
*keesokan harinya.....
"mah, Dewi berangkat kerja dulu ya.."
pamit Dewi pada ibunya setelah mereka berdua selesai sarapan.
Dewi mengendarai mobilnya sendiri menuju kantor. dewi terlihat sangat berseri-seri hari ini, entah apa yg dia rasakan hari ini, namun yg pasti dia sangat bahagia.
sesampainya di kantor, Dewi kemudian masuk dan menuju ruangannya dengan tas besar yg dia bawa.
saat lift terbuka, Dewi tak lupa menyapa rekan kerja yg satu lantai dengan nya dan memberikan hadiah yg sudah dia siapkan sebelumnya kemarin.
"makasih ya dew.."
ujar salah satu rekan kerja Dewi.
"iya sama-sama, kalo gitu, aku ke ruangan aku dulu ya, semoga kalian suka dengan hadiahnya.."
ujar Dewi kemudian berjalan menuju ruangannya.
tak lama kemudian, Jo tiba di kantor.
dia berjalan penuh dengan karisma dan wibawa melewati para karyawan nya, namun tidak dapat di bohongi kalau raut wajahnya sedang menunjukkan rona bahagia.
"selamat pagi pak.."
itu adalah kalimat yg selalu mengawali hari Jo saat ia ada di kantor. karena dari mulai gedung bawah sampai gedung atas, semua karyawan nya pasti akan mengatakan kalimat tersebut setiap paginya saat melihat Jo melewati mereka tanpa menyapa.
saat pintu terbuka, Jo pun memasuki ruangannya.
Jo tersenyum saat seseorang yg sedari sudah ingin dia temui sudah siap menyambutnya.
"selamat pagi pak.."
tanpa menjawab Jo langsung memeluk Dewi.
Dewi terkejut dengan perlakuan Jo pagi ini padanya, apalagi mereka sedang berada di lingkungan kerja.
"aku ingin setiap pagi saat kau mengatakan selamat pagi, kau juga akan memeluk ku.."
bisik Jo pada Dewi lalu melepaskan pelukannya.
"maaf saya tidak bisa pak.."
jawab Dewi, bukannya marah, Jo malah tersenyum dan mengacak-acak rambut Dewi.
"kerja bagus.. kamu bisa membedakan urusan pribadi dan pekerjaan, kayanya aku makin jatuh cinta deh sama kamu.."
Dewi tersenyum.
"ya sudah, ayo mulai kerja.."
Jo dan Dewi pun kembali ke meja kerja masing-masing.
"sayang, aku berangkat ke kantor dulu ya.."
"iya, hati-hati sayang.."
jawab Ara, Ian pun berangkat ke kantor nya.
di rumah sekarang hanya tinggal ara, ibunya dan para pekerjanya.
Ara kemudian pergi menuju tempat para pekerjanya, membuka laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya.
melihat Ara yg tengah sibuk dengan pekerjaannya yg tertunda selama dia liburan, ibunya pun membawakan makanan dan minuman untuk menemani putrinya itu bekerja.
__ADS_1
Ara dan ibunya pun saling bekerja sama untuk membangun usaha bisnis yg selama ini keluarganya rintis agar lebih berkembang lagi.
mereka pun menghabiskan waktu bersama dengan pekerjaan masing-masing namun tetap saling berbincang dan tertawa bersama.
*Ting (suara pesan masuk dari ponsel Dewi)
Dewi pun membuka pesan tersebut, dari yg tadinya wajahnya berseri, kini terlihat sedikit lesu dan muram.
Jo yg memperhatikan perubahan mood pada Dewi pun hanya diam saja, belum saatnya dia bertanya, karena saat ini masih jam kantor.
saat jam makan siang tiba, Jo dan Dewi pergi ke suatu restoran untuk makan siang. saat menunggu makanan datang Jo pun bertanya.
"kenapa ?"
"apa ??"
"setelah kamu dapet pesan tadi, wajah kamu tiba-tiba jadi muram.."
"nggak ah, biasa aja.."
"bilang aja, kenapa ?"
Dewi tidak menjawab dan Jo pun tidak ingin memaksa Dewi untuk bercerita. mereka menghabiskan makanan mereka dengan pemikiran masingmasing.
setelah makan siang, mereka kembali ke kantor dengan mood Dewi yg masih belum kembali seperti sebelumnya. di dalam mobil pun hanya ada keheningan, begitu juga saat mereka berjalan menuju ruangan mereka.
saat mereka sudah berada di ruangannya, tiba-tiba Dewi memeluk Jo.
entah bagaimana perasaan Dewi saat ini, seperti sedang bereksperimen larutan kimia, semua bahan di campur menjadi satu, entah apa yg akan terjadi nanti saat bahan-bahan itu telah tercampur, akankah meledak atau malah akan mereda karena ada suatu larutan yg mampu meredakannya. entahlah...
tidak ada air mata yg keluar dari matanya, namun entah apa yg di rasakan nya, antara kesal, benci, marah, bahagia dan lainnya bercampur menjadi satu.
