Mutiara Yang Hilang

Mutiara Yang Hilang
#35


__ADS_3

setelah selesai dengan ritual nya di dalam kamar mandi, Ara pun keluar dengan menggunakan baju mandinya, di lihatnya ke sekeliling kamar namun sosok yg di carinya pun nampak tidak terlihat.


"Ian kemana ya ? apa jangan-jangan dia keluar ? apa dia marah gara-gara yg tadi ?"


ujar Ara pelan pada dirinya sendiri sambil melangkahkan kakinya ke arah lemari baju.


"jam berapa sekarang ?"


Ara pun langsung melihat jam dinding yg ada di kamarnya, jam menunjukan kalau sekarang sudah waktunya makan malam. Ara baru ingat kalau art hanya akan datang pagi hari saja untuk beres-beres dan menyiapkan sarapan, sedangkan untuk makan siang dan malam mereka harus masak sendiri.


Ara pun keluar dari kamarnya hendak menuju dapur.


"wanginya enak.."


sekilas Ara mencium wangi makanan.


"darimana wangi ini berasal ? apa di dekat sini ada restoran ? atau ada tetangga yg sedang masak ?"


ujar Ara sambil terus berjalan menuju dapur. Ara membuka lebar matanya saat melihat Ian sedang mengolah masakan di dalam wajan di atas kompor.


Ara pun mendekati ian dan memeluknya dari belakang.


"aku nggak nyangka kalau kamu bisa masak juga ternyata.."


ujar Ara masih memeluk ian dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang suaminya dan menempelkan sebelah wajahnya di punggung suaminya. Ian pun hanya tersenyum.


"ini baru sebagian kecil dari keahlian ku yg lainnya sayang.."


jawab Ian, Ara merasa penasaran, saat hendak melepaskan pelukannya, dengan cepat ian pun menggenggam kembali tangan Ara dan kembali melingkarkan nya di pinggangnya sambil terus di pegang oleh tangan kirinua karena tangan kanan nya masih harus mengaduk masakannya.


Ara pun hanya pasrah dengan perlakuan suaminya itu dan kembali memeluk ian.


"maksud kamu, kamu punya keahlian lain yg aku nggak tau selain memasak ?"


"ya begitulah.."


"ternyata ada juga hal yg aku nggak tau tentang kamu ya sayang.. tapiiiii, bolehkah aku tau, apa keahlian mu itu ??"


tanya Ara semakin penasaran.


"kamu yakin ingin tau ?"


Ian mulai mematikan kompor dan membalikkan badannya menghadap Ara.


kini Ara dan ian sudah saling berhadapan, jarak yg sangat dekat membuat mereka berdua saling menatap satu sama lain.


Ara merasa kalau sekarang jantungnya sudah mulai berdegup melebihi detakkan biasanya.


perlahan tapi pasti, Ian pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Ara. Ara hanya bisa diam dan terus menatap manik milik suaminya itu dan sesekali melihat bibir Ian, Ara pun berusaha untuk bersikap biasa dan mengatur kembali detak jantungnya, namun apalah daya jantung nya terus saja berdisko.


"apa... apa Ian....."


Ara terus saja mengatur napas nya, terlihat dengan jelas wajah ian saat ini sedang tidak menunjukkan kalau dia sedang ingin bercanda, keseriusan di wajah ian membuat Ara terus terpaku dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


Ian pun kembali menggenggam tangan Ara dengan lembut dengan mata yg masih menatap istrinya itu.


Ian melingkarkan kembali tangan Ara agar memeluknya kemudian Ian pun menangkup wajah Ara, sehingga mau tidak mau Ara hanya akan menatap Ian dan tidak bisa memalingkan wajahnya ke kiri, kanan, atas atau bawah.

__ADS_1


saat sudah dekat, Ara pun menutup matanya perlahan. Ian pun menempelkan dahinya dengan dahi Ara dan hidung mereka pun saling beradu. sehingga mereka bisa merasakan tarikan dan buangan nafas masing-masing.


setidaknya mereka bisa sedikit mengatur nafas mereka masing-masing.


