Mutiara Yang Hilang

Mutiara Yang Hilang
#64 mulai ngidam


__ADS_3

di pagi hari ini, cuaca sedikit tidak mendukung bagi siapapun, tidak seperti pagi-pagi sebelumnya yg cerah dengan udara yg segar, namun hari ini langit sedikit gelap dan angin berhembus cukup kencang dan cuaca seperti inilah yg membuat siapapun pasti inginnya berselimut di atas kasur, menonton film dengan ditemani minuman hangat dan camilan.


namun apalah daya, semua orang yg memiliki pekerjaan memang haruslah tetap pergi bekerja. cuaca seperti apapun, keadaan seperti apapun bagi para pekerja haruslah tetap bekerja memenuhi kewajiban mereka, sekalipun itu adalah seorang pemimpin perusahaan, tetaplah memiliki kewajiban untuk bekerja.


ara yg sedang menonton televisi sambil berbaring di sofa ruang keluarga, saat melihat suami nya yg akan berangkat bekerja, tiba-tiba saja bangun dan melarang Ian untuk pergi bekerja.


"jangan kerja.."


"kenapa ?"


"aku nggak mau aja kamu kemana-mana.."


Ian merasa heran dengan keinginan Ara kali ini, karena tidak seperti biasanya Ara melarang Ian bekerja, padahal biasanya ara lah yg paling cerewet jika Ian sedikit saja telat pergi ke kantor karena menurut ara, seorang pemimpin haruslah menjadi teladan bagi para pekerjanya.


karena Ian mengingat nasihat dari orangtua dan mertuanya agar tidak menolak keinginan istri saat sedang hamil, Ian pun mengalah dan tidak pergi bekerja namun bukan berarti Ian tidak bekerja, Ian tetap bekerja, tapi di rumah.


"baiklah, aku tidak akan pergi bekerja.. aku ganti baju dulu ya.."


Ara hanya mengangguk sambil tersenyum manis penuh kemenangan.


setelah selesai berganti pakaian, Ian kembali ke ruang keluarga untuk menemui ara namun yg di cari tidak ada di sofa. Ian pun mulai panik karena tidak biasanya Ara pergi tanpa ijin darinya.


Ian mencari Ara ke seluruh ruangan yg ada di rumah, kemudian Ian mencari ke taman dan paviliun namun Ara juga tidak ada, Ian mulai lelah mencari Ara, Ian pun duduk dengan nafas yg sedikit terengah-engah, saat Ian sedang merilekskan kepalanya di bantalan kursi, tiba-tiba Ara datang dengan membawa sebuah plastik berisi makanan sehingga membuat Ian langsung duduk dan melihat ke arah kantong plastik yg berbunyi karena terayun.


"kamu darimana ? apa itu ? aku cari kamu kemana-mana tapi nggak ketemu, sekarang datang-datang malah bawa-bawa plastik.."


tanya ian panjang lebar, sedangkan yg ditanya hanya diam menyimak pertanyaan dari Ian.


"tadi ada yg jual tahu gejrot, ya udah aku keluar, eh tukang tahu gejrot nya udah agak jauh, ya udah aku kejar aja sambil teriak-teriakin mamang nya terus.."


jawab Ara tersenyum kemudian duduk dan membuka bungkusan plastik berisi tahu gejrot.


saat bungkusan di buka, Ian pun merasa tergoda dengan tahu gejrot milik Ara, Ian pun ikut duduk dan mulai menurunkan kemarahannya, siapa tau Ara ingin membagi tahu gejrot miliknya dengan Ian.


saat Ara menyuapkan makanannya kedalam mulutnya, Ian dengan jual mahal dengan mode masih sedikit marahnya karena Ara keluar tanpa ijinnya, berusaha tidak menghiraukan kehadiran Ara di sampingnya, namun sesekali sudut matanya melirik ke arah tahu gejrot milik Ara.


"kalo mau bilang, jangan lirik-lirik mulu.."


sindir ara pada ian, Ian yg mendengar pun merasa malu, namun tetap di tahannya.

__ADS_1


"siapa juga yg mau.."


jawab Ian dengan nada yg di kesal-kesalkan.


"yakin nggak mau ?"


"yakin.."


