Mutiara Yang Hilang

Mutiara Yang Hilang
#68 kasih sayang


__ADS_3

keesokan harinya, saat sedang sarapan, Ara meminta kepada ian agar dirinya diantarkan ke rumah dewi, Ara ingin sekali merawat ibunya Dewi saat dewi sedang berada di kantor sampai siang hari nanti dan ian pun mengiyakannya.


setelah selesai sarapan, Ara dan ian pun langsung berangkat menuju rumah Dewi.


di tengah-tengah perjalanan, Ara mendadak ingin sesuatu yg di jual di pinggir jalan, makanan yg menurut Ara jarang sekali di jual di kota besar seperti ini.


"mas berhenti dulu.."


"kenapa ?"


ian pun menghentikan mobilnya.


"aku mau beli itu.."


tunjuk Ara pada sebuah gerobak kecil yg menjual rujak tumbuk.


"ya udah, kamu tunggu di sini, aku beli dulu.."


Ian pun hendak keluar dari mobil namun Ara dengan cepat mencegahnya.


"nggak usah, mas disini aja, biar aku yg beli.."


"ya udah, hati-hati, awas jangan pedes-pedes.."


"siap pak bos.."


Ara pun keluar dan menghampiri tukang rujak tumbuk tersebut. tidak hanya untuk dirinya saja, Ara pun memesan beberapa bungkus rujak tumbuk untuk yg lainnya juga.


setelah selesai, Ara kembali ke dalam mobil.


Ara dan ian pun melanjutkan perjalanan mereka namun tiba-tiba ia. membelokkan mobilnya ke arah supermarket terdekat.


"loh, mau beli apa ?"


tanya Ara.


"mau beli beberapa buah-buahan sama camilan, masa kita ke rumah tante nggak bawa apa-apa.."


ujar ian, Ara Mun hanya tersenyum.


Ara dan ian masuk ke dalam supermarket.


Ara dan ian memilih beberapa camilan dan buah-buahan yg segar, setelah merasa cukup, Ara dan ian pun mengantri di bagian kasir.


setelah cukup lama mengantri karena banyaknya orang yg juga mengantri, kini giliran Ara dan ian yg akan membayar belanjaan mereka di kasir namun seorang wanita yg berada di depan ian dan Ara terlihat kebingungan saat akan membayar belanjaan nya.


"maaf mba, ini bayar nya mau cash atau bagaimana ?"


ujar sang kasir pada wanita tersebut.


sang wanita masih sibuk mencari dompet nya di dalam tas yg ia bawa.


"ah mba, maaf, sepertinya dompet saya ketinggalan, bisa mba simpankan saja dulu belanjaan saya ? nanti saya kesini lagi.."


ujar sang wanita yg terdengar oleh Ara dan ian.


Ara pun berbisik kepada Ian.


"biar saya saja yg membayar belanjaan mba ini, berapa total nya ?"


ujar ian pada sang kasir. kasir pun memberikan struk belanjaan wanita tersebut. setelah Ara dan ian melihat jumlah belanjaan nya, Ian pun mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada kasir tersebut.


sang wanita yg belanjaannya telah di bayarkan oleh orang yg tak ia kenal merasa malu namun juga terlihat memikirkan sesuatu yg tidak biasa yg hanya seorang wanita juga yg bisa mengartikannya (apalagi seorang istri) apalagi saat ia melihat isi dompet yg Ian keluarkan tadi terdapat black card di dalamnya.


tanpa wanita itu sadari, sedari tadi Ara selalu memperhatikan nya, mulai dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"ini bu struk belanjaan nya.. silahkan selanjutnya.."


ujar sang kasir membuyarkan lamunan wanita tersebut. wanita tersebut pun pergi setelah mengucapkan terimakasih pada Ara dan ian.


kini giliran Ara dan ian untuk membayar.


setelah selesai membayar, Ara dan Ian kembali menuju ke mobilnya namun seseorang meneriaki mereka.


"heeei.."


Ara dan Ian pun menoleh ke arah sumber suara, ternyata wanita yg belanjaannya tadi di bayar oleh Ara dan Ian yg memanggil. wanita itupun mendekat namun seakan sudah tau dan sudah merasakan gelagat mencurigakan dari wanita tersebut juga akan ada sesuatu yg akan terjadi, Ara pun memasang wajah jutek nya.


"ya ada apa ?"


ujar Ara mencoba untuk lembut.


"saya ingin mengucapkan terimakasih pada tuan, karena tadi tuan sudah membayarkan belanjaan saya, jika tidak keberatan, saya ingin meminta nomor rekening tuan, agar saya menggantinya.. oh ya, nama saya putri.."


ujar nya panjang lebar kemudian menjulurkan tangannya tanda ingin berkenalan namun ian tidak meresponnya, Ian malah menempelkan telapak tangannya di depan dadanya dan Ara lah yg menjabat tangan putri tanpa memberitahukan nama Ara dan Ian.


