
keesokan harinya...
hari ini adalah hari terakhir Jo dan Dewi bekerja setengah hari di kantor dan hari ini juga, sebelum Jo dan Dewi pulang siang nanti, Jo berniat akan mengumumkan undangan resmi pernikahan Jo dan Dewi kepada semua pekerjanya.
sebenarnya, dalam hati, Dewi merasa deg-degan karena Jo akan mengumumkan semuanya secepat ini, tapi mau bagaimana lagi, cepat atau lambat semua orang juga pasti akan mengetahuinya.
"tenang aja, semuanya pasti berjalan dengan lancar.."
ujar Jo mencoba menenangkan Dewi yg sedang memandang kosong kearah laptop di depannya.
mendengar ucapan Jo, Dewi pun mulai mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Jo, mencoba tersenyum namun tetap saja tidak bisa di pungkiri bahwa Dewi masih atau bahkan semakin merasa deg-degan.
"kita kembali kerja, mulai besok kan kita libur, jadi, ayo semangat.."
ujar Jo menyemangati calon istrinya itu.
"iya, benar kata Jo, ini hari terakhir kerja, jadi aku harus semangat.."
gumam Dewi dalam hati mencoba menyemangati dirinya sendiri dan mencoba melupakan rasa deg-degan yg dia rasakan saat ini dengan mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan.
teng, teng, teng..
bunyi jam terdengar menggema di dalam ruangan kerja Jo, artinya, jam kerja mereka sudah selesai karena ini saat nya jam makan siang bagi para karyawan.
Jo dan Dewi membereskan meja mereka.
sebelum nya...
"tolong nanti sebelum makan siang kamu umumkan di speaker kantor yg terhubung ke semua ruangan, agar semua karyawan berkumpul di aula kantor saat jam makan siang.."
perintah Jo pada salah resepsionis nya saat Jo tiba di kantor tadi pagi.
setelah selesai membereskan meja masing-masing, Jo dan Dewi berjalan ke arah aula kantor dengan Dewi yg membawakan tas kerja Jo dan berjalan sedikit di belakangnya.
pintu aula terbuka, ruangan yg tadi nya bising karena para karyawan sedang berbincang tentang apa yg akan di umumkan oleh pimpinan nya itu tiba-tiba saja hening saat Jo memasuki ruangan dengan Dewi di belakangnya.
semua karyawan berdiri saat Jo berjalan menuju mejanya. setelah sampai di mejanya, barulah Jo memberikan isyarat kepada para karyawannya untuk duduk di tempatnya masing-masing.
setelah semua karyawannya duduk, Jo kemudian berdiri, mengambil mic dan memulainya dengan pembukaan.
setelah beberapa saat barulah Jo mengumumkan rencananya.
"baiklah, langsung pada intinya, saat ini, di tempat ini, saya mengumpulkan kalian semua disini, karena ada beberapa hal yg akan saya sampaikan. pertama, saya ingin mengundang anda semua ke acara pernikahan saya pada hari Minggu, tepatnya 4 hari lagi dari sekarang. kedua, saya ingin memperkenalkan calon istri saya kepada kalian semua.."
ruangan kembali mulai berisik dengan orang-orang yg saling bertanya-tanya tentang siapa calon istri dari pimpinan mereka itu.
Jo pun mulai memukul mic nya dan membuat para karyawannya kembali fokus pada apa yg akan di bicarakan nya. setelah semua karyawannya diam dan ruangan kembali hening, barulah Jo melanjutkan pengumumannya.
Jo memegang tangan Dewi agar Dewi mau berdiri dari duduknya. Dewi pun berdiri.
"perkenalkan, ini adalah calon istri saya.."
__ADS_1
kembali, semua karyawan berbisik satu sama lain, entah apa yg ada di pikiran masing-masing bara karyawan tersebut namun Jo kembali berbicara.
