
pagi hari di dalam villa, Ara sudah sibuk berkutat dengan alat masak di dapur di temani oleh art yg biasa datang untuk beres-beres dan masak. di lain tempat Ian sedang joging di halaman belakang villa, sedangkan Dewi dan Jo masih terlelap tidur di kamar masing-masing karena rasa lelah mereka menempuh perjalanan panjang kemarin.
setelah merasa selesai dengan masakannya, kemudian Ara menghidangkannya di meja makan. Ian pun datang menghampiri dan memeluk Ara dari belakang.
"bau tau, mandi sana.."
setelah mendapat perkataan pedas dari Ara akhirnya mau tidak mau Ian pun melepaskan pelukannya.
"iya, iya,.."
Ian pun pergi meninggalkan Ara menuju kamarnya.
setelah selesai bersih-bersih dan rapi-rapi, Ian dan Ara pun duduk bersama di meja makan.
"Jo sama Dewi mana ?"
tanya ian pada Ara.
"mereka masih tidur, mungkin mereka kecapean.."
jawab Ara sambil mengisi piring milik Ian dengan nasi dan lauk-pauk nya.
mereka pun makan hanya berdua, karena art yg tadi membantu Ara sudah pulang ke rumahnya.
pukul 10 pagi, Dewi terbangun karena merasa perutnya sudah lapar, tanpa menunggu nyawanya terkumpul sepenuhnya, dengan malas Dewi langsung membasuh wajahnya kemudian pergi ke luar kamar menuju ke arah meja makan.
saat tiba di meja makan Dewi pun duduk dan masih menutup matanya karena masih mengantuk, tanpa dia sadari ada seseorang yg sedari tadi memperhatikannya di kursi sebelahnya sambil terus sarapan.
"kamu mau makan atau mau pindah tempat tidur ?"
tanya Jo yg memang sudah sedari tadi ada di kursi meja makan.
Dewi pun membuka sedikit matanya dengan malas dan menengok ke arah sumber suara.
Dewi pun mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali guna memastikan siapa yg sedang berada di sebelahnya itu. setelah merasa nyawanya kembali mulai berkumpul, Dewi pun buru-buru membetulkan rambutnya yg belum sempat dia rapikan tadi.
"ka Jo, sejak kapan kakak disini ?"
tanya Dewi berpura-pura tidak terjadi apa-apa tadi.
"sejak kamu keluar kamar dengan mata yg masih lelah dan pindah tidur ke meja makan, kenapa..?"
"aah, begitu ya.."
jawab Dewi sambil menyelipkan rambutnya di telinganya, kemudian sedikit menunduk karena malu.
namun karena merasa perutnya sudah sangat lapar, Dewi pun menyingkirkan rasa malunya itu kemudian mengambil sarapannya dan mau tidak mau harus sarapan bersama Jo.
Ara dan ian yg memperhatikan Dewi dan Jo sedari tadi dari balik pintu pun hanya tersenyum dan saling pandang, merasa lucu dengan apa yg telah terjadi barusan antara Dewi dan Jo. mereka pun kembali ke dalam kamar mereka.
"aku yakin deh sayang, kalo diantara mereka tuh udah ada sesuatu.."
ujar Ara pada Ian.
"iya sih, tapi kan itu belum pasti sayang.."
__ADS_1
keduanya pun berlanjut membicarakan Dewi dan jo dan mulai menyusun rencana untuk bisa mengetahui bagaimana isi hati Dewi dan Jo sebenarnya.
sementara di meja makan, Jo yg sudah selesai dengan sarapannya memutuskan kembali ke kamarnya hendak melanjutkan tidurnya. begitupun dengan Dewi, setelah selesai sarapan Dewi hendak ke kamarnya, namun Dewi malas, akhirnya Dewi pun memilih untuk menonton tv di ruang tengah. karena perut yg sudah kenyang, sofa yg lebar dan empuk membuat mata Dewi kembali ingin tertutup, tanpa Dewi pun tertidur di sofa dengan tv yg masih menyala.
saat jam makan siang, Ara dan ian sengaja tidak membangunkan Jo dan Dewi yg sedang tertidur, karena mereka tidak tega untuk membangunkannya. mereka pun pergi keluar untuk berjalan-jalan dan makan siang tanpa sepengetahuan Dewi dan Jo.
merasa sudah cukup dengan tidurnya, Jo pun bangun dan membersihkan dirinya. setelah merasa rapi dan wangi, Jo keluar kamar dan mendapati tv masih menyala di ruang tengah.
