Mutiara Yang Hilang

Mutiara Yang Hilang
#24


__ADS_3

kita tinggalkan sejenak acara sarapan di rumah Ara.


di sebuah rumah, sedang duduk seorang pria yg tampan dengan setelan kerja nya yg rapi, nampak sangat berwibawa dan elegan seperti biasanya.


jika setiap hari sebelum-sebelumnya pria tersebut hanya akan tersenyum dengan sesuatu hal yg di anggapnya lucu saja, namun tidak seperti biasanya, hari ini pria tersebut nampak selalu tersenyum kepada semua orang yg ada di rumah tersebut, sehingga semua yg melihat merasa terheran-heran dengan tingkahnya.


asisten 1 : "tidak seperti biasa nya tuan muda senyum-senyum seperti itu.."


asisten 2 : "iya bener, kira-kira tuan muda kenapa ya ? semenjak pulang dari pesta pernikahan temen nya semalem, tuan muda jadi sedikit aneh, kadang-kadang senyum sendiri, eh nantinya garuk-garuk kepala sendiri kaya yg lagi mikirin sesuatu atau seseorang gitu.."


kepala pelayan : "kalian sedang apa ?"


asisten 1 : "ah, maaf, kami tidak bermaksud membicarakan, tapi apakah anda tidak merasa aneh dengan sikap tuan muda ?"


sang kepala pelayan pun melihat kepada tuan mudanya yg sedang menikmati sarapannya dengan tersenyum sendiri, memikirkan sesuatu yg hanya dia dan Tuhanlah yg tau.


kepala pelayan : "ya sudahlah, kalian kembali bekerja saja.."


asisten 1,2 : "iya, baik, kami permisi.."


begitulah kira-kira sedikit bisik-bisik para asisten rumah tangga pria tersebut.


"apa jangan-jangan, tuan mudaaaa..."


gumam kepala pelayan yg sekaligus menjadi orang kepercayaan keluarga pria tersebut.


j : "pak Jang, saya berangkat dulu.."


k.p : "baik tuan.. saya antar ke depan.."


tak ada jawaban, Jo hanya tersenyum.


pak Jang, nama aslinya adalah ujang, dia adalah seorang pria yg sudah cukup berumur, dia berasal dari sebuah desa yg sangat indah di daerah Jawa barat, dia hidup sendiri, tanpa istri dan anak, karena mereka terpisahkan oleh kematian. pak Jang bekerja kepada keluarga Jo sejak dia kehilangan keluarga nya, karena memang sudah dari dulu pak Jang bekerja dan mengabdikan dirinya kepada keluarga Jo, sehingga semua keluarga nya pun menganggap nya sebagai saudara dan bukan pelayan, karena kepribadiannya yg sangat baik dan jujur.


sedari kecil ko sudah di asuh oleh pak Jang, sehingga Jo lebih dekat dengan pak Jang daripada orangtuanya sendiri, tapi meskipun begitu, pak Jang selalu memberitahukan segala sesuatu yg Jo ceritakan kepadanya kepada orangtuanya.


j : "ayolah pak jaaang, aku bukan anak kecil lagi yg harus selalu kau antar ke depan sampai aku masuk mobil dan pergi.."


pak Jang hanya tersenyum, Jo pun membalas senyumannya.


j : "baiklah, aku pergi dulu pak Jang.."


k.p : "hati-hati tuan.."


j : "pak jaaang..."


k.p : "baiklah, baiklah, hati-hati di jalan nak.."


j : "terimaksih pak Jang.."


akhirnya Jo pun berangkat ke kantornya, selama di perjalanan, Jo selalu tersenyum sendiri, dari kaca spion sang supir yg melihat tingkah tuannya pun merasa heran, namun dia tidak berani menanyakan "kenapa" dan dia pun kembali fokus pada jalanan.

__ADS_1


sesampainya di kantor, Jo pun bersikap seperti biasanya, menjaga wibawa dan karismanya di depan para pegawainya.


para asisten di kantor pun sudah menunggu dan siap mendampingi Jo dari pintu masuk sampai ruangan Jo.


Jo melangkah dengan sangat berwibawa, semua pegawai yg melihatnya membungkukkan badan nya dan menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat mereka kepada pimpinan mereka.


