
Ting tong....
bel pintu rumah Dewi berbunyi.
"siapa ya, pagi-pagi udah namu aja.."
dumel Dewi menuju pintu.
saat pintu terbuka seseorang langsung memeluknya.
"kangen banget gue sama loooo.."
ujar Ara.
"bukannya salam, malah langsung nyosor aja.."
ujar dewi kemudian melepas pelukan Ara. ara pun tersenyum menunjukkan barisan gigi nya.
"mamah mana ?"
ujar ara kemudian masuk nyelonong kedalam rumah Dewi.
"ada, lagi di dapur.."
"pas banget, gue belum sarapan.."
Ara pun langsung ke pergi ke arah dapur.
"istri Lo tuh.."
ujar Dewi pada Ian yg sedari tadi ada di belakang Ara. Ian hanya tersenyum kemudian mendorong badan Dewi menuju ke arah dapur nya juga.
"ya udah lah, ayo ke dapur.."
Dewi yg sudah biasa dengan tingkah laku suami istri itu pun hanya bisa mendumel sendiri tanpa bisa marah-marah.
"assalamualaikum maaaah.."
ujar Ara saat melihat ibunya Dewi sedang memasak di dapur.
"waalaikumsalam sayang.. pagi banget.."
"iyaa, abisnya aku mau sarapan buatan mamah.."
jawab Ara tersenyum.
"ke mamah aja Lo salam, manja-manja, nah ke gue.."
"biarin aja.."
jawab Ara kemudian memeluk ibunya dewi.
"ya udah, duduk sana, mamah buatin sarapan buat kamu.. duduk Ian.."
"iya mah.."
jawab Ian.
saat sarapan...
"maaf ya mah, Ara sama Ian kesini pagi-pagi banget, tau sendiri kan mah, ibu hamil.."
ujar ian.
"iyaaa, gak apa-apa ko, malahan mamah seneng kalo kalian kesini, mamah sama Dewi jadi ada temen buat ngobrol.."
"tapi abis ini Ian harus ke kantor mah.."
"iya gak apa-apa, ara sama mamah aja disini, nggak usah khawatir.."
"maaf ya mah, jadi ngerepotin mamah.."
"nah Lo tau.."
ujar Dewi menyambar.
"dewiiiii.."
ujar ibunya.
__ADS_1
"iyaaa, Dewi cuman becanda ko.. tenang aja Ian, gue bakalan jagain Ara sama keponakan gue ko.."
ujar Dewi tersenyum.
setelah selesai sarapan, Ian pun berangkat ke kantor.
Ara, Dewi dan ibunya pun kembali ke ruang tengah.
Dewi mulai menyiapkan semua yg di perlukan untuk pernikahan nya lusa nanti.
"besok lo nginep disini ya.."
pinta Dewi pada Ara.
"gue harus ijin dulu sama Ian.."
"besok kan gue harus siap-siap, luluran, meni-pedi dan lain-lain, Lo temenin gue ya.."
"iyaaaa gue temenin, tapi gue minta ijin ke Ian dulu yaaaaa.."
jawab Ara sedikit tertawa.
"iya deh iyaaaa.."
jawab Dewi malas.
"iya sayang, kamu nginep disini ya, nanti mamah yg ijin ke Ian.."
"iya mah, Ara nginep disini.."
Ian pun tiba di kantornya, masuk kedalam ruangannya.
ternyata di dalam ruangan Ian sudah ada Jo sedang duduk di sofa sambil menyeruput kopi.
"lah, udah disini aja.."
"gue bosen, nggak ada kerjaan, di rumah sepi, pada sibuk, ya udah, gue kesini aja, gue nggak ganggu Lo kan.."
jawab Jo tersenyum.
"nggak ko, santai aja, kerjaan gue hari ini juga nggak padet, nggak ada meeting juga.."
"bentar, gue hubungin sekretaris gue dulu.."
ujar ian.
mereka pun akhirnya saling bercerita, mulai dari bisnis hingga pribadi sampai jam makan siang.
jo dan Ian pun memutuskan untuk makan siang di luar.
selama perjalan menuju restoran, mereka terus saja ngobrol, ada saja bahan cerita masing-masing.
sampai tiba di restoran, Ian dan Jo masih saja mengobrol.
"silahkan hidangannya tuan.."
ujar pramusaji.
"apakah saya boleh bergabung ?"
terdengar suara dari seorang laki-laki yg nampak saumuran dengan mereka.
"maaf ..."
ujar ian.
"oh ya, perkenalkan, saya dewa, saya temannya Dewi dan Ara.."
jelas dewa.
"teman ? setahu saya, Ara dan Dewi tidak memiliki teman yg namanya dewa.."
jelas jo yg selalu bersama dewi.
dewa hanya tersenyum, tanpa tahu harus menjawab apa hanya tatapannya saja yg melihat ke arah ian yg sedang mengingat nama dewa.
"ooh, kau dewa, yg saat kecil dulu pernah membuat Ara dan Dewi sedih karena kepergian kamu yg dadakan itu kan ?"
dewa pun tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"bolehkah ?"
ijin dewa untuk ikut duduk bersama Ian dan Jo.
"silahkan.."
jawab Ian, di dewa pun duduk di ikuti pramusaji yg menyiapkan makanan untuk dewa.
"maksud nya gimana ?"
tanya Jo yg penasaran karena itu juga menyangkut dengan Dewi.
dewa dan Ian pun menceritakan kejadian masa lalu itu.
selesai makan, mereka memutuskan untuk mencari tempat santai dan saling berbagi cerita di masa lalu.
tanpa Jo dan Ian tau, dewa sudah mengetahui semuanya, siapa Jo, bagaimana latar belakang nya, keluarga nya dan kehidupannya.
dewa, mungkin bukan nama yg asing bagi Dewi dan Ara di masa kecil mereka.
dewa, seorang anak laki-laki yg selalu memberikan perhatian lebih pada dua gadis kecil di masa nya.
seorang anak laki-laki yg selalu menjadi primadona bagi gadis kecil seumurannya saat itu kini sudah tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa yg tampan dan penuh karisma, laki-laki yg selama hidup nya ini hanya mencintai 2 wanita sampai saat ini. laki-laki yg selalu mengawasi wanitanya dari jauh.
"jadi selama ini Lo di Swiss ?"
tanya ian.
"iya, gue nerusin pendidikan gue disana.."
"oh ya, lusa nanti gue sama Dewi mau nikah, Lo Dateng ya.."
ujar Jo pada dewa.
"pasti.."
dewa tersenyum.
tanpa Jo beritahu pun, dewa sudah tau.
hari sudah mulai sore, mereka pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka, namun sebelum pergi, mereka saling menukar nomer telepon.
"ya udah, gue duluan ya, gue harus jemput Ara dulu di rumah Dewi.."
ujar ian.
"sebenernya sih gue pingin ikut ke rumah Dewi, tapi mamah pasti marahin gue, soalnya gue di larang ketemu dulu sama Dewi.."
ratap Jo.
"sabaaar, lusa juga ketemu ko.."
sindir Ian.
"kalo gitu, boleh nggak gue ikut ke rumah Dewi, gue mau ketemu.."
ujar dewa.
"ya udah, ayo.."
jawab Ian.
mereka pun pulang dengan mobil masing-masing.
*
*
*
*
*
*
*
percayalah pada takdir, karena semua itu sudah ditentukan oleh tuhan.
__ADS_1
baik dan buruk nya sudah tuhan pertimbangkan, hanya kita saja yg harus tau bagaimana cara untuk mengatasinya, untuk bisa mencapai bahagia