Mutiara Yang Hilang

Mutiara Yang Hilang
#69 bahagia itu, sederhana


__ADS_3

di rumah hanya tinggallah Ara dan ibunya Dewi. Ara menemani ibunya Dewi di dalam kamar, kalaupun ada orang yg melihat mereka, pasti akan menyangka mereka adalah anak dan ibu karena kedekatan mereka berdua.


"mah, tadi ara sempet beli buah-buah sebelum kesini, mamah mau buah yg mana, biar Ara kupasin, biar mamah cepet sembuh.."


ujar Ara sambil membuka bungkusan buah yg Ara beli tadi.


"yg mana aja sayang, terserah kamu.."


jawab ibunya Dewi dengan senyum.


karena masih merasa kesal dengan wanita di supermarket tadi, Ara pun menceritakan kejadian yg ia alami tadi di supermarket kepada ibunya Dewi.


sambil di suapi buah-buahan oleh Ara, ibunya Dewi menyimak semua cerita Ara dan kadang mengangguk juga tersenyum.


"kesel nggak tuh mah.."


tanya Ara di akhir ceritanya.


"iya, mamah juga pasti kesel, tapi kamu juga nggak boleh begitu, semakin suami kamu, kamu genggam di hadapan wanita lain, semakin wanita itu penasaran dengan suami kamu, itu pun kalau wanita itu bukan wanita baik-baik.."


jawab ibunya dewi.


"jadi Ara harus gimana dong mah ?"


tanya Ara sambil menidurkan kepalanya di paha ibunya Dewi. ibunya Dewi pun mengelus rambut Ara dengan penuh kasih sayang dan sesekali memberikan wejangan untuk rumah tangga Ara dan ian kedepannya.


mereka pun saling bercerita ini dan itu, sampai Ara menghentikan cerita mereka dan menyuruh ibunya Dewi untuk beristirahat sampai nanti waktu nya jam makan siang.


ibunya Dewi pun menurut, ia mulai beristirahat dan Ara keluar dari kamar ibunya Dewi. Ara keluar lalu menuju dapur, Ara melihat isi kulkas yg masih cukup banyak bahan masakan, namun sebelum Ara memasak, Ara menelpon Dewi terlebih dahulu.


sambungan telepon terhubung..


"halo, ada apa Ra ? mamah nggak kenapa-kenapa kan ?"


ujar Dewi saat mengangkat telepon dari Ara karena takut ada sesuatu yg terjadi pada ibunya.


"nggak ada apa-apa ko, gue cuman mau ngasih tau Lo, Lo jangan bawa makan siang dari luar, gue masak di rumah Lo.."


"ooh, syukur lah kalau tidak ada sesuatu yg terjadi sama mamah, iyaaa, ntar siang gue pulang ko.."


"iya, gue tau ko, ya udah, gue tutup ya.."


sebelum Dewi menjawab, Ara sudah mematikan telepon nya duluan dan membuat Dewi kesal sambil menatap ponselnya.


"kenapa ?"


tanya Jo.


"nih, orang aneh, belum juga beres nelpon udah di tutup duluan.."


"ya udah, biarin aja, emang kebiasaan Ara kaya gitu kan, fokus kerja lagi aja sayang.."


"apaan siih.."


jawab Dewi dengan malu-malu.


Dewi dan Jo pun kembali mengerjakan pekerjaan mereka.


setelah menutup telepon nya, Ara pun mulai membawa bahan makanan yg ada, menyimpannya di meja dan mulai mengupas, memotong, mencincang, menumis, menggoreng, menanak nasi dan lain sebagainya.


karena sudah terbiasa dengan memasak, Ara pun menghabiskan waktunya dengan tenang dan nyaman tanpa ada yg mengganggu nya di dapur. kebiasaan Ara saat sedang memasak sendirian adalah selalu memutar lagu kesukaannya, lagu-lagu klasik yg menenangkan.


tanpa Ara sadari waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, waktunya semua orang untuk makan siang dan sebelumnya juga, Ara meminta agar ian juga datang ke rumahnya Dewi untuk makan siang bersama dan Ian pun mengiyakannya.


tak berapa lama setelah Ara menyiapkan makanan di meja dan hendak ke kamar ibunya Dewi, Dewi dan Jo datang kemudian di susul Ian di belakang nya.

__ADS_1


"gue mau ke kamar mamah dulu.."


ujar ara dan hendak melangkahkan kakinya.


"nggak usah, biar gue aja yg ke kamar mamah, Lo pasti cape udah jagain mamah sama masak, mana Lo kan lagi hamil juga, biar gue aja.."


jawab Dewi, Ara hanya tersenyum.


Dewi pun masuk ke kamar ibunya dan melihat ibunya sudah duduk bersandar saja di atas tempat tidurnya.


"mah, makan dulu yu, mamah mau makan disini atau mau ke ruang makan ? atau kita makan disini bareng-bareng kaya kemarin ?"


ujar Dewi panjang lebar.


"mamah mau makan di meja makan bareng kalian aja, lagian, kaki mamah juga udah pegel nggak kegerak-gerak cuman selonjoran aja.."


"ya udah, sini Dewi bantu.."


Dewi pun menggandeng ibunya berjalan perlahan menuju ruang makan.


sesampainya di ruang makan, ara, Ian, Jo sudah menunggu di kursi mereka masing-masing. ibunya Dewi pun duduk di ikuti oleh Dewi yg duduk di samping nya.


