
keesokan harinya...
di sebuah meja makan, terlihat sepasang suami istri yg sedang sarapan bersama.
i : "sayang, kita berangkat sekarang atau nanti siang aja ?"
tanya ian pada ara sambil mengunyah makanannya.
a : "kayanya nanti siangan aja deh sayang, sekarang aku mau beres-beres dulu barang yg mau kita bawa besok.."
i : "oke.. oh ya, ibu sama ayah ??"
tanya ian, karena merasa heran ibu dan ayah mertuanya tidak ada di meja makan bersama mereka.
a : "oooh, ibu sama ayah berangkat ke Jepang tadi pagi.. katanya ayah ada urusan disana, jadi ibu ikut sama ayah.."
i : "trus nanti rumah siapa yg jaga, kalo kita juga besok pergi.."
a : "udah kamu tenang aja, ada pegawai keluarga aku ko yg selalu jaga rumah kalo kita lagi berangkat ke luar.."
i : "gitu ya..."
mereka pun melanjutkan sarapan mereka.
di suatu tempat lainnya..
di sebuah ruang kerja, pagi-pagi sekali Jo sudah ada di meja kerjanya. Jo sengaja datang pagi-pagi ke kantor karena memang ada suatu pekerjaan yg kemarin dia lupa selesaikan dan juga Jo sengaja tidak sarapan di rumahnya, karena dia ingin tau seberapa cakap nya Dewi saat memasak, karena di dalam data yg di kirimkan Dewi kemarin, Dewi menuliskan kalau Dewi suka memasak, oleh sebab itu Jo ingin membuktikannya pagi ini.
saat Dewi memasuki ruangannya, Dewi merasa kaget karena melihat boa nya datang lebih pagi dari dirinya, Dewi pun langsung melihat jam yg ada di tangan kirinya.
"perasaan ini baru jam 7 lebih sedikit, belum waktunya juga masuk jam kantor, tapi kenapa ka Jo udah ada disini aja.."
gumam Dewi dalam hati.
j : "kamu nggak usah heran, saya sengaja datang pagi, ada hal yg harus saya bereskan, kemarin saya kelupaan.."
d : "hhmmm.."
Dewi pun duduk di kursinya, menyimpan tas dan beberapa dokumen yg kemarin dia bawa ke rumahnya. karena merasa masih pagi, Dewi merasa pasti Jo belum sarapan. dengan cekatan Dewi pun menghampiri Jo dan menanyakannya.
d : "apa bapak sudah sarapan ? atau mau saya buatkan sesuatu ?"
tanya Dewi dengan sopan.
j : "kebetulan saya belum sarapan, tolong kamu buatkan saya nasi goreng ya.."
d : "baik pak.."
Dewi pun pergi ke pantry kantor yg ada di lantai yg sama dengan ruangannya, kebetulan, segala sesuatu yg di butuhkan tersedia lengkap di pantry tersebut.
dengan cekatan, Dewi pun mulai memulai acara masak nya. mulai dari bumbu-bumbu halus, nasi, telur, sosis dan sayuran sudah Dewi siapkan.
__ADS_1
tanpa Dewi tau, Jo yg ada di ruangannya sedari tadi memerhatikan Dewi dari layar yg ada di depannya dari cctv yg ada di pantry.
Jo tersenyum melihat keterampilan Dewi saat menyiapkan sesuatu, begitu telatennya Dewi dengan pekerjaannya.
sesekali Dewi bernyanyi saat sedang memasak, meskipun suaranya tidak begitu terdengar namun bisa terlihat dari gerak bibir nya dan juga dari gerak tubuhnya.
setelah merasa puas dengan hasil masakannya, Dewi pun menyiapkan secangkir kopi dan beberapa buah-buahan.
terlihat begitu komplitnya komposisi makanan yg di siapkan oleh Dewi untuk Jo.
Dewi membawa hasil masakannya ke hadapan Jo. Jo pun meminta Dewi untuk menyiapkan makanannya di meja lainnya.
dengan telaten Dewi pun menyiapkan sarapan untuk Jo di meja panjang yg ada di ruangan tersebut.