"kenapa harus gini sih ka.."
ujar Dewi masih dalam pelukan Jo.
"ya udah nggak apa-apa, mungkin masih ada sedikit kesan yg tertinggal di hati kamu saat kamu dulu masih sama dia, sekarang kita kembali kerja dulu, nanti kita bahas lagi ini.."
jawab Jo mengelus rambut Dewi kemudian melepaskan pelukannya. mereka pun kembali pada pekerjaan nya masing-masing, melupakan sesaat perasaan yg saat ini sedang Dewi rasakan.
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam.."
"gimana mas kerjaannya.."
tanya Ara pada Ian yg baru saja datang kemudian membawakan tas kerja dan jas suaminya itu.
"ya gitulah sayang, namanya juga kerja.."
jawab Ian dengan tersenyum.
mereka pun melanjutkan pembicaraan mereka sambil berjalan menuju kamar mereka.
"nanti malam aku ke rumah kamu ya.."
ujar Jo pada Dewi saat berada di parkiran kantor hendak pulang. Dewi hanya mengangguk tanpa ekspresi.
setelah sampai di rumahnya, Jo pun langsung bersih-bersih dan mengenakan pakaian santainya, karena malam ini ia ingin berkunjung ke rumah Dewi untuk meluruskan hal yg terjadi pada Dewi, selesai sholat magrib, Jo pun langsung berangkat.
"masuk nak.."
ujar ibunya Dewi yg membukakan pintu.
"Dewinta ada Bu ?"
__ADS_1
"ada, sebentar ya.."
Jo hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
ibunya Dewi pun kemudian memanggil Dewi yg sedang berada di kamarnya sedari pulang kerja tadi.
setelah ibunya memberitahu kalau Jo datang, Dewi pun turun untuk menemui Jo.
mereka berdua memulai pembicaraan dengan hal kecil terlebih dahulu, sebelum Dewi menceritakan apa yg sebenarnya dia rasakan saat ini.
saat Jo dan Dewi sedang membicarakan hal yg mulai serius, terdengar suara adzan, mereka pun memutuskan untuk beribadah terlebih dahulu bersama ibunya Dewi juga.
saat ibadah telah selesai, ibunya Dewi mengajak Jo dan Dewi untuk makan malam terlebih dahulu sebelum mereka melanjutkan pembicaraan mereka.
saat di meja makan, dengan tenang dan tanpa merasa bersalah, ibunya Dewi bertanya pada Dewi.
"kamu kenapa ?"
"Dewi ?"
"iyalah, masa iya nak Jo.."
"Dewi nggak kenapa-kenapa ko Bu,.."
"jangan bohong sama ibu.."
Dewi pun terdiam sesaat, mungkin ibunya juga harus tau tentang ini. dengan sekuat tenaga Dewi memberanikan diri untuk bercerita pada ibunya juga di hadapan Jo.
"tadi Dewi dapet Vidio undangan pernikahan nya Aldi.."
"ya terus.."
"nggak tau kenapa, Dewi ngerasa sesak banget pas liatnya mah, Dewi kaya belum siap aja gitu dapet undangannya.."
"mungkin itu cuman perasaan km aja sayang, sekarangkan kamu udah ada Jo, kenapa harus mikirin yg lain lagi.."
"iya sih, mamah bener, sekarang aku cuman harus ikhlasin semua kenangan aku sama dia aja kali ya mah.."
ibunya Dewi dan Jo pun tersenyum saat mendengar Dewi mengatakan hal seperti itu, mereka pun melanjutkan makan malam mereka.
"sayang, besok jam 9 mamah berangkat lagi ke Jepang, kamu baik-baik ya disini.."
"kenapa bentar banget sih ibu disininya, Ara kan masih kangen... oh iya, besok sebelum ibu berangkat, tolong bawa hadiah yg udah Ara siapin buat sodara kita yg disana, sama buat ayah juga.."
"iya sayang..."
*
*
*
*
*
*
*
*
"kenangan indah dan berkesan memang tidak mudah untuk di lupakan,
begitu pula dengan rasa sakit dan kecewa.
__ADS_1
semua itu akan tertanam dan teringat di dalam hati dan pikiran.
tergantung kita akan membawa semua rasa itu kemana..."