
di dalam rumah, Ian menelpon ibunya Ara terlebih dahulu dengan sambungan Vidio call untuk memberitahukan berita bahagia ini.
sambungan telepon terhubung, mereka pun langsung memberitahukan kabar gembira bahwa Ara hamil, betapa senang nya ibunya Ara saat tau anak nya sedang mengandung cucu pertama bagi kedua keluarga.
"Alhamdulillah sayang, Allah maha baik, oh ya yan, tolong jaga anak dan cucu mamah baik-baik ya.."
"iya mah, Ian pasti jagain mereka berdua.."
jawab Ian sambil mengelus perut Ara lembut, Ara pun tersenyum manis ke arah ian.
setelah banyak bercerita dan mendapatkan nasihat dari orang tua Ara, sekarang giliran Ara dan ian menelpon mamih dan papi Ian.
saat sambungan telepon sudah terhubung, seperti halnya mereka katakan tadi pada ibunya Ara, mereka pun mengatakan hal yg sama pada mamih ya Ian.
"ya ampun sayaaang, selamat ya, mamih ikut bahagia,.. yan jaga menantu sama cucu mamih.. awas kalo sampe mamih lihat menantu sama cucu mamih sakit atau apapun itu.."
"siap mih, Ian bakalan jagain istri sama anak Ian baik-baik.."
jawab Ian sambil memberi hormat pada mamih nya seakan dia sedang upacara.
cukup lama mereka berbincang, sama seperti mamah nya Ara, mamih Ian pun memberikan nasehat, wejangan dan lain sebagainya pada Ian dan Ara.
setelah sambungan telepon terputus, Ara pun langsung menelpon dewi, kebetulan saat ini akan menuju jam istirahat kantor.
ponsel Dewi berbunyi saat Dewi sedang membereskan meja kerjanya.
"dewiiiiiiiiiii...."
teriak Ara di sebrang telpon.
"apaan sih Ra, berisik tau.."
"gue mau Lo sama ka Jo ke rumah gue sekarang, kalian harus Dateng, sekarang juga, kalo nggak, gue bakalan marah sama lo.."
"gue sama ka Jo mau makan siang dulu.."
"iya Lo makan siangnya disini aja, Lo harus dateng.."
belum selesai Dewi hendak menjawab namun Ara sudah menutup telepon nya terlebih dahulu.
Jo yg melihat ekspresi aneh di wajah Dewi pun menanyakan kenapa. Dewi pun menjawab dengan apa adanya sesuai yg ia dengar tadi.
Jo pun memutuskan untuk menuruti saja keinginan Ara. Jo dan Dewi pun pergi ke rumah Ara agar Ara tidak marah pada mereka berdua.
di sepanjang perjalanan menuju rumah Ara, Dewi dan Jo mampir dulu ke minimarket untuk membeli sesuatu sebagai buah tangan untuk Ara. setelah selesai mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Ara.
sesampainya di rumah Ara, Dewi menekan bel rumah nya, tak lama kemudian Ara pun keluar membukakan pintu.
tanpa terbayang sebelumnya oleh Dewi, tiba-tiba Ara langsung memeluknya kemudian menarik tangan Dewi untuk segera masuk dan mendudukkan Dewi di kursi dengan sedikit mendorongnya.
"apa sih Ra ?"
__ADS_1
tanya Dewi sangat penasaran.
"Lo tau....."
"nggak lah, di kasih tau aja belum, gimana gue bisa tau.."
"gue hamiiiL.."
Jo dan Dewi pun saling menatap kemudian menatap ke arah Ara yg sedang tersenyum bahagia.
"aaaaaaaah, selamat yaaaaaa.."
ujar Dewi kemudian memeluk Ara dan menggoyang-goyangkan badan mereka berdua ke kiri dan ke kanan.
"selamat ya Ra.."
ujar Jo mengulurkan tangannya sebagai tanda selamat.
Ian pun datang dari arah dapur dengan membawa minuman untuk Dewi dan jo lalu menyimpannya di atas meja.
"ya udah, kita langsung makan aja lah, kalian pasti laperkan ?"
ujar ian pada ara, Dewi dan Jo.
