Mutiara Yang Hilang

Mutiara Yang Hilang
#65 H-10


__ADS_3

setelah selesai makan siang, Ara dan ian kembali ke ruang keluarga, Ian menyelesaikan pekerjaannya dan Ara hanya menemani sambil menonton televisi. sedangkan Jo dan Dewi kembali ke kantor.


sampai sore menjelang dan jam kantor selesai, barulah Jo dan Dewi bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing, mereka berjalan di depan para karyawan yg lain seakan tidak ada apa-apa di antara mereka, sehingga yg melihat pun pasti tidak akan menyangka kalau Jo dan Dewi akan segera menikah.


mobil yg di tumpangi Jo sudah siap di depan gedung, sedangkan Dewi harus pergi ke parkiran sendiri untuk mengambil mobilnya.


selama perjalanan pulang, pikiran Dewi penuh dengan imajinasi dan bayangan-bayangan yg seharusnya tidak ia bayangkan, seperti kejadian terburuk apa yg akan terjadi nanti atau lain sebagainya.


saat lampu merah, Dewi membayangkan terjadi sesuatu saat perjalan Jo ke rumahnya nanti, membayangkan mobil Jo akan mogok, pecah ban atau lain sebagainya bahkan terlintas terjadi tabrakan bahkan sampai masuk rumah sakit namun semua pemikiran itu langsung terbuyarkan saat klakson mobil di belakang mobil Dewi berbunyi, Dewi pun melajukan kembali mobilnya, melintasi jalanan yg sudah tidak asing lagi baginya.


sesampainya di rumah, entah mengapa Dewi merasa lemas, sampai-sampai untuk berjalan pun rasanya tidak ingin dan tidak sanggup.


Dewi membuka pintu rumahnya sambil mengucapkan salam namun tidak ada yg menjawabnya. Dewi pun langsung naik ke atas menuju kamarnya.


saat membuka pintu kamar, Dewi terkejut dengan set pakaian, hiasan juga sepatu yg sudah berada di kasurnya. Dewi pun mendekat dan melihat sebuah gaun yg akan di kenakan nya nanti malam. sekilas Dewi tersenyum bahagia namun dia juga tidak menyangka akan secepat ini.


entah apa yg Dewi rasakan sekarang namun Dewi merasa ia ingin menangis, entah harus merasa senang, sedih atau apapun itu tapi saat ini, di kamarnya, tumpahlah tangisan nya dan sedikit menetes mengenai gaun yg masih ia peluk.


seketika ketukan pintu menghentikan tangisannya, Dewi pun menghapus bekas air mata di pipinya.


"masuk.."


"mamah kira kamu belum pulang.."


Dewi hanya tersenyum, tak bisa di pungkiri, ibunya pun bisa merasakan apa yg Dewi rasakan dari hanya melihat raut wajah atau matanya saja. ibunya Dewi pun mendekati Dewi dan memeluknya, saat berada di pelukan ibunya, Dewi langsung meneteskan air matanya lagi.


"sudah, jangan nangis lagi, nanti mata kamu sembab, kalo mata kamu sembab, mamah kan malu, nanti dikira nya mamah nyakitin kamu, lagipula, nanti malem kan bakalan ada camer (calon mertua).."


goda ibunya Dewi agar Dewi tidak sedih lagi dan benar saja, meskipun dengan sedikit malu saat ibunya menyebutkan kata camer, Dewi tersenyum manis.


"kamu bersih-bersih dulu sana, bau.. mamah mau nyiapin makanan.."


Dewi pun mengangguk dan tersenyum. saat ibunya sudah keluar dari kamar nya kemudian Dewi menyimpan dan merapikan baju yg akan dia kenakan nanti di atas kasurnya lagi seperti semula dan pergi menuju kamar mandi.


sementara di rumah Dewi sedang bersiap dengan apa yg ada, di rumah Jo juga tak kalah bersiap nya. beberapa pelayan menyiapkan beberapa barang yg akan Jo dan ibunya berikan pada Dewi meskipun kedatangan mereka hanya untuk menentukan sebuah tanggal pernikahan, namun ibunya Jo tidak ingin datang hanya dengan tangan kosong saja, setidaknya dengan membawa sebuah hadiah saja untuk calon menantunya.


"udah siap ?"


tanya ibunya Jo pada kepala pelayan.


"sudah Bu, barang nya sudah ada di dalam mobil.."


"baiklah.."


sebelum berangkat, Jo memberitahu Dewi terlebih dahulu kalau jo akan berangkat setelah magrib.


tepat setelah ibadah sholat magrib, Jo dan ibunya berangkat menuju kediaman Dewi.


selama perjalanan, Jo berusaha untuk tenang dan mengontrol detak jantungnya.


selama Jo di perjalan menuju rumah Dewi, Dewi tidak henti-hentinya berdoa, takut-takut kalau apa yg di bayangkan nya tadi selama perjalanan pulang terjadi salah satunya.


meskipun ini bukanlah hal yg pertama kali bagi Jo datang ke rumah Dewi namun rasanya sangat berbeda, biasanya Jo datang ke rumah Dewi hanya untuk main atau mengajak jalan-jalan, tidak disangka, sekarang Jo datang untuk menentukan tanggal baik pernikahannya. rasanya sama saat Jo akan melamar Dewi dulu.