Jo pun mulai berdiri dari kursi kebesarannya dan pindah duduk ke sofa panjang dan memperhatikan sarapannya. masakan yg di buat oleh Dewi terlihat begitu menggoda lidah dan ternyata memang benar, saat Jo memasukkan suapan pertama kedalam mulutnya, rasanya sangat enak, wangi nasi goreng yg khas pun tercium di hidungnya, begitu wangi.
"ternyata beneran enak, ini bakalan jadi nasi goreng kesukaan aku.."
gumam Jo dalam hati dan tersenyum kecil.
Dewi yg masih berdiri di hadapan Jo pun merasa cemas dan khawatir akan masakannya yg di makan oleh Jo.
"ka Jo ko diem aja sih, apa jangan-jangan masakan aku nggak enak ?"
itu yg ada di pikiran Dewi saat Jo hanya diam saja dengan terus mengunyah makanannya.
setelah selesai dengan suapan pertamanya, Jo pun mengangkat wajahnya, melihat ke arah dewi dan tersenyum.
j : "masakan kamu enak.."
Dewi merasa terkejut mendengar pujian dari Jo untuk hasil masakannya.
j : "masakan kamu enak, saya suka.. mungkin saya bakalan sering minta kamu buat bikinin saya sarapan lagi.."
ujar Jo sambil tersenyum penuh arti.
"ka Jo suka sama masakan buatan gue ? seriusan ? ko gue seneng ya denger ka Jo muji masakan gue.."
Dewi pun tersenyum dan tanpa sadar memegang dada kirinya, memastikan kalau jantungnya berdetak dengan benar dan baik.
d : "ba, baiklah, saya akan buatkan jika memang bapak ingin.."
jawab Dewi tersenyum.
"masakan nya emang enak.. andai tiap hari di rumah gue yg nyiapin makanan tuh Dewi, gue bela-belain deh buat makan siang di rumah trus pulang kerja cepet biar bisa makan masakan Dewi terus.."
gumam Jo dalam hati.
siang hari di suatu tempat perbelanjaan, terlihat sepasang suami istri yg sedang memilih-milih sesuatu.
a : "sayang, yg ini bagus nggak ??"
__ADS_1
tanya Ara pada Ian, memperlihatkan 2 buah gaun yg indah.
a : "kiri atau kanan ? atau dua-duanya aja ?"
i : "kayanya yg kanan deh sayang.."
Ian memilih gaun yg ada di tangan kanan Ara, gaun berwarna biru langit yg warna nya sangat lembut di pandang mata, gaun dengan gaya modern namun elegan dan terlihat sopan saat nanti di pakai.
a : "oke, kalo suami ku suka yg ini, aku beli yg ini.."
jawab Ara tersenyum manis pada suaminya.
a : "kamu beli apa sayang ?"
tanya Ara pada Ian, karena dari tadi Ian hanya memilih-milih saja.
i : "kayanya aku nggak beli apa-apa deh sayang, nggak ada yg harus aku beli juga.."
a : "ya udah, kalo gitu kita makan yu, aku udah laper.."
i : "baiklah my queen, kita cari tempat makan dulu sekarang.."
a : "let's go my husband.. eh ya, tapi aku mau, abis makan kita nonton ya.."
i : "nonton ?"
a : "iya, ya ya ya.."
Rajuk Ara pada Ian.
i : "baiklah, baiklaaah.."
a : "terimakasih suami ku.."
dengan cepat Ara pun mencium pipi kiri ian. Ian pun hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya itu. kemudian mereka bergandengan tangan menyusuri jalanan mall tersebut dengan senyum yg selalu menghiasi wajah mereka.
*
*
*
*
*
*
*
"apakah cinta harus selalu terungkap, ketika bibir merasa tak sanggup untuk berucap.
__ADS_1
apakah jantung harus selalu berdegup cepat, ketika mata tak sanggup untuk melihat.
haruskah kaki terus melangkah, ketika ada yg ingin singgah.."