
Hari senin adalah hari sibuk bagi siapapun itu, baik anak sekolah, pekerja kantor dan lain sebagainya yg memiliki pekerjaan.
dari pagi jalanan sudah mulai di padati kendaraan yg berlalu lalang kesana kemari membuat sedikit kemacetan di jalanan.
seperti saat ini, saat Ian hendak berangkat ke kantornya, saat lampu merah sudah berubah menjadi kuning dan akan menjadi hijau, Ian pun bersiap melajukan mobilnya, namun tidak di sangka masih ada seorang pengendara sepeda motor yg nekat melintasi jalanan saat lampu akan berubah menjadi hijau. karena terlalu banyaknya mobil dan motor yg sudah melaju, Ian pun ikut melajukan mobil nya namun sayangnya, mobil Ian malah sedikit menyerempet sang pengendara motor tersebut sehingga sang pengendara pun tidak stabil saat mengendarai motornya dan terjatuh di pinggir jalan, barang bawaan yg dia bawa dalam keranjang pun sedikit berantakan, karena merasa bersalah, Ian pun ikut menepi di jalanan tempat pengendara tadi terjatuh.
Ian pun keluar dari mobil dan melihat keadaan sang pengendara motor tersebut.
ternyata yg Ian tabrak adalah seorang wanita yg akan mengantarkan paket bunga kepada pelanggan nya.
"maafkan saya bu, saya tidak sengaja.."
ujar ian tulus meminta maaf.
"tidak apa-apa nak, salah saya juga karena saya tadi menerobos jalanan saat lampu akan hijau.."
jawab sang wanita yg sudah agak sedikit berumur tersebut.
"nama ibu siapa ? alamat rumah ibu dan tempat ibu bekerja dimana ? biar saya ganti kerugian ibu.. apa ibu ingin ke rumah sakit ? biar saya antar, biar saya yg tanggung semua biayanya.."
"nama ibu, ibu asri, tidak apa-apa, ibu tinggal merangkainya lagi nanti di toko, kebetulan ini semua pesenan orang di toko ibu, ibu tidak apa-apa, tidak perlu sampai ke rumah sakit.."
"ibu punya toko bunga ? ya sudah, saya antar ibu pulang saja bagaimana ?"
"tidak apa-apa nak, ibu bisa pulang sendiri.."
"tolong Bu jangan menolak saya untuk mengantarkan ibu pulang, hitung-hitung rasa tanggung jawab saya kepada ibu.."
"baiklah.."
sebelum mengantarkan ibu asri pulang ke rumahnya, Ian menelpon seseorang terlebih dahulu untuk mengambil motor Bu asri dan mengantarkan nya ke alamat yg sudah ia berikan.
setelah semuanya sudah selesai, barulah Ian mengantarkan ibu asri pulang ke rumahnya.
sesampainya di rumah Bu asri, Ian merasa sangat nyaman, karena banyaknya pepohonan dan bunga-bungaan yg tumbuh di halaman rumahnya dan benar saja, ibu asri memang membuka toko bunga di bantu oleh anak laki-laki nya yg sudah memiliki seorang istri dan anak gadis perempuan.
__ADS_1
keluarga Bu asri di kenal sebagai kelurga yg harmonis, baik, ramah, senang berbagi dan di senangi banyak tetangga.
saat Ian berada di rumahnya Bu asri, Ian di suguhkan beberapa camilan dan minuman, setelah Bu asri, anak dan menantunya duduk bersama di ruang tamu, barulah Ian menceritakan kejadian yg menimpa Bu asri tadi, dengan bersungguh-sungguh Ian meminta maaf atas kesalahannya kepada semua orang yg ada di ruangan tersebut dan Ian pun ingin mengganti semua kerugian yg telah Ian perbuat.
Bu asri, anak dan menantunya pun tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena dengan Ian datang meminta maaf dengan tulus sudah cukup menunjukkan kalau Ian adalah orang yg tidak lepas dari tanggung jawab dan tidak berniat untuk menerima ganti rugi yg ingin Ian berikan, namun ian tetap saja bersi keras ingin memberikannya.
saat Ian sedang berbincang dengan keluarga Bu asri, tiba-tiba ada telpon masuk di ponselnya. Ian pun meminta ijin untuk mengangkat telpon nya dan pergi ke luar rumah.
setelah selesai menelpon Ian kembali ke dalam dan duduk.