Jo pun terus berjalan meninggalkan para pegawainya dan masuk kedalam lift.


sesampainya di lantai tempat dimana ruangan Jo berada, para asisten pun langsung membubarkan dirinya ke tempat masing-masing, karena begitulah cara kerja yg Jo inginkan.


Jo mulai melangkah mendekati ruangannya dan entah mengapa saat matanya menangkap sosok seseorang yg saat ini sedang menunggu nya di depan pintu ruangnya Jo sangat bahagia, seseorang itu adalah seseorang yg sejak dari malam tadi mengisi pikirannya.


Jo menghentikan langkahnya tepat di hadapan asisten pribadinya itu.


d : "selamat pagi tuan, silahkan masuk.."


sapa Dewi pada Jo, memberikan hormat dan membukakan pintu ruangan Jo, agar Jo bisa segera masuk.


Jo pun masuk, menyimpan tas kerja nya di meja dan membuka jas nya kemudian menggantungkannya di tempat yg sudah di sediakan.


Dewi yg sedari tadi mengikuti nya pun mulai menanyakan hal-hal yg biasa di lakukan oleh para asisten pribadi.


d : "apakah tuan sudah sarapan ? apakah tuan ingin saya membuatkan minuman ?"


j : "saya sudah sarapan, tapi kalau minuman, saya ingin kopi saja, tolong di buatkan ya dew.."


d : "baik pak, akan saya buatkan.."


d : "ini kopinya pak, silahkan.."


ujar Dewi seraya menyimpan secangkir kopi dengan sangat hati-hati di meja atasannya tersebut.


j : "terimakasih ya dew, kamu boleh lanjutkan pekerjaan kamu.."


d : "baik pak, saya permisi.."


Dewi pun kembali ke meja kerja nya dan menyelesaikan beberapa dokumen yg harus segera selesai.


tidak ada suara di dalam ruangan tersebut, hanya ada suara ketikan keyboard dan coretan pulpen di atas kertas sampai waktu makan siang tiba.


d : "maaf pak, sudah waktunya jam makan siang, apa bapak akan makan di luar atau di dalam ruangan ? biar saya siapkan.."


j : "tidak usah, sekarang kamu beres-beres meja kamu dulu terus temenin saya makan siang di luar.."


d : "eh...."


Dewi sempat tertegun mendengar penuturan atasannya tersebut, meskipun ini bukan kali pertamanya, namun tetap saja Dewi merasa masih belum terbiasa.


j : "bagaimana ?"


d : "baik pak.."

__ADS_1


dengan gugup Dewi mengiyakan ajakan Jo.


karena sebagian besar karyawan sedang berada di kantin untuk makan siang, jadi Dewi bisa sedikit bernafas lega, karena bagaimanapun meskipun dewi adalah asisten pribadi pimpinan, tapi tetap saja pandangan orang lain berbeda-beda.


Dewi mengikuti langkah Jo dari belakang.


di depan lobi, sebuah mobil sudah menunggu kedatangan tuannya.


sang supir yg sudah membukakan pintu belakang, menunggu tuannya masuk.


j : "masuklah.."


perintah Jo pada Dewi.


d : "saya di depan saja pak.."


tolak Dewi halus.


j : "masuk dew.."


tegas Jo pada Dewi, Dewi yg mendengarnya pun akhirnya masuk dan duduk di kursi belakang bersama dengan Jo.


j : "kita ke cafe yg biasa.."


ujar Jo pada sang supir.


supir : "baik tuan.."


di dalam mobil, Dewi sibuk dengan ponselnya, karena saat ini Dewi sedang berkirim pesan dengan Ara.


Jo tidak mempermasalahkan kegiatan Dewi saat ini karena memang ini di luar jam kerja.


karena terlalu asyik dengan ponselnya, tanpa Dewi sadari, Jo sedari tadi memandanginya dan sesekali tersenyum manis.


sang supir yg sedari tadi memperhatikan tuannya pun saat ini mulai mengerti karena apa tuannya pagi tadi senyum-senyum sendiri.


"mungkinkah tuan menyukai wanita ini ??"


gumam sang supir dalam hatinya.


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2