"saya kenal Dewi, jauh sebelum Dewi bekerja bersama saya di kantor ini, Dewi adalah teman saya, seiring berjalannya waktu, mungkin inilah yg di namakan takdir / jodoh. jadi saya harap, kalian jangan salah paham dengan saya ataupun Dewi, jangan sampai saya mendengar sedikit saja kalian membicarakan kami, baik di dalam kantor ataupun di luar kantor.."
ujar Jo panjang lebar menjelaskan. semua karyawan pun mulai mengerti dan mentaati perintah pimpinan mereka.
setelah selesai memberikan pengumuman, Jo pun mempersilahkan para karyawannya untuk makan siang dengan makanan yg sudah Jo siapkan di ruangan sebelah untuk seluruh karyawan nya. setelah selesai, Jo dan Dewi pun mulai meninggalkan ruangan menuju mobilnya.
saat ini, Jo mengemudikan mobilnya sendiri karena Jo meminta supirnya untuk mengantarkan mobil Dewi ke rumahnya.
sebelum mengantarkan Dewi pulang, Jo dan Dewi menuju ke salah satu restoran, memesan makanan untuk dibawa pulang.
setelah makanan datang, Jo pun membayarnya.
Jo dan Dewi melanjutkan perjalanan mereka ke rumah Dewi.
selama perjalanan Dewi masih saja diam.
"kenapa ?"
"nggak kenapa-kenapa, aku masih nggak percaya aja, sekarang semua orang tau hubungan kita, sebentar lagi kita juga bakalan nikah.."
ujar Dewi dengan ekspresi wajah yg sulit untuk di tebak.
sesampainya di rumah, Dewi langsung membuka pintu dan masuk, di ikuti Jo di belakangnya.
saat Dewi dan Jo sudah berada di dalam rumah, Jo dan Dewi kaget karena ibunya Jo ada di dalam rumah bersama mamahnya dewi yg sudah mulai sembuh dari sakit nya.
"mamih ko ada disini, tapi Jo nggak liat mobil mamih.."
"mamih sengaja nyuruh supir pulang.."
jawab mamahnya Jo sambil tersenyum.
Dewi meminta ijin sebentar untuk menyiapkan makanan di dapur, sedangkan Jo menemani para ibu.
setelah Dewi selasai menyiapkan makanan, barulah mereka menuju ruang makan untuk makan siang bersama.
di meja makan, tidak banyak yg berbicara, tidak seperti biasanya.
setelah selesai makan, para ibu kembali menuju ke ruang keluarga untuk melanjutkan obrolan mereka, sedangkan Dewi dan Jo membereskan meja makan dan mencuci piring terlebih dahulu sebelum mereka ikut berbincang.
"kira-kira, mamih sama mamah ngomongin apa ya ?"
ujar Dewi sambil mencuci piring.
"nggak tau, coba nanti kamu tanyain.."
jawab Jo tersenyum sambil membersihkan cucian.
setelah selesai di dapur, barulah Jo dan Dewi menuju ruang keluarga.
__ADS_1
Jo dan Dewi duduk di dekat ibunya masing-masing.
"hari pernikahan kalian kan tinggal beberapa hari lagi, semua persiapan sudah selesai, tinggal bagi-bagi undangan sama baju pengantin.."
ujar mamahnya dewi.
"iya bener, soal bagi-bagi undangan, kalian nggak usah khawatir, mamih bisa nyuruh asisten mamih buat bagi-bagi, kalo buat baju, mamih udah bikin janji sama desainernya, besok kalian fitting di butiknya jam 9 pagi.."
ujar maminya Jo.
Jo dan Dewi hanya menjawab iya dan mengangguk.
setelah selesai membahas semua tentang pernikahan, maminya Jo dengan keisengannya menanyakan, kemana mereka berdua akan berbulan madu dan hal itupun membuat Dewi malu dan menundukkan kepalanya.
Jo yg melihat Dewi menundukkan kepalanya karena malu pun mulai menepuk pelan tangan ibunya.
"apaan sih mih, pake nanya yg kaya gitu sekarang.."
ujar Jo sedikit berbisik.
"ya biarinlah, kan biar mamih tau, kenapa mesti malu coba, iya kan besan.."
"ah, iya benar.."
jawab ibunya Dewi sambil tersenyum karena tau keisengan calon besannya itu.
entah apa yg mereka bicarakan, namun ada saja hal yg menjadi obrolan mereka.
*
*
*
*
*
*
*
saat kau merasa lelah, beristirahatlah.
saat kau merasa sedih, menangislah.
saat kau merasa bahagia, tersenyumlah.
saat kau merasa mulai depresi, ceritakanlah.
jangan pernah kau pendam segalanya hanya untuk dirimu sendiri, karena kau tidak hidup sendiri.
__ADS_1