"sama-sama, tapi itu semua semua karena istri saya, istri saya yg meminta saya membayarkan belanjaan mba dan itu semua tidak usah di ganti.."


saat mendengar kata istri, senyum yg ada di wajah putri pun langsung menghilang dan matanya kemudian melihat ke arah Ara. sedaritadi pun Ara juga sedang melihat gerak-gerik putri terutama ekspresi wajahnya dan benar saja, saat Ian mengatakan kalau Ara adalah istrinya, ekspresi wajah putri mulai berubah.


"ooh, jadi mba nya ini istrinya mas nya ya, saya kira adik nya, abis nya mba nya terlihat awet muda dan terimakasih ya mba, kalo bukan karena mba dan mas, nggak tau deh gimana nasib belanjaan saya tadi.."


ujar putri panjang lebar dengan nada yg sedikit kesal namun mencoba untuk tenang.


"iya sama-sama, kalau begitu kami duluan ya, permisi.."


ujar Ara kemudian menarik tangan Ian menuju mobilnya.


putri yg masih terlihat kesal pun makin kesal saat mobil yg Ara dan Ian tumpangi adalah mobil keluaran terbaru.


"kaya juga tuh orang, gue harus dapetin tuh cowo, siapa lagi tuh nama cowonya.."


di dalam perjalan, Ara tak hentinya memasang wajah cemberut.


"kenapa ?"


"aku nggak suka sama wanita tadi, masa dari tadi dia liatin kamu terus.."


"kamu cemburu ?"


"ya iyalah, ya kali aku nggak cemburu.. lagian ya mas, aku punya firasat kalo dia tuh wanita nggak bener deh.."


"kenapa ? darimana kamu tau.."


"ya tau lah mas, dari tadi tuh aku perhatiin gerak-gerik dia, aku perhatiin ekspresi dia, aku perhatiin cara ngomong dia ke kamu dan cara ngomong dia ke aku tuh beda, ya wajar aja kalo aku curiga.."


"ya udah, kamu boleh curiga, tapi kamu nggak boleh dong berburuk sangka sama orang lain, apalagi orang nya kita kenal.."


ujar ian mencoba menenangkan ara sambil menggenggam tangan Ara dengan tangan tangan kirinya.


tibalah Ara dan Ian di rumah Dewi.


Ting tong..


bel rumah berbunyi saat Dewi sedang menyiapkan sarapan untuk ibunya yg masih sakit. Dewi pun berjalan menuju pintu kemudian membukanya.


"assallamualaikum, kebetulan banget Lo belum berangkat.."


ujar ara saat melihat dewi lah yg membukakan pintu.


"gue lagi siapin dulu sarapan buat mamah, mau ngapain Lo ?"

__ADS_1


"mau jagain mamahlah.."


ujar Ara kemudian masuk begitu saja ke dalam rumah.


"istri Lo tuh.."


Ian hanya tersenyum kepada Dewi dan ikut masuk kedalam rumah, sedangkan Ara langsung menuju ke kamar ibunya Dewi.


Ian menyusul Ara ke kamar ibunya Dewi, sedangkan Dewi kembali menuju ke dapur mengambil sarapan untuk ibunya kemudian menyusul ke kamar ibunya.


tok tok tok..


"mah, ini Ara, boleh masuk nggak.."


"masuk aja sayang.."


jawab ibunya Dewi yg sedang duduk bersandar di kasurnya.


ara pun masuk diikuti oleh Ian kemudian Dewi.


Ian pun meminta ijin kepada Ara untuk berangkat ke kantor dan Ara pun membolehkannya.


Ian pun berpamitan pada ibunya Dewi kemudian pergi keluar kamar menuju pintu, saat Ian membuka pintu rumah, saat itu juga Jo hendak memencet bel rumah Dewi.


"Jo, ngapain ?"


"Lo ngapain ?"


"gue nganterin Ara, katanya dia mau jagain mamah.."


"ooh, kalo gue mau jemput Dewi kerja.."


"ooh, ya udah, masuk aja sana, gue berangkat duluan.."


Ian pun berangkat dan Jo masuk ke dalam rumah, satu-satunya tempat yg Jo tuju sekarang adalah kamar ibunya Dewi karena Jo yakin Ara dan Dewi pasti ada di kamar ibunya.


karena pintu kamar ibunya terbuka, Jo pun masuk sambil mengucap salam.


Jo menghampiri ibunya Dewi dan mencium punggung tangannya kemudian meminta ijin menjemput Dewi untuk berangkat ke kantor bersama.


Jo dan Dewi pun berangkat ke kantor, tinggal lah Ara dan ibunya Dewi berdua saja di rumah yg cukup besar tersebut.


*


*


*


*


*


*


*


maaf jika selama ini aku berbuat salah,


maaf jika selama ini aku banyak dosa,


maaf jika selama ini aku membiarkan diriku sendiri terluka,


tapi aku akan berusaha tidak akan membiarkan diriku menderita,


tidak akan membiarkan diriku terluka,

__ADS_1


tidak akan membiarkan diriku terlalu banyak berbuat dosa,


__ADS_2