
setelah makan malam, Jo, Dewi, ibunya Jo juga ibunya dewi kembali ke ruang keluarga, sedikit banyak mereka bercerita tentang kebiasaan Jo dan Dewi, dari hal yg biasa sampai hal yg tidak di sangka-sangka.
mereka saling bertukar cerita agar Jo dan Dewi tau kebiasaan, kebaikan juga keburukan masing-masing, sehingga saat berkeluarga nanti mereka bisa saling mengingatkan juga saling melengkapi kekurangan masing-masing.
setelah waktu menunjukkan pukul 9 malam, Jo dan ibunya berpamitan untuk pulang. sudah cukup untuk hari ini, mulai besok, kedua keluarga akan mulai sibuk dengan persiapan pernikahan Jo dan dewi.
setelah Jo dan ibunya pulang, Dewi dan ibunya kembali ke ruang keluarga. Dengan rasa sedikit penasaran, dewi ingin segera melihat isi dari hadiah yg di bawakan oleh ibunya Jo untuk dirinya. Dewi membuka satu kotak berwarna pink, di dalamnya terdapat sepasang sepatu cantik bermerek yg sedang banyak di buru saat ini oleh para gadis karena limited edition.
ibunya Dewi pun ikut membuka salah satu dari tiga kotak yg di berikan ibunya Jo tersebut yg berwarna biru dan yg ibunya Dewi buka berisi sebuah tas branded warna hitam yg sangat elegan. Dewi pun membuka satu kotak terakhir yg berwarna merah, Dewi terkejut saat tau isinya adalah satu set perhiasan dari batuan mulia dengan sebuah surat di dalamnya.
"pakailah perhiasan ini saat pernikahanmu, karena ini adalah perhiasan turun temurun di keluarga kami untuk anggota keluarga baru. semoga kamu menyukainya dan kamu akan terlihat sangat cantik saat memakainya".
kira-kira seperti itulah isi dari surat tersebut.
Dewi merasa apakah ia harus merasa beruntung atau malah sebaliknya, karena saat Dewi menikah dengan Jo nanti, mungkin akan ada beberapa omongan orang lain terhadap dirinya.
dari cerita-cerita yg di bicarakan oleh ibunya Jo selama ini tentang keluarganya, meskipun keluarga Jo selalu merendah dan berbaur dengan orang-orang biasa saja tapi Dewi baru sadar kalau keluarga Jo bukanlah keluarga yg sembarangan, bukan keluarga yg hanya memiliki bisnis biasa tetapi juga memiliki kekuasaan yg cukup meluas di berbagai wilayah bahkan negara.
Dewi merasa sedikit cemas dengan semua ini.
"mah, apa Dewi pantas berada di samping Jo ?"
tanya Dewi pada ibunya saat telah membaca surat kecil tersebut dan mengamati perhiasan dalam kotak dengan ekspresi wajah yang sedikit sedih, cemas dan takut.
"percaya dengan hati kamu sayang.. jangan jadiin ini beban buat kamu, anggap aja kamu nggak tau apa-apa tentang keluarganya Jo, anggap Jo sebagai Jo yg kamu kenal selama ini, Jo yg baik, pengertian, penyayang juga pekerja keras.."
Dewi hanya diam, meresapi kata-kata ibunya di dalam hati dan pikirannya kemudian dia melihat ibunya dan mulai sedikit tersenyum manis.
"makasih ya mah, mamah selalu ada buat Dewi saat Dewi dalam keadaan apapun itu.."
ujar Dewi menyimpan kotak di atas meja kemudian memeluk ibunya. ibunya pun hanya tersenyum sambil mengelus rambut putri kesayangannya itu.
"ya udah, kita beresin semua ini, kamu bawa hadiah-hadiah itu dan bunga itu ke kamar kamu, mamah simpen dulu buah-buahan ini ke dapur.."
ucap ibunya Dewi sambil melepaskan pelukan anaknya itu, Dewi pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
ibunya Dewi pergi ke arah dapur dengan membawa parsel berisi buah-buahan yg cukup banyak, sedangkan Dewi pergi ke kamarnya untuk menyimpan hadiah dan tidak lupa untuk memberitahu sahabatnya tentang hal ini.
"kasih tau Ara sekarang nggak ya ? takut nya dia udah tidur. apa mending besok aja ya aku ke rumah nya ?"
gumam Dewi sambil memegangi dan memperhatikan ponselnya.
"ya udahlah besok aja aku ke rumahnya.."
itulah keputusan terakhir Dewi kemudian dia pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dan menghapus riasan wajah nya kemudian berbaring di atas kasur dan mulai berisitirahat setelah seharian penuh dengan kegiatan yg cukup melelahkan.
pagi harinya, saat Dewi keluar dari selimut hangat nya dan hendak menuju kamar mandi, Dewi sempat mendengar ponsel nya berbunyi, Dewi pun melihat ponselnya terlebih dahulu sebelum ke kamar mandi.
