
tak kalah sibuknya dengan jalanan di hari Senin. hari ini pun Jo tak kalah sibuknya, karena hari ini ia dan dewi akan berangkat ke Singapura untuk menghadiri rapat dengan salah satu mitranya.
Jo memilih untuk menggunakan helikopter karena memang hanya Jo dan Dewi saja yg berangkat, Jo pikir akan lebih mengefisienkan waktu jika mereka menggunakan helikopter.
Jo dan Dewi berangkat pukul delapan pagi dengan helikopter yg sudah siap berada di atap gedung perusahaan Jo.
ini pertama kalinya bagi Dewi menaiki helikopter, sehingga dewi merasa sedikit gugup. Jo yg melihat Dewi gugup pun akhirnya memegang tangan Dewi dan tersenyum ke arahnya seakan memberikan kekuatan dan memberitahu kalau dia akan aman bersama dengan Jo. Dewi pun mengikuti tarikan tangan Jo menuju helikopter dan masuk ke dalamnya.
di dalam helikopter, Dewi dan Jo menggunakan earphone khusus untuk meredam bunyi keras dari mesin helikopter tersebut.
selama perjalanan menuju Singapura, Dewi tak pernah melepaskan pegangan tangannya pada Jo, begitu pula saat Jo dan Dewi mendarat di sebuah gedung tinggi, Jo turun terlebih dahulu kemudian Dewi, Jo mengulurkan tangannya untuk menjadi pegangan Dewi saat turun.
Jo selalu menggenggam tangan dewi sekalipun mereka sudah memasuki gedung perusahaan mitra kerja Jo.
"pak Jo, akhirnya sampai juga..siapa ini, setahu saya bukan ini sekretaris bapak.."
ujar pemimpin perusahaan yg sudah sangat mengenal Jo, karena perusahaan nya sudah bekerja sama saat masih di pimpin oleh ayah nya Jo.
"ini sekretaris baru saya dan juga tunangan saya, tapi bapak tenang saja, kami profesional saat bekerja.."
jawab Jo sambil tersenyum malu sekaligus bangga saat memperkenalkan Dewi.
"ooh, seperti itu.. kenalkan saya Hilman, saya sudah mengenal Jo saat Jo masih remaja, bisa di bilang, saya teman bisnis ayahnya sebelum perusahaannya sekarang di pegang oleh jo.."
ujar pak Hilman mengulurkan tangannya.
"saya Dewi, senang bertemu dengan bapak.."
jawab dewi dan membalas uluran tangan pak Hilman.
"nama yg bagus, semoga kalian berjodoh panjang ya.."
"aamiin.."
jawab Jo dan Dewi bersamaan.
__ADS_1
"baiklah, mari kita ke ruang rapat dan mulai semuanya.."
Jo dan Dewi pun mengikuti kemana arah pak Hilman dan sekretaris nya berjalan.
rapat pun berlangsung lumayan lama. karena tau rapat akan berlangsung agak lama, pak Hilman sudah menyiapkan makan siang sebagai bagian dari penyambutan kedatangan Jo.
merekapun makan siang bersama di ruangan tersebut dan berbincang hal di luar pekerjaan dengan santai.
setelah makan siang, mereka pun melanjutkan rapat yg tertunda tadi, agar Jo dan Dewi bisa pulang lebih cepat.
rapat pun selesai pukul dua siang. Dewi dan Jo berpamitan pada pak Hilman.
pak Hilman pun mengantar Jo dan Dewi kembali ke atap gedung menuju helikopter yg tadi mengantarkan Jo dan Dewi datang. yg sejatinya helikopter tersebut adalah properti pribadi keluarga jo namun Dewi tidak tau itu.
"saya ucapkan terimakasih atas kerjasama yg masih bisa terjalin ini dan terimakasih atas segala macam penyambutan yg sudah di persiapkan.."
ujar jo sambil menjabat tangan pak Hilman.
"sama-sama semoga kerjasama kita selalu terjalin dengan baik. hati-hati di jalan.."
"terimakasih.."
sesampainya di atap gedung perusahaan jo, helikopter mendarat dengan selamat.
Jo dan Dewi pun memutuskan untuk membereskan meja kerja mereka kemudian pulang.
Jo meminta Dewi untuk tidak membawa mobil nya pulang, karena Jo tau Dewi pasti kelelahan setelah menempuh perjalanan yg cukup melelahkan.
Jo pun mengantarkan Dewi pulang ke rumahnya menggunakan mobil pribadinya dengan supir.
selama di perjalanan mereka berdua mengobrol ini itu, sampai-sampai Dewi ketiduran karena mungkin saking kelelahannya.
sesampainya di rumah Dewi, Jo meminta sang supir untuk turun terlebih dahulu, memencetkan bel dan memberitahu ibunya Dewi bahwa Dewi ketiduran di mobil Jo.
setelah pintu terbuka dan sang supir berbicara seperti itu, ibunya Dewi pun meminta Jo untuk mengangkat Dewi dan membaringkannya di kamarnya, karena kalau Dewi sudah tidur nyenyak, susah untuk di bangunkan.
__ADS_1
Jo yg mendengar perkataan seperti itu dari ibunya Dewi pun langsung membawa Dewi di pangkuannya dan masuk ke dalam rumahnya, meskipun Dewi sedikit berat namun Jo tetap senang bisa menggendong Dewi seperti ini, dalam pikirannya, hitung-hitung latihan untuk nanti setelah menikah.
setelah menidurkan Dewi di kmrnya, Jo kemudian turun dan menemui ibunya dewi yg ada di ruang tamu.
"maaf ya mah, mungkin Dewi kelelahan, soalnya tadi kita baru pulang meeting di Singapura.."
ujar Jo jujur.
"iya, mamah sudah tau ko kalau kalian akan berangkat ke Singapura hari ini, Dewi sudah cerita sebelumnya.."
"tapi maaf mah, Jo nggak bawa oleh-oleh buat mamah.."
"lah, kalian kn kesana buat kerja, bukan buat liburan, ya nggak apa-apa lah nggak bawa juga.."
"kalo gitu Jo pulang dulu ya mah, Jo harus beresin hasil rapat tadi.."
"ya sudah, hati-hati di jalan ya, terimakasih sudah nganterin Dewi.."
"iya mah.."
Jo pun mencium punggung tangan ibunya Dewi kemudian masuk kedalam mobilnya dan pulang menuju rumahnya.
sesampainya di rumah, Jo pun langsung merebahkan dirinya di atas kasur. sejenak merekatkan badannya. 15 menit kemudian, barulah Jo bersih-bersih, setelah bersih-bersih Jo pun turun ke bawah untuk mencari camilan yg bisa ia makan sebelum ia memutuskan untuk beristirahat setelah itu.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
..gagal bukan berarti sudah tidak ada harapan, tapi gagal harus menjadi pecutan bagi kita untuk bisa bangkit dan mengubah kegagalan itu menjadi keberhasilan..