Mutiara Yang Hilang

Mutiara Yang Hilang
#48 terimakasih


__ADS_3

sore hari menjelang magrib, Ian pun tiba di kediaman Dewi.


Ian pun memencet bel rumah beberapa kali dan akhirnya pintu pun terbuka.


ibunya Dewi mempersilahkan Ian untuk masuk. sambil menunggu Ara, Ian duduk di ruang tamu sambil sedikit berbincang dengan ibunya dewi.


Ara dan Dewi pun keluar kamar dan turun ke bawah menemui ian.


"udah sampe ternyata.."


ujar Ara kemudian duduk di samping Ian dan mencium punggung tangannya.


"teruuus, teruuus, terus aja kalian romantis-romantisan di depan gue.."


ledek Dewi pada kedua sahabatnya itu.


"makanya Lo cepetan minta di halalin sana.."


jawab ara tak kalah meledek.


tanpa menunggu lama karena tidak ingin ada perdebatan yg panjang antara Ara dan Dewi, Ian pun memutuskan untuk berpamitan kepada ibunya Dewi.


ibunya Dewi seakan mengerti dan ia pun hanya tersenyum.


sesampainya di depan teras rumah Dewi.


"kami pamit ya bu, assalamualaikum.."


"iya, waalaikumsalam, hati-hati di jalan.."


Ara dan ian pun pulang.


di sepanjang perjalan, Ara menceritakan semua yg ia dengar hari ini pada suaminya itu, Ian hanya mendengarkan dan sesekali berkata, "heehm, oh, ya, terus" karena Ian juga harus fokus pada jalanan.


cerita Ara berakhir saat mereka berdua telah tiba di rumah mereka.


"terus, Dewi mau Dateng ?"


"katanya sih iya, cuman nggak tau juga.."


tanya jawab antara Ara dan ian tentang cerita Dewi pun berakhir saat keduanya harus bersih-bersih dan bersiap untuk sholat berjamaah.


sedari tadi siang, saat makanan yg di kirim Dewi untuk Jo sudah ada di hadapan Jo, Jo langsung membukanya dan memakannya, setelah selesai makan, Jo pun menghubungi Dewi untuk mengucapkan terimakasih.


saat sambungan telepon terhubung Jo merasa heran karena Dewi tidak menjawabnya tetapi malah menolak panggilannya. tak lama kemudian Dewi memberi pesan pada Jo kalau di rumah nya sekarang sedang ada Ara. akhirnya Jo pun mengerti dan mereka berdua pun saling berbalas pesan.


karena tuntutan pekerjaan, Jo harus menahan dirinya untuk tidak selalu berkomunikasi dengan Dewi saat sedang bekerja.


hari ini Jo berniat untuk datang ke rumah Dewi setelah magrib. Jo ingin mengajak Dewi untuk hanya sekedar berjalan-jalan di taman kota.


Jo pun tiba di rumah Dewi, dewi yg memang sudah menunggu di teras sedari tadi pun tersenyum saat mobil Jo masuk ke halaman rumahnya.

__ADS_1


Jo pun turun dari mobil, mendekati dewi dan Jo merasa terpana dengan penampilan dewi malam ini.


"kenapa ?"


"cantik.."


"apaan sih.."


"oh ya, ibu mana ?"


"ada, aku panggilan dulu ya.."


tak lama setelah Dewi masuk, dewi pun keluar lagi bersama ibunya.


"Bu, saya ijin bawa dewi buat jalan-jalan sebentar.."


"iya, silahkan, hati-hati di jalan ya.."


