Mutiara Yang Hilang

Mutiara Yang Hilang
#61 semoga saja


__ADS_3

pagi hari yg cerah biasa nya di sambut dengan senyuman yg ceria, namun tidak dengan Ara. Pagi ini terlihat sangat tidak bersemangat, setelah selesai menyiapkan sarapan dan keperluan suaminya, Ara kembali duduk di kasur kamarnya menghadap jendela yg memancarkan cahaya hangat sinar mentari pagi.


Ian yg baru keluar dari kamar mandi, melihat istrinya sedang duduk termenung tak jelas dengan pandangan menuju ke arah yg tak jelas pula, seakan pikiran Ara sedang tidak ada di dalam raganya.


sebelum mendekati Ara, Ian memutuskan untuk bersiap-siap dulu, memakai pakaian kerjanya dan menyiapkan tas kerjanya.


setelah selesai barulah Ian mendekati Ara dan duduk di sampingnya.


"kenapa ?"


tanya ian sambil memegang tangan Ara.


Ara pun mulai tersadar.


"apa ?"


"kamu kenapa ?"


"nggak tau, tiba-tiba aja lagi pengen sendiri, nggak ngapa-ngapain, pengen di tempat yg nyaman dan sepi aja.."


"kita sarapan dulu yu.."


Ara tidak menjawab, saat Ian memegang tangan Ara dan mengajaknya untuk sarapan bersama Ara hanya mengikut saja.


Ara dan ian sarapan dengan pikiran mereka.


Ian melihat Ara yg sedang sarapan, namun sarapannya hanya sedikit.


"nggak kaya biasanya, akhir-akhir ini Ara ko beda banget, kadang-kadang semangat, kadang-kadang lemes, dan lain sebagainya.."


gumam ian dalam hatinya.


"sayang, aku udah selesai sarapannya.."


"hah, ya udah ayo, aku anter ke depan.."


jawab Ara sedikit terkejut dan bersikap seperti biasanya.


sesampainya di teras rumah, Ara mencium punggung tangan Ian dan Ian mencium kening Ara.


"hati-hati di jalan.."


ujar Ara pada ian, Ian pun tersenyum kemudian Ian masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju kantor.


siang ini kebetulan Ian ada meeting di luar kantor dan Ara mengetahui itu, sehingga hari ini Ara tidak membawakan / mengirimkan makan siang untuk Ian.


dua jam sebelum makan siang, Ian sedang melakukan rapat di salah satu kantor di dekat salah satu restoran. rapat selesai saat jam makan siang. saat jam makan siang itu Ian memutuskan untuk sekalian makan siang di restoran dekat kantor tempat tadi Ian melakukan rapat tanpa ada janjian sebelumnya, saat ian memasuki restoran tersebut, Ian melihat sekeliling untuk mencari meja kosong, namun sayang nya semua meja penuh, saat Ian hendak pergi dari restoran tersebut tak sengaja matanya menangkap dua sosok yg tak asing bagi Ian.


"bolehkah saya ikut bergabung dengan tuan dan nona.."


ujar ian pada Jo dan Dewi.


Jo dan Dewi yg memang sedang menunggu makanan mereka datang sambil memainkan ponsel masing-masing merasa terkejut saat ada seseorang yg ingin duduk bersama mereka, mereka berdua pun melihat ke arah sumber suara secara bersamaan.


"nggak boleh, ini khusus buat kita berdua.."


jawab Jo.


"tega Lo sama gue, gue juga laper tau.."


"udah, sini duduk.. tumben Lo sendiri, sekretaris Lo mana ?"


tanya Dewi pada Ian.


"sekretaris gue, gue suruh pulang ke kantor duluan, abisnya gue laper banget, ya udah deh gue kesini, eh ada Lo berdua.."


saat mereka sedang berbincang makanan yg di pesan Dewi dan Jo pun sudah datang dan tersaji di meja mereka dan tak lama kemudian makanan pesanan Ian pun datang juga, mereka pun makan siang bersama sambil sedikit membicarakan masalah pekerjaan.


saat setelah selesai makan, mereka memilih untuk bersantai sebentar untuk sekedar ngopi.


tanpa segan, Ian pun menceritakan keanehan yg terjadi pada diri Ara kepada Jo dan Dewi.

__ADS_1


semua Ian ceritakan, mulai dari perubahan mood nya, karakternya dan lain sebagainya.


Jo dan Dewi terkadang hanya mengangguk saat mendengar cerita dari Ian.


"mungkin lagi Dateng bulan kali.."


ujar Jo.


"atau jangan-jangan....."


ujar Dewi menggantung perkataannya.


"jangan-jangan apa ???"


tanya ian penasaran dan tidak mengerti dengan maksud ucapan Dewi.


"mending Lo ajak Dewi ke rumah sakit deh.."


suruh Dewi pada Ian.


"buat apa ? Ara nggak lagi sakit ko.."


jawab Ian masih belum mengerti dengan maksud Dewi.


