Mutiara Yang Hilang

Mutiara Yang Hilang
#44


__ADS_3

saat di perjalanan hendak mengantarkan Dewi pulang, tiba-tiba Dewi meminta Jo untuk memberhentikan terlebih dahulu mobilnya di pinggir jalan.


"kenapa ?"


tanya Jo.


"aku mau beli minuman dulu.."


jawab Dewi hendak membuka pintu mobil.


"siapa yg nyuruh kamu keluar..??"


tanya Jo dan menarik kembali pintu mobilnya.


"ya terus, siapa yg mau beli.."


"pak tolong belikan minuman yg disana ya, ini uangnya.."


ujar Jo pada supir nya.


sang supir pun keluar dari mobil dan membelikan pesanan yg di minta tuannya.


tidak lama kemudian sang supir pun kembali dengan minuman di tangannya.


mereka pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah Dewi.


sesampainya di rumah Dewi, Jo pun ikut turun.


Dewi membuka pintu rumahnya tanpa menekan bel terlebih dahulu, ibunya dewi yg sedang berada di ruang tengah pun terkejut saat melihat anaknya datang tanpa memberitahukan kepulangannya terlebih dahulu.


"assalamualaikum,..."


ujar Dewi saat masuk kedalam rumah.


"waalaikumsalam, sayang, ko nggak bilang-bilang mamah sih kamu pulang sekarang.."


jawab ibunya dewi dan menghampiri anaknya itu dan melihat Jo yg sedang membawakan koper milik Dewi di belakangnya.


"nak Jo.."


"bu..."


jawab Jo sambil mencium punggung tangan ibunya dewi.


"kalian baru Dateng, pasti dari tadi belum sarapan ya.."


"beluuum, Dewi laper maaaah.."


jawab Dewi manja.


"ya udah ayo, makan dulu.. ayo nak Jo, kita makan.."


"iya Bu.."


jawab Jo tanpa ragu lagi.


mereka pun pergi ke meja makan, makan bersama meskipun pada dasarnya ibunya Dewi hanya menemani saja dan tidak ikut makan.


di meja makan Dewi bercerita tentang liburannya disana, terkadang mereka tertawa bersama dan menunjukkan beberapa foto yg mereka ambil.


saat Ara dan ian tiba di rumahnya, mereka langsung masuk saja karena orangtua Ara masih berada di Jepang.


mereka membawa koper mereka masuk dan membereskan barang-barang mereka.

__ADS_1


memilih pakaian kotor dan memasukkannya kedalam keranjang pakaian kotor.


ara mengeluarkan semua oleh"nya dan membuatnya berserakan di atas karpet lantai kamarnya kemudian memasukkan oleh-oleh yg mereka bawa kedalam tas kertas yg sudah di siapkan sebelumnya, walaupun merasa sedikit lelah, Ara tetap semangat untuk membagi-bagikan oleh-olehnya.


Ian yg melihat Ara sangat antusias pun ikut membantu membereskan dan mengepak barang-barang yang lainnya.


karena banyak nya oleh-oleh yg mereka bawa, membuat Ara sedikit kelelahan dan mengantuk. tanpa sadar Ara pun tertidur di pinggiran kasurnya.


ian yg baru masuk lagi kedalam kamar nya setelah sebelumnya keluar untuk mengambil air minum, melihat istrinya tertidur langsung mengangkatnya dan memindahkannya ke atas tempat tidur dan menyelimutinya.


akhirnya ian menyelesaikan pekerjaan Ara yg belum selesai tadi.


setelah merasa cukup lama berada di rumah Dewi, Jo pun akhirnya berpamitan untuk pulang.


"sepertinya Jo sudah harus pulang Bu, udah siang juga. Dewi juga harus istirahat.."


"ya sudah, hati-hati di jalan ya, dan terimakasih telah menjaga dan mengantarkan Dewi pulang dengan sehat dan selamat.."


"itu sudah kewajiban saya Bu, kan saya sudah berjanji pada ibu sebelumnya.."


jawab Jo tersenyum kemudian mencium punggung tangan ibunya Dewi dan berpamitan pulang.


