Mutiara Yang Hilang

Mutiara Yang Hilang
#62


__ADS_3

dari sore sampai malam mereka habiskan dengan bercerita dan tertawa bersama, banyak cerita yg terungkap, hingga mereka lupa, bahwa hari sudah sangat larut.


saat masih ingin bercerita, tiba-tiba saja Ara berdiri dan pergi dari ruang tamu menuju kamarnya. sudah hampir lima belas menit Ian, Dewi dan Jo menunggu Ara kembali dari kamarnya dan bergabung kembali bersama mereka namun yg di tunggu tidak juga keluar.


"Ara kenapa nggak keluar lagi ?"


tanya Dewi.


"bentar, gue liat dulu ke kamar.."


jawab Ian kemudian menuju kamarnya. saat Ian masuk ke dalam kamar nya, di lihatnya Ara sedang tertidur nyenyak di kasurnya.


Ian hanya bisa tersenyum, menggelengkan kepala dan menggaruk kepalanya yg tidak gatal kemudian berjalan keluar menemui Jo dan dewi.


"maaf ya, Ara nya tidur.."


ujar ian menjelaskan, Jo dan Dewi yg mendengar penjelasan Ian pun hanya menunjukkan ekspresi heran yg sama.


"ya udahlah, kita pulang aja deh, udah malem juga.."


ujar Dewi sambil membereskan barang bawaannya kedalam tasnya. setelah selesai, Dewi dan Jo pun berdiri berpamitan pada Ian.


tinggallah Ian di rumah sendirian, Ian membereskan semua bekas makanan mereka tadi yg berserakan di atas meja. tak lupa, Ian juga menyapu dan mencuci piring juga gelas yg kotor sebelum Ian beristirahat.


saat sedang mencuci piring, Ian sibuk dengan pemikirannya sendiri, terbayang tingkah Ara yg tiba-tiba saja ke dalam kamar dan tidur tanpa pamitan pada orang-orang yg sedang bersamanya tadi.


lamunan Ian pun terbuyarkan saat seseorang memegang pundaknya.


"Dewi sama Jo kemana ?"


tanya ara, seakan tak bersalah dan berdosa.


"mereka udah pulang, udah malem juga, mereka kan besok harus kerja.."


jawab Ian sambil menyelesaikan cucian piring terakhirnya. Ara hanya mengangguk saja, kemudian berjalan menuju kulkas, mengambil buah apel lalu menggigitnya.


"sayang, itukan dingin.."


"nggak apa-apa lah sayang, kali-kali ini.."


jawab Ara tersenyum. Ian pun hanya menghembuskan nafasnya sedikit kasar.


setelah apel yg Ara makan habis, Ara dan ian pun kembali ke kamar mereka untuk beristirahat.


sedangkan di sisi lain, Jo dan Dewi yg masih dalam perjalanan pulang menuju rumah Dewi pun banyak bercerita tentang perilaku Ara tadi.


mulai dari saat mereka ngobrol, terkadang Ara asyik dengan dirinya sendiri dan terkadang sangat menyimak cerita-cerita yg di bicarakan dan yg lebih membuat Ara dan Jo heran, saat Ara pergi begitu saja menuju kamar dan ternyata malah tidur.


"sepertinya Ara benar-benar aneh deh.."


ujar Dewi.


"bukan sepertinya lagi sayang, tapi sekarang Ara emang aneh.."


jawab Jo.


"sepertinya memang besok ian harus membawa Ara ke dokter.."


tambah Jo.


"iya, itu emang harus, kalo perlu aku yg temenin.."


jawab Dewi kemudian Jo melihat ke arah Dewi dengan tatapan yg meminta penjelasan.


mobil Jo pun berhenti di halaman rumah Dewi, Dewi yg melihat tatapan Jo pun kemudian tersenyum.


"iya itupun kalo kamu ijinin aku.."


"nggak, besok kamu masuk kerja.."

__ADS_1


jawab Jo ketus.


"iya iyaaaa.."


"jangan ngambek dong.."


"nggak.."


Dewi pun keluar tanpa berterimakasih dan mengucapkan selamat malam atau apapun itu, Dewi langsung masuk saja ke dalam rumahnya.


Jo yg berada di dalam mobil pun hanya tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya kemudian melajukan kembali mobilnya menuju rumahnya.


*keesokan harinya


"sayang, hari ini aku nggak ke kantor, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat.."


ujar ian saat setelah selesai sholat subuh berjamaah bersama Ara.