"mamah mau makan apa ? biar Dewi ambilin.."


ujar Dewi.


"nggak usah dew, gue udah siapin makanan spesial buat mamah, biar mamah bisa cepet sembuh.."


Ara pun membawa sebuah nampan berisi makanan khusus untuk penyembuhan bagi orang-orang yg sedang sakit, yg penuh dengan gizi baik.


Ara pun menghidangkannya di hadapan ibunya dewi.


"makasih ya sayang.."


ujar ibunya Dewi sambil memegang tangan Ara.


jawab Ara tersenyum.


"thanks ya Ra, Lo emang yg terbaik.."


ujar Dewi sambil mengacungkan kedua jempol nya. Ara pun membalasnya dengan mengacungkan kedua jempolnya juga sambil tersenyum.


"ya udah, ayo kita makaaan.."


ajak Ara pada semua orang yg ada disitu.


semuanya pun mulai mengambil nasi dan lauk masing-masing, makan dengan rasa senang, kadang di selingi sedikit obrolan dan candaan, sampai akhirnya makan siang mereka pun selesai.


"kita sholat berjamaah.."


ujar Jo, yg membuat semua orang yg ada di ruang makan pun langsung menatap nya tanpa berbicara.


"kenapa ?"


tanya Jo heran.


"nggak kenapa-kenapa ko, ya udah, ayo.."


jawab ibunya Dewi dengan lembut.


semuanya pun satu persatu mengambil air wudhu, mulai dari laki-laki terlebih dahulu, kemudian di susul perempuan, karena Ara dan Dewi harus membantu ibunya Dewi terlebih dahulu untuk mengambil air wudhu kemudian mengantarkannya ketempat sholat dan memakaikan mukena, barulah Dewi dan Ara bisa berwudhu dan menyusul ke tempat sholat, mereka pun sholat berjamaah dengan Ian yg menjadi imam nya.


setelah selesai sholat, entah doa apa yg masing-masing dari mereka panjatkan kepada sang pemilik kehidupan, namun satu yg pasti, doa dari ibunya Dewi adalah agar dia bisa cepat sembuh dan bisa melihat anaknya bahagia bersama keluarga nya nanti, hingga nanti tuhan menjemputnya.


selesai semuanya, Ara dan Dewi kemudian membantu ibunya Dewi ke kamar nya untuk kembali beristirahat, sementara Jo dan Ian kembali ke ruang makan untuk membersihkan meja dan mencuci piring bekas mereka pakai tadi.

__ADS_1


Ara dan Dewi mencari para laki-laki dan mereka menemukannya sedang berada di dapur. saat mereka sedang mencuci piring Ara dan Dewi saling menatap, rasa ingin tertawa sudah pasti ada, namun rasa bangga mereka pada lelaki mereka masing-masing sangatlah besar.


Ara dan Dewi pun mendekati para lelaki dan Ara memeluk ian dari belakang sebagai tanda bangga dan terimakasih nya, sedangkan Dewi hanya diam di samping Jo.


"terimakasih atas segalanya sayang.."


ujar Ara tanpa malu, sedangkan Dewi hanya diam.


"sama-sama sayang.."


jawab Ian dengan tangan yg masih mencuci piring.


"kenapa kamu nggak meluk aku ?"


tanya Jo prontal.


"diih, mau banget di peluk ?"


"iyalah, Ara aja meluk Ian, ko kamu nggak meluk aku ?"


Dewi pun mendekat seperti hendak memeluk, namun sesaat kemudian Dewi berbisik.


"nanti kalo udah halal, baru aku peluk.."


kemudian Dewi pun sedikit demi sedikit mundur dari Jo, karena Dewi tau Jo pasti tidak akan terima begitu saja dengan jawaban dari Dewi.


dan benar saja, Jo langsung membersihkan tangannya dan mencoba mendekati Dewi namun Dewi semakin mundur dan berlari .ke arah ruang keluarga, Jo pun mengejar Dewi.


"eh Jo, beresin dulu.."


teriak Ian pada Jo, karena pekerjaan mereka belum selesai.


"udahlah, biar aku aja yg bantuin kamu, sedikit lagi juga kan ?"


ujar Ara sambil tersenyum, Ian pun membalas senyuman ara.


Dewi berlari mengitari sofa karena tidak ingin tertangkap oleh Jo, namun Jo lebih cerdik, saat Dewi akan berlari ke arah kiri, Jo pura-pura berlari mengejar Dewi, namun saat Dewi sudah berlari, Jo malah memutar arah larinya sehingga berlawanan dengan Dewi, akhirnya Dewi pun tertangkap oleh Jo, dan sekarang Jo bisa memeluk Dewi dan membawanya ke hadapan ian dan Ara.


"akhirnya, gue bisa meluk juga.."


ujar Jo menyombongkan diri di hadapan ian dan Ara yg baru saja selesai mencuci piring.


"baru juga gitu.."


ledek ian. mereka pun akhirnya saling beradu argumen sambil bercanda.


*


*


*


*


*


*


*


hidup bagaikan matahari, membawa hangat namun juga membawa panas.


hidup juga bagaikan angin, membawa sejuk namun juga membawa bahaya.


hidup juga bagaikan air yg mengalir, terlihat tenang di permukaan namun berbahaya di kedalaman.

__ADS_1


hidup juga bagaikan malam, yg membawa kedamaian dan ketenangan.


tergantung kita memilih jalan hidup yg seperti apa.


__ADS_2