"hati-hati di jalan ka.."


ujar Dewi tersenyum. Jo pun membalas senyumannya dengan senyuman yg tak kalah manisnya.


setelah Jo pulang, dewi pun masuk ke kamarnya dengan niatan ingin beristirahat, namun dia ingat, dia harus mengepak oleh-oleh yg dia beli untuk dia bagikan kepada kerabat dan teman-teman nya yg ada di kantor.


Dewi pun dengan sedikit memaksakan dirinya mulai mengemas oleh-oleh nya.


ibu Dewi pun masuk ke dalam kamar Dewi karena merasa penasaran akan satu hal yg janggal yg ibunya lihat tadi saat menemani Dewi dan Jo makan.


"lagi apa sayang ?"


"eh mah, Dewi lagi beresin oleh-oleh mah.."


"mamah bantu boleh..?"


"makasih mah.."


jawab Dewi sambil tersenyum.


saat sedang membantu Dewi mengemas oleh-oleh nya, ibunya pun mulai menanyakan sesuatu yg membuatnya penasaran sejak tadi.


"gimana nak Jo..?"


"maksud mamah ?"


"kamu udah buat komitmen sama nak Jo ?"


Dewi yg mendengar ucapan ibunya langsung menatap ibunya dengan tatapan yg susah di artikan.


"kenapa mamah bilang begitu ?"


"mamah tau sayang, mamah bisa ngerasain perbedaan kalian dari pas kalian akan berangkat dan kalian pulang, mamah bisa rasain bedanya sayang.."


Dewi pun merasa malu dengan kata-kata ibunya.


"sayang, mamah nggak akan ngelarang kamu buat komitmen sama seseorang, tapi mamah mau kamu bisa jaga komitmen kamu dengan sungguh-sungguh.."


"makasih ya mah.."


ujar Dewi kemudian memeluk ibunya.

__ADS_1


mereka pun meneruskan kegiatan mereka mengemasi oleh-oleh.


Dewi merasa beruntung memiliki ibu yg sangat pengertian dan bisa memahami perasaan anaknya.


Dewi tidak pernah menyimpan sedikit rahasia pun dari ibunya karena memang sedari dulu dia di ajarkan untuk terbuka pada orangtua tentang apapun masalah atau perasaan yg dia rasakan.


Ara yg sudah terbangun dari tidur nya, kemudian melihat ke arah meja yg ada di samping tempat tidurnya penuh dengan tas kado yg tadi dia belum selesaikan.


"apa Ian yg nyelesain semuanya ?"


gumam Ara dalam hati. kemudian Ian muncul dari pintu kamar mandi.


"baru bangun.."


"mm, kamu yg beresin semua ini..?"


"menurut kamu ?"


tanya ian balik, Ara pun bangun dari tempat tidurnya dan memeluk ian.


"terimakasih.."


"sama-sama.."


jawab Ian sambil mengelus rambut Ara.


Ara pun kemudian melihat isi tas kado tersebut dan memberikan nama pada masing-masing tas tersebut.


setelah selesai, Ara pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


saat siang hari, Ian dan Ara memilih untuk memesan makanan lewat pesan antar, karena mereka masih merasa lelah jika harus berkendara untuk mencari makan.


sedangkan Jo yg sudah tiba di rumahnya sejak dari tadi, memberikan koper yg berisi oleh-oleh yg dia beli untuk para pekerjanya yg ada di rumah agar mereka bisa memilih sendiri barang mana yg mereka sukai.


dan ia memilih untuk beristirahat di kamarnya tanpa harus memikirkan harus membagikannya sendiri.


Jo yg merasa sedikit lelah pun memilih untuk langsung mengistirahatkan badannya di atas kasur empuk miliknya.


banyak kenangan yg terlintas di pikiran Jo saat sedang terbaring melihat langit-langit kamarnya.


sesekali ia tersenyum saat mengingatnya.


ia juga melihat foto-foto yg ada di ponselnya, saat ada foto dirinya dan Dewi, tanpa pikir panjang, Jo langsung menjadikannya wallpaper layar ponselnya.


sampai pada akhirnya Jo terlelap dengan ponsel yg masih ada di tangannya.


*


*


*


*


*


*


*


berbohonglah jika memang itu untuk sebuah kebaikan.


namun jangan pernah kau sengaja berbohong, karena hanya dengan 1 kebohongan akan memunculkan kebohongan yg lainnya..

__ADS_1


__ADS_2