADS_1


__ADS_2