"apakah perasaan ini akan sama saat menikah nanti ? atau bahkan akan lebih dari ini ?"

__ADS_1


gumam Jo dalam hati.


"tenang aja, kaya yg baru pertama kali aja dateng ke rumah calon.."


goda ibunya Jo saat melihat putranya terlihat gugup.


"apaan sih mih.."


ibunya Jo pun hanya tersenyum.


sesampainya di rumah Dewi, Jo dan ibunya keluar dari mobil dan membawa beberapa barang di tangannya.


Jo menekan bel rumah Dewi, tak lama kemudian, ibunya Dewi membukakan pintu dan mempersilahkan Jo dan ibunya masuk.


Jo dan ibunya pun di persilahkan duduk di ruang keluarga, di tas meja sudah ada beberapa makanan yg tersaji.


"sebentar, saya ambilkan dulu teh hangat.."


ujar ibunya Dewi pada Jo dan ibunya.


sebelum mengambil teh hangat ke dapur, ibunya Dewi pergi ke kamarnya Dewi terlebih dahulu.


suara ketukan pintu terdengar saat Dewi sedang memakai hiasan.


"sayang, ayo.."


ujar ibunya Dewi dari balik pintu kamarnya Dewi.


"iya mah.."


"ikut dulu ke dapur ya, mamah mau ngambil dulu teh.."


"iya.."


Dewi dan ibunya pun turun menuju dapur kemudian kembali ke ruang keluarga untuk menemui Jo dan ibunya.


Dewi pun menuangkan teh kedalam cangkir untuk semua orang yg ada di ruangan itu.


"ini, mamih bawain ini buat kamu.."


ujar ibunya Jo sambil memberikan beberapa kotak berukuran sedang yg sudah di hias dengan cantik kepada Dewi saat Dewi hendak duduk.


Jo pun menyimpan sebuah buket bunga sedang dan parsel buah-buahan di atas meja.


"merepotkan saja.."


ujar ibunya Dewi.


"tidak apa, lagi pula untuk anak sendiri, mana ada repot sih jeng.."


"terimakasih mih.."


ujar Dewi saat menerima hadiah dari ibunya Jo.


"oh ya, bagaimana kalau kita langsung saja ke intinya.."

__ADS_1


ujar ibunya Jo yg sangat antusias dengan acara pernikahan anaknya ini.


"ya benar, bagaimana ? kalian udah nentuin tanggalnya kan ?"


tanya ibunya Dewi pada Jo dan Dewi, sedangkan yg ditanya hanya saling melihat satu sama lain meminta jawaban dari salah satunya.


"aaah, masalah tanggal, kita ikut aja kapan tanggal baik dari kedua kelurga aja.."


jawab Jo asal, karena memang Jo dan Dewi lupa harus membahas tanggal yg mereka inginkan.


"baiklah, kalau begitu sudah di putuskan, kalian menikah sepuluh hari lagi dari sekarang.."


jawab ibunya Jo.


"loh, nggak terlalu cepet mih ?"


jawab Jo.


"kamu mau di lambatin ?"


"bukannya gitu mih, mamih main nodong tanggal aja.."


"siapa yg nodong tanggal ? orang mamih sama mamah nya dewi juga keluarga udah rembukan ko, karena mamih tau, kamu sama Dewi pasti bakalan lupa buat nentuin tanggal pernikahan kalian.."


ujar ibunya Jo panjang lebar, Dewi dan Jo yg mendengarnya merasa masih tidak percaya, ternyata di belakang mereka, kedua kelurga juga ikut berjalan mempersiapkan pernikahan Jo dan Dewi, sedangkan ibunya Dewi hanya tersenyum dan sesekali mengangguk saat ibunya Jo sedang berbicara.


"bagaimana ?"


tanya ibunya Dewi.


Jo dan Dewi hanya bisa saling pandang dan saling mengangguk tanda mereka menyetujui segala keputusan kedua keluarga.


"akhirnya, tidak lama lagi aku akan mempunyai anak perempuan.."


ujar ibunya Jo spontan, kemudian memeluk ibunya dewi.


"kalau begitu, mari kita makan malam terlebih dahulu.."


tawar ibunya Dewi. semuanya pun kemudian pergi ke ruang makan dan makan malam bersama.


*


*


*


*


*


*


*


sekuat apapun kita menyembunyikan air mata dan kesedihan kita namun naluri seseorang yg sudah menjadi bagian dari hidup kita bisa merasakan sesuatu yg kita rasakan, apalagi naluri seorang ibu.

__ADS_1


__ADS_2