"maaf ibu, mas, mba sepertinya saya harus pergi karena ada pekerjaan yg harus saya selesaikan. sekali lagi saya meminta maaf atas kejadian tadi dan berterimakasih karena keluarga ibu sudah sangat baik kepada saya.. kalau begitu, saya pamit pulang Bu.."
ujar ian panjang lebar.
"hati-hati nak.. terimakasih karena telah mengantarkan ibu pulang.."
Ian pun tersenyum kemudian mencium punggung tangan Bu asri sebagai rasa hormatnya kepada orang yg lebih tua darinya.
ian pun mengendarai mobilnya menuju kantornya, sebagai seorang pemimpin memang seharusnya Ian menjadi seorang panutan, namun mau apa di kata, kejadian tadi bukanlah sesuatu yg Ian rencanakan sebelumnya dan karena kejadian tadi Ian jadi harus meminta sekretaris nya mengundurkan sedikit jadwal meeting mereka.
Ian memasuki ruangan nya, menyimpan tas kerjanya di meja kerjanya kemudian merapikan penampilannya terlebih dahulu di depan cermin yg ada di ruangannya, setelah itu barulah Ian keluar ruangan menuju ruang rapat di ikuti sang sekretaris di belakangnya.
Ian pun memasuki ruang rapat dan sebelum Ian duduk, Ian meminta maaf terlebih dahulu karena keterlambatannya.
"maaf saya sedikit terlambat, karena ada sesuatu yg terjadi di jalanan saat perjalanan saya menuju kantor tadi.. sekali lagi saya minta maaf.."
ujar ian kemudian duduk di kursinya.
meskipun Ian adalah seorang pemimpin dari suatu perusahaan yg besar namun saat dia melakukan sesuatu kesalahan atau keterlambatan seperti saat ini, Ian tidak akan malu untuk meminta maaf, tidak seperti kebanyakan pemimpin yg seenaknya saja datang terlambat meskipun sudah ada janji sebelumnya.
rapat pun di mulai, Ian memperhatikan semua penuturan dan penjelasan dari masing-masing orang yg ada di ruangan tersebut dengan sangat baik.
setelah semuanya selesai, barulah giliran Ian berbicara. Ian menyampaikan semua yg ia simak tadi dan sedikit menambahkan pendapatnya.
rapat yg harusnya di mulai dari jam sembilan pagi itu akhirnya mundur menjadi jam sembilan lebih tiga puluh menit dan berakhir saat jam makan siang tiba.
__ADS_1
"seperti nya, ini sudah waktunya makan siang, rapat kita tunda terlebih dahulu, bagi yg ingin makan siang terlebih dahulu, saya persilahkan.. saya permisi ke ruangan saya dulu.."
setelah menutup rapat yg nanti akan di lanjutkan, Ian pun dengan segera berjalan menuju ruangannya karena Ian tau, Ara pasti akan datang dan membawakannya makan siang. dan benar saja, saat Ian membukakan pintu dan masuk kedalam ruangannya, Ara sudah ada di ruangan tersebut, duduk di sofa sambil mengotak-atik ponsel nya menunggu kedatangan sang suami dengan makanan yg sudah tersaji di meja yg ada di hadapannya.
saat pintu terbuka dan Ian masuk, Ara pun langsung menengok ke arah pintu dan tersenyum saat melihat seseorang yg di tunggunya sudah tiba.
Ian pun duduk di samping Ara. Ara yg tau Ian kelelahan kemudian mengambilkan air minum untuk sang suami, Ian merasa terharu dengan perlakuan Ara terhadapnya, kemudian Ian menaruh gelasnya dan memeluk Ara.
"terimakasih.."
Ara hanya tersenyum dan membalas pelukan ian, tidak lama kemudian mereka pun melepaskan pelukan mereka dan mulai makan siang bersama.
saat makan, Ian pun menceritakan kejadian yg tadi pagi ia alami kepada Ara, Ara pun mendengarkannya dengan baik dan beberapa kali merespon dengan pertanyaan atau anggukan.
Ara merasa bangga pada Ian, karena Ian mau mempertanggung jawabkan kesalahannya terlebih dahulu dan memilih menunda rapat nya.
"lain kali, kita kesana ya sayang, untuk menjenguk Bu asri dan membeli beberapa bunganya.."
ujar ara, Ian kemudian tersenyum dan mengangguk.
*
*
*
*
*
*
*
..ada yg bilang bahwa laki-laki yg di pegang adalah perkataannya, mungkin itu adalah suatu perkataan yg bisa di bilang benar, karena menurut ku dalam perkataan laki-laki tersebut ada janji yg tak terasa sudah terucap olehnya..
__ADS_1