__ADS_1
"hanya memo semua.."
ujar Dewi kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan mulai bersih-bersih setelah selesai Dewi pun bersiap untuk berangkat ke kantor.
setelah selesai bersiap, Dewi turun ke bawah untuk sarapan bersama ibunya.
"loh, mamah kemana ?"
ujar Dewi bingung, karena tidak biasanya ibunya tidak ada di dapur saat pagi hari. Dewi pun memutuskan untuk pergi ke kamar ibunya.
Dewi mengetuk pintu kamar ibunya namun tidak ada jawaban, dewi pun membuka pintu kamar ibunya perlahan.
"maaah.."
Dewi memanggil dengan lembut, saat pintu terbuka Dewi melihat ibunya masih terbaring di kasurnya.
"mamah kenapa ? mamah sakit ?"
tanya Dewi mendekat ke arah tempat tidur ibunya lalu duduk di samping ibunya.
"nggak, mamah cuman sedikit lemes aja.."
"kita ke rumah sakit ya.."
"nggak usah, kamu ke kantor aja, bentar lagi kan kamu pasti bakalan cuti, masa iya hari ini nggak masuk kerja sih. mamah nggak apa-apa ko, nanti siang juga sehat, mamah cuman butuh istirahat bentar aja.."
"beneran ?"
"Dewi beli bubur dulu buat mamah ya.."
"nggak usah, nanti mamah makan ko, kamu berangkat aja.."
"dewi ijin aja deh sama Jo buat nggak kerja hari ini, biar Dewi jagain mamah.."
"nggak usah, berangkat sana.."
"tapi mah.."
"udah, sana berangkat.."
Dewi tidak bisa menjawab apa-apa lagi karena ibunya sangat teguh pada prinsip hidupnya.
"ya udah, Dewi berangkat, mamah jaga diri baik-baik ya, nanti siang Dewi pulang.."
ibunya Dewi hanya mengangguk, sebelum keluar dari kamar ibunya dan berangkat bekerja, Dewi mencium punggung tangan ibunya terlebih dahulu kemudian Dewi pun keluar dari kamar ibunya menuju keluar rumah, memasuki mobilnya dan mengemudikannya di jalanan menuju kantor.
selama perjalan menuju kantor, Dewi masih kepikiran dengan keadaan ibunya.
__ADS_1
sesampainya di parkiran kantor, Dewi bersiap sebentar sebelum keluar dari mobilnya, merapikan riasan wajahnya juga pakaiannya, Dewi mensugestikan dirinya harus tetap profesional saat sedang bekerja meskipun ada masalah atau tidak, jangan sampai tercampur adukkan, setelah selesai barulah Dewi keluar dari mobilnya dan berjalan menuju kantornya seolah tidak terjadi apapun pada dirinya.
Dewi berjalan melewati karyawan yg lainnya menuju ruangannya.
sesampainya di dalam ruangan, Dewi langsung bersiap dengan segala pekerjaannya, setelah meja kerjanya rapi, Dewi pun berjalan menuju luar ruangan untuk menyambut kedatangan jo.
tak berselang lama, saat Dewi keluar dari ruangannya, Jo pun datang menghampiri dan memasuki ruangan kerja mereka.
namun Jo merasa ada yg berbeda saat Jo melewati Dewi, terlihat raut kecemasan di wajahnya. saat berada di dalam ruangan, Jo pun memegang tangan Dewi.
"kenapa ?"
"apa ?"
"kamu kenapa ? ada masalah ?"
"nggak ada, kenapa emang ?"
"kamu jangan bohong, sebentar lagi kita akan bersama untuk selamanya, jangan pernah ada kebohongan atau sesuatu yg di sembunyikan diantara kita.."
"aku cuman lagi mikirin mamah aja, mamah lagi nggak enak badan, di rumah sendirian.."
"mamah sakit ? ya udah, kita ke rumah kamu sekarang.."
ajak Jo menarik tangan Dewi untuk kembali pulang ke rumahnya namun Dewi menahannya.
"mamah ngelarang aku ngerawat dia, malah mamah nyuruh aku kerja aja, nanti siang aku bakalan pulang dulu.."
"ya udah, untuk tiga hari kedepan, kita kerja setengah hari di kantor dan sisanya di rumah, lalu satu Minggu kedepannya kita udah ambil cuti, kamu bisa kan atur ulang semua jadwal nya.."
"iya.."
jawab Dewi sedikit senang dengan keputusan Jo namun Dewi juga harus bekerja ekstra untuk mengubah semua jadwal tapi Dewi yakin, dia pasti bisa, dengan begitu Dewi juga bisa merawat ibunya.
mereka pun kembali bekerja dengan kerjaan masing-masing yg menjadi super sibuk.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
catatlah segala keluh kesah mu dalam sebuah buku, catat semua yg kamu rasakan, catat semua yg kamu alami, catat semua mimpi-mimpi mu yg sudah ataupun yg belum terkabul oleh tuhan, jika catatan di buku itu sudah penuh kemudian kamu simpan dan terus kamu baca setiap catatan mu itu. INGAT !! bahwa segala catatan keluh kesah mu lah yg akan menjadi pelecut kamu untuk menjadi yg lebih baik.