Ara pun menganggukkan kepalanya kemudian menarik tangan Dewi menuju dapur. mereka pun makan bersama, hitung-hitung sebagai rasa syukur Ara dan ian mengetahui kehamilan ara, sebelum syukuran yg sebenarnya di gelar saat 4 atau 7 bulanan nanti.
setelah selesai makan siang, mereka pun berkumpul di ruang tamu.
tanya ian.
"kayanya nggak deh, kerjaan gue juga udah beres, ia kan sayang.."
"hah ?"
jawab Dewi dengan ekspresi terkejut karena baru pertama kalinya Jo memanggilnya sayang di depan umum, sekalipun itu di hadapan ian dan Ara.
Ara dan ian pun tersenyum seakan mereka merasakan bagaimana mereka malu-malu saat berpacaran dulu.
"kerjaan aku udah beres kan ?"
"i..iya, udah beres ko.."
jawab Dewi terbata-bata.
"udahlah wi nggak usah malu.."
sindir Ara sambil tersenyum, Dewi yg malu pun hanya bisa melirikkan matanya sinis ke arah Ara.
mereka pun melanjutkan pembicaraan mereka. sampai-sampai Ara dan Dewi sempat-sempatnya menonton k-drama dan bagaimana proses kehamilan pada ibu muda.
hingga sore hari tiba, Jo dan Dewi pun pamit pulang.
__ADS_1
setelah Jo dan Dewi pergi, di dalam rumah, Ara dan Ian bekerja sama untuk membereskan sisa-sisa makanan yg sudah mereka makan tadi.
Ian tidak mau Ara kelelahan, jadi Ian hanya meminta Ara untuk membereskan meja di ruang tamu saja, sedangkan ian akan mencuci piring, membereskan meja makan dan memvacum karpet.
setelah selesai semuanya, Ara dan ian pun kembali duduk di ruang keluarga, menonton acara televisi kesukaan Ara.
sedangkan di perjalanan pulang, di dalam mobil, Dewi tak hentinya tersenyum ke arah jalanan.
"kenapa ?"
tanya Jo yg membuat senyuman Dewi tiba-tiba memudar.
"nggak kenapa-kenapa.."
"marah masalah tadi ya, aku panggil kamu sayang ?"
dewi hanya diam memandangi jalanan di depannya.
"aku minta maaf deh soal yg tadi, tapi lain kali juga kamu harus biasain kalau aku panggil kamu sayang, ya.. oh ya, tadi kamu nonton apaan sama Ara ?"
tiba-tiba senyuman Dewi kembali menghiasi wajahnya saat mengingat bagaimana proses kehamilan pada ibu muda.
"tadi aku sama Ara nonton proses kehamilan dan proses persalinan, ternyata kedua proses itu penuh dengan perjuangan, tapi saat bayi itu keluar dan kita dengar tangisannya, seakan semua rasa sakit itu hilang.. aku sama Ara juga tadi sampe nangis nonton Vidio nya.."
"nanti juga kamu pasti bakalan ngalamin proses itu, tapi kamu tenang aja, aku akan usahakan buat selalu ada di samping kamu di saat apapun itu.."
ujar jo tersenyum ke arah Dewi dan menggenggam tangan Dewi dengan tangan kirinya.
"terimakasih.."
jawab Dewi tersenyum dan membalas genggaman tangan Jo.
sesampainya di rumah Dewi, Dewi menawarkan pada Jo untuk mampir, namun Jo tidak bisa, karena Jo harus menyiapkan sesuatu untuk acara besok. Jo pun hanya menitipkan salam untuk mamah nya dewi, setelah itu jo pun melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah dewi, menyusuri jalanan menuju rumahnya.
setibanya di dalam rumah, Dewi pun langsung menemui ibunya dan menceritakan semuanya. ibunya dewi pun ikut bahagia dengan cerita yg di dengarnya barusan.
*
*
*
*
*
*
*
jika kamu merasa dirimu tidak berharga di mata orang lain, tapi ingatlah kamu masih bisa berharga di mata Tuhan mu dengan kelakuan-kelakuan baik mu.
__ADS_1