Jo dan dewi pun mencium punggung tangan ibunya Dewi, kemudian mereka masuk ke dalam mobil lalu pergi menuju tempat yg sudah mereka tentukan.


di sepanjang jalan tidak ada percakapan yg berat, hanya ada obrolan ringan dan senyuman-senyuman kebahagian diantara mereka berdua.


sesampainya mereka di tempat yg mereka tuju, yakni taman kota, mereka pun masuk dan berkeliling sambil berpegangan tangan (ala orang-orang yang sedang berpacaran pada umunya).


saat melihat ada bangku yg kosong, mereka pun memilih untuk duduk di bangku tersebut.


mereka duduk saling berdampingan, dengan pemandangan taman kota yg penuh dengan cahaya lampu taman yg indah membuat kesan romantis semakin terasa.


saat mereka sedang berbincang santai, Jo pun menanyakan hal yg ingin ia ketahui dari Dewi.


"kamu mau Dateng ke undangan itu ?"


Dewi yg mendengar pertanyaan mendadak dari Jo itu pun langsung menatap Jo dengan tatapan yg susah di artikan.


"kaya nya nggak deh.."


jawab Dewi sambil memalingkan pandangannya ke arah lain.


"kenapa ?"


"nggak kenapa-kenapa.."


"ya udah kita datang aja.."


"kita ?"


"iya.."


"kenapa kamu mau kita datang.."


"karena aku mau tunjukin sama mantan kamu, kalau kamu bisa dapetin laki-laki yg lebih baik dari pada dia.."

__ADS_1


setelah mendengar jawaban dari Jo Dewi tidak bisa berkata apapun. dengan refleks nya Dewi langsung memeluk Jo dengan mata yg sudah berkaca-kaca menahan air mata.


Jo yg tiba-tiba di pelukpun hanya bisa menerima pelukan Dewi dan membelai rambutnya.


"terimakasih.."


ujar Dewi masih dalam pelukan Jo.


Dewi melepaskan pelukannya, kemudian duduk seperti semula namun dengan kepala yg bersandar di pundak Jo dan tangan Jo yg merangkul pundak Dewi. mereka berdua menikmati malam ini dengan penuh rasa kasih sayang.


setelah merasa puas dengan waktu yg telah mereka habiskan berdua, mereka pun memutuskan untuk pulang.


sepanjang perjalan di dalam mobil, Jo terus menggenggam tangan Dewi meskipun tangan yg satu nya harus tetap mengemudi.


sampailah di rumah Dewi. Jo pun ikut turun dan mengantarkan Dewi sampai teras rumahnya.


"panggil ibu sana, aku mau pamit.."


Dewi pun masuk dan memanggil ibunya.


"Bu, Jo pamit ya, maaf kalo Jo nganterin Dewi agak kemalaman.."


"tidak apa-apa, yg penting kalian selamat.."


Jo pun mencium tangan ibunya Dewi kemudian berpamitan dan pulang.


dewi merasa beruntung karena sekarang dia memiliki Jo, yg selalu ada untuk nya, yg selalu mengerti keadaannya, yg selalu bisa di andalkan kapan pun dan dimana pun juga dalam keadaan apapun.


entah apa yg akan terjadi pada Dewi jika dia tidak di pertemukan dengan Jo, mungkin saja dia akan memendam segalanya sendirian, meskipun dewi memiliki ibu dan sahabat yg mengerti tentang keadaannya tapi tetap saja dia juga membutuhkan seseorang yg tepat untuk di ajak berdiskusi.


*


*


*


*


*


*


*


saat kau sendiri, sejujurnya tuhan selalu ada bersama mu.


saat kau merasa tidak ada seorangpun yg ingin mendengarkan keluh kesah mu, sejujurnya tuhan selalu mendengarkan setiap keluh kesah setiap hambanya.


saat kau merasa terpuruk dan merasa hancur, sejujurnya tuhan sedang menguji mu, untuk bisa menjadi seseorang yg lebih kuat lagi.


mungkin lebih mudah berperang dengan orang lain meskipun nyawa taruhannya, tapi berperang dengan diri sendiri adalah perang yg sesungguhnya, bagaimana kita bisa mengontrol/mengendalikan diri sendiri, berdamai dengan hati dan pikiran adalah hal yg sulit untuk dijalankan.

__ADS_1


__ADS_2