"jangan disini, nanti kalau ada yg lihat gimana ?"


bisik Ara pada Ian, seolah mengerti dengan maksud dari perkataan istrinya tersebut Ian pun tertawa.


"hahaha, emangnya kamu pikir aku mau ngapain ?"


Ara pun merasa aneh melihat Ian tertawa.


"kamu mikirin yg nggak-nggak ya ????"


ledek ian pada Ara, pipi Ara pun yg mula nya biasa saja kini mulai berubah menjadi sedikit kemerah-merahan karena malu.


"apaan sih sayang.."


jawab Ara dengan memalingkan wajahnya.


Ian pun menghentikan tawanya dan memegang wajah istrinya itu agar menatapnya.


"terimakasih, karena kamu sudah mau mendampingi ku selama ini dan untuk kedepannya.."


"kamu jangan bilang gitu, harusnya aku yg berterimakasih sama kamu, karena kamu yg selama ini selalu ada buat aku.."


jawab Ara tersenyum dan memegang wajah suami nya itu


"aku harap kita akan selalu bersama untuk selamanya.."


Ara dan ian pun saling berpelukan.


"ya udah, sekarang kita lanjutin masaknya lagi yu.."


ajak Ara, Ian pun tersenyum dan menuruti keinginan istrinya itu.


"bolehkah ??"


tanya ian pada Ara meminta persetujuan untuk memulai kembali acara masaknya.


"dapur ini milik mu sayang, aku hanya akan membantu sedikit-sedikit saja.."


"baiklah aku mulai.."


Ian pun mulai menyalakan kembali kompor yg tadi sempat ia matikan.


dengan lihainya Ian memasak masakan kesukaan Ara dan dirinya.


tangannya begitu cepat dan cekatan, wajan satu dan wajan lainnya yg terisi dengan bahan masakan pun tidak ada yg gosong, saat Ian akan memasukkan bumbu pun terlihat sangat yakin dengan takarannya.


tidak butuh waktu lama akhirnya masakan Ian pun jadi, Ian menyajikan masakannya pada sebuah piring yg sangat cantik dan sekarang giliran Ara untuk menata hasil masakan suaminya tersebut di atas meja makan.


merekapun akhirnya duduk saling berhadapan bersiap untuk menyantap masakannya.


Ara mengambil piring milik Ian, kemudian menyendok kan nasi di atasnya dan menyimpan beberapa lauk yg tadi Ian masak.


"ini..."

__ADS_1


"terimakasih sayang.."


jawab Ian tersenyum dan kemudian balik mengambil piring milik Ara dan menyendok kan nasi juga lauknya di atas piring.


"terimakasih sayang.."


"sama-sama sayang, cobalah, jika tidak enak kau bisa protes pada suami mu ini.."


ujar ian sambil tersenyum.


"baiklah, aku akan protes jika masakan mu tidak enak.. tapi kalau dilihat dari penampilannya sih terlihat cukup meyakinkan.."


jawab ara sambil sedikit tertawa kecil.


Ara pun menyendok makannya dan memasukkannya kedalam mulut nya.


"bagaimana ??"


tanya ian harap-harap cemas.


melihat ekspresi Ara yg sedari tadi menikmati makanannya dengan serius, semakin membuat Ian deg-degan.


Ara hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan wajah yg berseri bahagia. Ian pun ikut tersenyum.


"enak sayang.."


puji Ara pada masakan Ian sambil mengacungkan kedua ibu jari tangannya.


"apakah istri ku ini menyukainya ??"


tanya ian pada ara. tidak ada jawaban dari Ara karena Ara sedang menikmati masakan Ian yg memang sangat enak baginya. Ara hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali.


Ian pun tersenyum melihat istrinya itu suka dengan masakannya dan memakannya dengan lahap.


kemudian Ian pun ikut menyantap makanannya.


*


*


*


*


*


*


*


"saat cinta datang, kau rasa senang..


saat cinta pergi, kau sakit hati..


saat cinta terucap janji, jangan pernah kau ingkari..


karena saat cinta hilang, itu akan terasa malang.."

__ADS_1


__ADS_2