"kemana ?"


"nanti juga kamu tau, kita siap-siap dulu aja ya.."


Ara hanya mengangguk dan tersenyum.


setelah selesai bersiap, Ara dan Ian menuju dapur untuk sarapan terlebih dahulu sebelum pergi ke tempat yg di maksud Ian.


di hari sebelumnya, Ian sudah membuat janji dengan seseorang yg akan memeriksa Ara nanti.


jam setengah sembilan Ara dan Ian berangkat menuju tempat tujuan mereka. sepanjang perjalanan, Ara bertanya kepada Ian kemana mereka akan pergi namun ian hanya tersenyum dan terus saja menjawab "nanti kamu juga tau".


setelah memasuki lapangan parkiran Rumah Sakit, Ara pun mulai heran dan penasaran, kenapa Ara dan ian harus kesini.


saat mobil sudah terparkir,


"kenapa kesini ? apa ada yg sakit ?"


tanya Ara kemudian keluar dari mobil.


"siapa ?"


Ian hanya tersenyum kemudian menggenggam dan menggandeng tangan Ara kedalam RS menuju salah satu ruangan yg ada di lantai dua.


setelah menemui resepsionis dan mengatakan sudah ada janji sebelumny dengan seorang dokter, Ara dan ian pun langsung di persilahkan masuk.


saat mereka masuk, sang dokter sudah menunggu di kursi kerjanya sambil mengerjakan sesuatu.


"apakah saya mengganggu ?"


ujar ian sedikit bercanda kemudian sang dokter pun melihat ke arah sumber suara.


"eh yan, masuk.."


jawab sang dokter kemudian membereskan meja kerjanya.


"sibuk Lo ?"


"nggak lah, gue sengaja kosongin jadwal gue buat Lo jam ini.."


"emang lo the best.."


sang dokter hanya tersenyum.


"sayang, kenalin, ini dr.guna, dia sepupu aku dari keluarga mamih.."


Ara pun menjabat tangannya dan tersenyum.


"silahkan duduk.. gimana yan ?"


tanya sang dokter.

__ADS_1


Ian pun menceritakan semua kejanggalannya terhadap istrinya, Ara hanya diam saja sedari tadi, saat Ian dan dokter tersebut pun sedang berbincang tentang dirinya, Ara masih diam memainkan ponselnya.


saat Ian sedang bercerita, sesekali sang dokter pun melihat ke arah ara.


setelah ian selesai bercerita, sang dokter pun kemudian meminta Ara untuk berbaring.


"nona, mari ikut saya untuk pemeriksaan.."


"kenapa aku sayang ?"


tanya Ara pada Ian.


"udah nggak apa-apa sayang, ikut aja.."


jawab Ian, Ara pun menuruti perintah Ian.


Ara mengikuti sang dokter kemudian berbaring di ranjang pasien.


sang dokter pun memeriksa Ara dengan teliti.


setelah selesai, Ara dan sang dokter pun kembali ke meja kerja dokter.


"gimana ?"


tanya ian penasaran, sang dokter pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian mengulurkan tangannya.


"apa ?"


"jabat aja dulu.."


Ian pun menjabat tangan dr.guna


"Lo bakal jadi papih.."


"apa ?"


Ian dan Ara sama-sama terkejut dengan pernyataan dr.guna


"selamat, kalian akan menjadi orangtua.."


"maksud Lo, Ara lagi hamil ?"


dr.guna pun hanya tersenyum dan mengangguk kemudian Ian memandang ke arah Ara dan Ara pun menatap balik Ian.


keduanya saling tatap dengan tatapan mata yg saling terharu saat mengetahui bahwa Ara sedang mengandung kemudian Ian memeluk Ara.


"ya udah, gue balik dulu, gue mau ngasih kabar gembira ini ke keluarga.. makasih ya.."


"iya sama-sama.."


Ara dan ian pun keluar dari ruangan dr.guna dengan senyum bahagia yg terukir di wajahnya.


sepanjang perjalanan pulang menuju rumah mereka, tak pernah semenit pun Ian melepaskan tangan Ara meskipun sedang mengemudi sekalipun.


sesampainya di rumah, sesuai perkataannya tadi, Ara dan ian langsung memberitahukan kabar gembira kehamilan Ara kepada orangtua dan keluarga mereka.


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


bukan niat untuk membuang-buang waktu, namun apalah daya tuhan lah yg menentukan takdir.


__ADS_2