Mutiara Yang Hilang

Mutiara Yang Hilang
#54 masalah ????


__ADS_3

keesokan harinya.....


semua orang sibuk dengan kesibukannya masing-masing saat pagi hari tiba.


karena sudah berjanji pada Dewi, hari ini Jo pun menepati janjinya untuk membawa hasil pemotretan dirinya dengan Dewi tempo hari.


agar tidak terlalu terlihat mencolok, Jo pun memasukkan album tersebut ke dalam tas kerjanya dan dengan santainya Jo berjalan melewati semua karyawan nya.


Dewi yg sudah datang terlebih dahulu, tidak sabar menunggu kedatangan Jo, bukan karena kangen atau apapun itu, tapi Dewi penasaran dengan album foto yg akan Jo bawa pagi ini.


saat Jo masuk ke dalam ruangannya, Dewi pun bersikap seperti karyawan lain pada umumnya, memberikan salam dan hormat kepada sang pimpinan. namun saat Jo baru saja akan duduk, Dewi sudah berada di sampingnya.


"apa ?"


ujar Jo sedikit kesal karena Dewi mengganggunya saat hendak akan duduk.


"album foto.."


ujar Dewi dengan posisi tangan meminta.


"kamu tuh ya, aku baru aja mau duduk, kamu udah ganggu aja, kirain mau ngasih jadwal aku hari ini, ini malah minta album foto.."


ujar Jo sambil mengeluarkan album foto tersebut dari tas kerjanya.


"nih, buat kamu.."


tambahnya lagi sambil memberikan album foto itu kepada dewi.


Dewi yg menerimanya langsung tersenyum dan berjalan menuju meja kerjanya.


"makasih atau apa gituh.."


ujar Jo kesal.


Dewi pura-pura tidak mendengar nya, ia menyibukkan diri membuka lembar demi lembar foto yg ada dan kadang-kadang senyum sendiri.


"aneh.."


ujar Jo saat melihat Dewi tersenyum sendiri.


"biarin.."


"lah, malah jawab.."


setelah selesai melihat-lihat, Dewi pun menutup album foto tersebut kemudian menyimpannya kedalam tas nya dan kembali fokus pada kerjaannya.


Jo yg melihat nya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian fokus pada pekerjaannya juga meskipun hatinya masih kesal dengan sikap Dewi barusan.


saat jam makan siang, Jo yg hendak keluar dan pura-pura ingin mengacuhkan Dewi pun akhirnya tidak jadi karena sebelum Jo keluar, Dewi sudah menyiapkan makanan untuk dirinya dan Jo makan siang bersama. karena saking fokusnya Jo pada pekerjaannya, Jo tidak tau kalau Dewi sudah menyiapkan makanan.


"kapan kamu siapin ini..?"


tanya Jo yg berlagak so cool di hadapan Dewi, namun Dewi tau kalau Jo masih kesal dengan sikapnya pagi tadi, karena Dewi sudah merencanakan ini sebelumnya, Dewi ingin membuat Jo kesal dan tujuan Dewi pun berhasil.


"udah, sini, aku udah siapin makanan sebanyak ini buat kita makan bareng.. maaf soal tadi pagi, aku cuman mau liat gimana ekspresi kamu kalo lagi kesel sama orang dan terimakasih, karena kamu udah bawain aku album itu.. sebagai gantinya, aku masakin makanan kesukaan kamu.. ayo makan, aku udah laper.."


ujar Dewi panjang lebar, Jo yg mendengar penjelasan Dewi pun akhirnya luluh juga, karena jika memang Jo ingin marah, Jo tidak akan bisa marah lama-lama pada Dewi.

__ADS_1


Jo pun ikut Dewi duduk di sofa, dengan telatennya Dewi menyiapkan makanan untuk Jo, mulai dari nasi hingga lauk dan minuman nya.


"jadi pengen cepet-cepet nikahin kamu deh.."


"apaan sih, nih makan bukan bahas nikah-nikah aja yg di pikirin.."


mereka berdua pun makan bersama di dalam ruangan Jo dengan di selingi sedikit obrolan.


tak berbeda jauh dengan Jo dan Dewi, Ara dan ian pun saat sedang makan siang bersama di ruangan Ian.


karena saking penasarannya Ian kenapa Ara selalu mengiriminya makan siang, Ian pun menanyakannya secara langsung tanpa basa-basi.


"sayang, maaf ya sebelumnya, bukannya aku nggak seneng kamu kesini dan bawain aku makan siang tiap hari, tapi kenapa sih kamu jadi kaya gini, sebelum-sebelumnya nggak pernah tuh.."


ujar ian panjang lebar.


Ara yg sedang mengunyah makanannya pun langsung menelan makanannya meskipun belum sepenuhnya halus terkunyah karena mendengar pertanyaan dari Ian.


Ara bingung, apakah harus marah atau jujur.


Ara marah karena ian bertanya seperti itu, karena dalam pikiran ara seolah-olah Ian tidak ingin Ara setiap hari ke kantornya.


tapi kalau Ara jujur, Ara sedang mewaspadai sekretaris suaminya itu, Ara takut Ian akan menertawakannya dan mengata-ngatainya cemburu.


"ya, ya mau aja, emangnya kenapa ? nggak boleh ? ya udah, kalo nggak boleh, besok aku nggak bakalan kesini lagi, makan siang aja sama sekretaris kamu sana.."


ujar Ara dan menyudahi makannya kemudian memundurkan posisi duduknya sedikit menjauhi Ian.