Jo mendekati ruang tengah dan hendak marah-marah saat tau ada yg tidak mematikan tv setelah dipakai, namun niat nya langsung pudar saat melihat Dewi sedang tertidur lelap di sofa.
"ternyata kamu yg nyalain tv.."
ujar Jo, kemudian mendekat ke arah Dewi dan duduk di salah satu single chair. memperhatikan Dewi yg sedang tidur dan kemudian tersenyum kecil.
Dewi sedikit menggeliat di sofa dan mulai membuka matanya perlahan kemudian bangun dan duduk.
saat tubuh Dewi bergerak, Jo yg tidak ingin Dewi mengetahui dirinya tadi sedang memperhatikannya pun akhirnya pergi ke dapur dengan sedikit terburu-buru.
"jam berapa sekarang ?"
gumam dewi kemudian melihat ke arah jam dinding yg ada di depannya.
"udah sore, mandi ah.."
sambungnya setelah melihat jam kemudian kembali ke kamarnya untuk bersih-bersih.
Jo yg tadi di dapur kembali ke ruang tengah dan memainkan ponselnya.
Dewi yg sudah selesai rapi-rapi, keluar dari kamarnya, merasa villa tersebut sepi, dewi pun hendak keluar, saat hendak membuka pintu.
tanya Jo yg sedang duduk di sofa.
Dewi terkejut, karena sedari tadi dia tidak melihat siapa-siapa di villa tersebut.
"ka Jo,.. kirain aku nggak ada orang.. oh ya Ara sama Ian kemana ya ? ko dari tadi aku nggak liat mereka.."
jawab Dewi sekaligus bertanya.
"nggak tau, dari tadi mereka nggak ada, nggak tau kemana.. kamu telepon aja.."
tanpa menjawab, Dewi pun mengambil ponsel yg ada di sakunya dan menghubungi Ara.
setelah sambungan telepon terputus.
"mereka lagi jalan-jalan.."
ujar Dewi pada jo dengan wajah yg sedikit kecewa karena dirinya tidak diajak.
"ayo.."
ajak Jo pada Dewi dan berdiri dari duduknya kemudian menggenggam tangan Dewi dan membawanya keluar.
"kemana ?"
"ya jalan-jalanlah.."
__ADS_1
Dewi yg tadinya merasa kesal pada Jo karena seenaknya menarik tangannya akhirnya tersenyum karena Jo akan membawanya jalan-jalan.
mereka pun memasuki mobil yg sudah sedari tadi di siapkan. tanpa Dewi tau Jo sebenarnya sudah tau kemana Ara dan ian pergi.
"tas sama dompet aku.."
"udah, kamu nggak bakalan butuh itu.."
jawab jo kemudian melakukan mobilnya menyusuri jalanan.
sepanjang perjalan Dewi dan Jo terus saja berbincang, membicarakan hal-hal yg menurut mereka menarik, dari hal kecil sampai hal besar.
Ara dan ian yg sedang berjalan-jalan santai, merasa misi mereka berhasil untuk membuat Dewi dan Jo semakin dekat pun tersenyum bersama.
"semoga rencana kita berjalan sukses ya sayang.."
"aamiin sayang.."
merasa sudah waktunya untuk makan malam, Jo pun memarkirkan mobilnya di depan salah satu restoran yg terlihat mewah.
"ayo.."
ajak Jo pada Dewi. dengan malu-malu Dewi pun mengikuti jo masuk kedalam restoran.
"untung pakaian gue sopan dan nggak malu-maluin banget.."
gumam Dewi dalam hati.
mereka pun akhirnya makan malam bersama dengan nuansa restoran yg mewah dan romantis.
*
*
*
*
*
*
*
hargai waktu, hargai hidup
jangan buang-buang waktu
jangan sia-siakan hidup
bertanggungjawab lah atas nikmat waktu dan nikmat hidup yg masih tuhan berikan untuk kita saat ini.
(aku mau ngucapin makasih buat kalian yg udah baca, like dan vote karya aku ini.
mohon dukungannya dari para pembaca untuk karya ku ini, semoga kalian suka dan jangan lupa vote, like and don't forget for write a good comment)
__ADS_1