"Lo tuh ya, jangan-jangan Ara lagi......"


ujar Dewi sedikit kesal dan mempraktekkan bentuk setengah bulatan di perutnya.


Jo dan Ian yg melihat Dewi seperti itu pun mulai sadar dengan perkataan Dewi yg menggantung tadi dan mulai saling melihat satu sama lain.


"maksud Lo, Ara..."


"ya gue saranin sih buat ke dokter dulu aja, ya siapa tau aja.."


"besok deh gue bawa ke rumah sakit.. doain ya siapa tau Ara beneran...."


Jo dan Dewi tersenyum saat Ian mengharapkan doa agar Ara benar-benar sedang mengandung.


setelah selesai dengan acara ngopi mereka, mereka pun memutuskan untuk kembali ke kantornya masing-masing.


saat di perjalanan menuju kantor, di dalam mobil, Ian masih terngiang dengan perkataan Dewi tadi. Ian bertekad kalau besok, ian akan membawa Ara ke rumah sakit untuk mengecek apakah benar Ara sedang mengandung atau memang hanya hormon Ara saja yg sedang tidak stabil.


Ian tidak memberitahukan niatnya yg akan membawa Ara ke rumah sakit besok, biar saja besok mereka langsung pergi ke rumah sakit saja.


sesampainya di kantor, Ian langsung masuk ke dalam ruangannya. saat Ian baru saja duduk di kursi kerjanya, terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"masuk.."


dan ternyata sang sekretaris yg masuk.


"maaf pak, ini rangkuman hasil rapat tadi.."


sang sekretaris menaruh sebuah map berisi file di atas meja Ian.


"iya, terimakasih.."


"iya pak, saya permisi pak.."


Ian tidak menjawab tapi hanya menganggukkan kepalanya sambil membaca hasil laporan tadi. sang sekretaris pun pergi ke luar kembali ke meja kerjanya.


Ian kembali fokus pada pekerjaannya yg pagi tadi tertunda karena harus melakukan meeting terlebih dahulu namun fokus Ian memudar saat Ian ingat kalau dirinya belum mengecek keadaan Ara.


"udah makan siang ?"


isi pesan Ian untuk Ara.


"udah, kamu ?"


"syukurlah.. udah, tadi makan siang nya juga bareng sama Jo sama Dewi.."


"oh ya ? ah, rasanya aku ingin ke rumah Dewi.."

__ADS_1


"iya.. jangan nanti saja, Dewi kan sekarang masih kerja.."


"oh iya, aku lupa, tapi aku ingin bertemu dengan Dewi.."


"kamu telepon aja.."


"ya sudah, aku mau nelpon Dewi dulu.."


dan benar saja, Ara langsung menelpon dewi.


Dewi yg sedang bekerja pun merasa terganggu dengan ponsel nya yg terus saja berbunyi.


"siapa ?"


tanya Jo.


"Ara.. aku angkat dulu, boleh ?"


"angkat aja.."


............


"iya Ra, ada apa ?"


"kata Ian tadi kalian makan siang bareng ya ? gue jadi pengen ketemu sama Lo nih dew.."


"lah, ya udah nanti gue ke rumah Lo deh pas pulang kerja.."


"bener ya.."


"iyaaa.."


.............


sambungan telpon pun terputus.


"Ara mau aku ke rumahnya nanti sore. gimana ? mau ikut nggak ?"


ujar Dewi pada Jo.


"ayo, udah lama juga nggak main ke rumah Ara.."


saat telah memberitahu Jo, dewi langsung memberitahu ibunya kalau dirinya akan pulang telat karena akan ke rumah Ara terlebih dahulu.


mereka pun kembali fokus pada pekerjaan mereka sampai jam pulang kantor tiba dan Dewi memenuhi janjinya untuk main ke rumah Ara.


Dewi dan Jo mengendarai mobil masing-masing menuju rumah Ara, namun sebelumnya Dewi dan Jo memutuskan untuk berbelanja makanan ringan, camilan dan minuman untuk mereka bawa ke rumah Ara.


sesampainya di rumah Ara, Dewi dan jo memarkirkan mobil mereka dan segera masuk kedalam rumah Ara.


Ara merasa sangat senang saat bertemu dengan Dewi, seakan sudah sekian lama mereka tidak pernah bertemu.


tak lama kemudian, Ian pun datang dan ikut bergabung.


mereka berempat asyik bercerita tentang segala hal, kecuali niat Ian yg akan membawa Ara ke rumah sakit besok karena sebelumnya saat di restoran tadi siang, Ian meminta agar Jo dan Dewi tidak menceritakan hal ini pada Ara.


*


*


*


*


*


*


*


jika kau memiliki seseorang yg sanggup bersama mu dalam keadaan dirimu seperti apapun, walaupun sedikit menyebalkan tapi pertahankanlah, karena mungkin dia adalah seseorang yg tulus yg tidak menginginkan imbalan apapun dari dirimu karena ketulusannya itu.

__ADS_1


__ADS_2