"padahal aku beliin juga buat kamu loh.."


"yg bener ? mana ?"


tanpa sadar Ian pun menanyakan dimana makanan yg di beli Ara untuk dirinya.


"tuh kaaann.."


ejek Ara, Ian pun baru tersadar dengan ucapannya, tanggung malu, Ian pun tersenyum seakan tidak ada apa-apa.


"ya abis nya kamu nggak bilang dulu ke aku, aku kan khawatir.."


"iya iya, maafin aku yaaa, nih buat kamu.."


ujar Ara tersenyum dan memberikan satu cup makanan berisi tahu gejrot untuk Ian.


jawab ian, kemudian mengelus rambut Ara sebagai tanda sayang nya.


sedangkan di pagi hari yg sama di tempat yg berbeda, terlihat seorang wanita muda datang ke kantor dengan mengendarai mobil sendiri, berdandan layaknya seorang sekretaris namun karena cuaca sedang berangin cukup kencang, jadilah Dewi mengenakan mantelnya agar dia tidak merasa kedinginan saat angin kencang bertiup.


saat Dewi berjalan melewati para karyawan di bawahnya, Dewi merasa ada yg aneh karena tidak biasanya hampir semua karyawan menyapanya, tersenyum padanya dan menundukkan kepalanya saat berpapasan dengannya.


"pada kenapa coba ?"


tanya Dewi dalam hati dengan ekspresi yg susah untuk di artikan sambil berjalan menuju lift yg menuju ruangannya.


sesampainya di dalam ruangan, Dewi menggantungkan mantelnya kemudian menunggu kedatangan sang pemimpin perusahaan di depan pintu masuk ruangan.


tak berapa lama, Jo pun datang dengan ekspresi biasa saja, seakan tidak ada apa-apa.


Dewi pun membukakan pintu ruangan kerja mereka. saat mereka sudah berada di dalam ruangan kerja, mereka akan menjadi rekan kerja yg profesional namun jika sudah di luar jam kantor, mereka akan menjadi sepasang kekasih yg saling mencintai, sehingga siapapun yg melihat akan merasa kebingungan, apakah mereka bos dan sekretaris atau sepasang kekasih ?

__ADS_1


saat jam makan siang kantor, Dewi dan Jo memutuskan untuk makan siang di luar, di sebuah restoran yg cukup mewah dengan memesan ruangan pribadi untuk mereka berdua saja.


"sesuai rencana, nanti malam, aku sama mamih bakalan ke rumah kamu, buat nentuin tanggal baik kita.."


Dewi hanya diam dan mengangguk, padahal di dalam hatinya, Dewi merasa deg-degan tak karuan.


mereka makan dengan keheningan, hanya suara sendok, garpu dan pisau yg terdengar.


setelah selesai makan, mereka kembali sedikit berbincang ringan sebelum mereka kembali ke kantor untuk meneruskan pekerjaan masing-masing.


pekerjaan yg harus di selesaikan pun menjadi alasan Jo dan Dewi harus segera kembali ke kantor.


di dalam rumah, Ian masih sibuk dengan laptopnya, karena pekerjaan yg lumayan banyak. Ara yg melihatnya pun merasa risih melihat suaminya ada di rumah namun tidak dengan jiwanya.


"jangan terus bekerja.. makan siang dulu.."


ujar Ara mengingatkan Ian agar segera berhenti bekerja dan segera makan siang.


"iya sebentar sayang.."


jawab Ian masih dengan mata yg fokus pada laptopnya.


"aku yg matikan laptop kamu atau kamu yg matiin sendiri ?"


gertak Ara pada suaminya. Ian pun memutuskan untuk menyimpan laptopnya dan mengikuti keinginan istrinya itu dengan menunjukkan senyuman nya.


mereka pun menuju ruang makan dan makan siang bersama. setelah selesai makan siang, barulah Ian melanjutkan pekerjaannya dan Ara kembali berbaring di sofa ruang keluarga sambil menonton film kesukaannya bersama Ian yg sedang bekerja di sampingnya.


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


jangan sia-siakan orang yg perduli padamu karena setelah dia tidak ada, barulah terasa kalau hanya dia yg perduli kepadamu dan bukan orang yg lainnya.


__ADS_2