Ian mulai paham kenapa Ara setiap hari datang ke kantor membawakan makan siang untuk nya.


"bukan itu maksud aku sayang, kamu nggak suka ya sama sekretaris aku.."


"iya, kenapa emang ? aku nggak suka sama dandanan dan sikap sekretaris kamu kalau dia lagi Deket sama kamu.."


"ya udah, nanti aku tegur dia supaya lebih sopan lagi kalau berpakaian dan memperbaiki sikapnya.."


ujar ian sambil memegang tangan Ara.


"janji ?"


"iya, ya udah sekarang kita makan lagi, sayangkan makanan seenak dan sebanyak ini mau siapa yg ngabisin.."


Ara pun luluh dengan kata-kata Ian dan mereka pun kembali makan bersama.


sedangkan di tempat lain, sang sekretaris yg tadi di bicarakan pun sesekali bersin-bersin saat dirinya sedang makan.


Jo yg sudah selesai dengan makannya dan sudah cukup istirahat nya kembali ke meja kerjanya, sedangkan Dewi masih membereskan rantang makanan dan meja yg kotor karena acara makan siang mereka tadi.


Jo yg tadi nya ingin membantu Dewi, namun di larang oleh Dewi, karena Dewi takut ada seseorang yg masuk dan melihat Jo sedang membersihkan meja, apa kata orang lain, seorang pimpinan perusahaan besar membersihkan meja.


Jo pun mengikuti ucapan Dewi meskipun Jo tidak tega harus melihat Dewi membersihkan meja sendirian, padahal bisa saja Jo meminta office boy untuk membersihkannya, namun lagi-lagi Dewi menolaknya.


dalam hati, Jo pun semakin kagum pada Dewi karena kepribadiannya.


selagi masih bisa dia lakukan sendiri, kenapa harus merepotkan orang lain.


setelah selesai membereskan dan membersihkan meja, Dewi pun keluar untuk mencuci tangannya. saat Dewi akan memasuki toilet, Dewi mendengar ada suara dua orang wanita sedang membicarakan dirinya.

__ADS_1


"enak ya jadi Bu Dewi, makan siang bareng si bos Mulu, berduaan lagi di ruangannya.."


ujar karyawan 1


"mungkin mereka punya hubungan yg lain yg kita nggak tau, ya udahlah biarin aja, bukan urusan kita juga, kalau pun iya mereka punya hubungan, kita doain aja mereka supaya langgeng, toh mereka juga cocok dan kompak dalam pekerjaan ."


ujar karyawan 2.


Dewi pun mengurungkan niatnya untuk ke toilet dan hanya menggunakan wastafel yg ada di luar toilet saja kemudian kembali ke ruangannya sebelum dua karyawan tadi tau kalau Dewi mendengarkan obrolan mereka.


Dewi tidak ingin Jo melihatnya datang dengan keadaan hati yg sedikit kacau, Dewi pun mengatur nafasnya dan mulai melupakan semua yg dia dengar tadi.


"cuci tangan dimana ? lama banget.."


"di Baghdad.."


jawab Dewi asal dan membuat Jo gemas, Jo pun berdiri dari kursinya dan mendekat ke arah Dewi kemudian mengacak-acak rambut nya.


"rambut akuuuuu..."


kesal Dewi namun Jo tidak memperdulikannya kemudian duduk kembali ke meja kerjanya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Dewi pun membereskan kembali rambutnya yg acak-acakan dengan perasaan kesal pada tunangannya itu.


kemudian mereka pun kembali pada kerjaan masing-masing.


sedangkan di perusahaan Ian, Ara memutuskan untuk pulang duluan karena memang ada kerjaan yg belum selesai.


Ian pun mengantarkan Ara sampai di lobby sampai mobil Ara tidak terlihat barulah ian masuk kembali ke ruangannya.


namun saat melewati meja sekretaris nya, Ian teringat dengan janjinya tadi pada Ara.


"Irene, sebelumnya saya minta maaf sama kamu, bukannya kerjaan kamu tidak bagus, tapi saya ingin kamu sedikit memperbaiki riasan kamu, cara berpakaian kamu dan sikap kamu terhadap saya.. saya harap kamu maklum dan mengerti dengan perkataan saya.."


ujar ian panjang lebar.


"baik pak, maafkan sikap saya selama ini, saya akan berusaha memperbaiki diri saya lagi kedepannya.."


"bagus, terimakasih atas pengertian nya.."


Ian pun berlalu meninggalkan sang sekretaris yg sedang tertunduk menuju ruangannya, sedang sang sekretaris masih tertunduk saat Ian sudah masuk ke dalam ruangannya, barulah dia duduk dan merenungkan kejadian yg tadi dan dia memilih untuk berubah dari pada harus keluar atau di keluarkan dari kerjaan nya saat ini.


*


*


*


*


*


*


*


pusing ? pasti, jika kamu selalu memikirkan sesuatu yg seharusnya tidak kamu pikirkan.


sesuatu yg bukan beban kamu tapi kamu memikirkan nya seolah itu adalah masalah bagi mu, sehingga pikiran mu terasa berat.

__ADS_1


mencoba untuk bertawakal kepada tuhan adalah jalan yg terbaik, karena segala sesuatu baik masalah atau apapun itu, itu adalah takdir yg sudah tuhan takdirkan untuk kita, tergantung pada kita, akankah menghadapinya atau melupakannya.


__ADS_2