Mutiara Yang Hilang

Mutiara Yang Hilang
#30


__ADS_3

hari keberangkatan Ara dan ian pun tiba.


pagi-pagi sekali Ara dan ian sudah bersiap dengan segala perlengkapan yg akan mereka bawa.


sesuai rencana, Ara dan ian akan berlibur selama 1 Minggu disana.


pagi ini Jo dan Dewi meluangkan sedikit waktu mereka untuk mengantarkan Ara dan ian ke bandara terlebih dahulu sebelum mereka berangkat ke kantor.


j : "udah ?"


d : "udah ka.."


dewi pun masuk ke dalam mobil Jo.


***flashback malam


j* : "besok Ara dan Ian berangkat, kamu mau ikut nganterin mereka ke bandara nggak* ?"


d : "emg nya boleh ya ka ?"


j : "kan aku bos nya, mau aku telat sedikit atau lama pun siapa yg berani marah ?"


d : "iya deh iya pak bos.."


balas Dewi penuh penekanan dalam kata "pak bos".


j : "ya udah, besok aku jemput kamu.."


d : "emang nya mereka berangkat jam berapa ?"


j : "aku jadi ragu sama persahabatan kamu sama Ara, masa temen sendiri nggak ngasih tau.."


tanpa Jo tau, saat ini pun Dewi sedang berkirim pesan dengan Ara. bukannya Dewi tidak tau, hanya saja Dewi sedang pura-pura tidak tau, bagaimana reaksi Jo jika Dewi mencoba menggodanya dengan candaannya.


d : "jam berapa ya ka ? ko aku nggak tau sih.."


j : "beneran kamu nggak tau ? apa jangan-jangan kamu lagi ada masalah ya sama Ara ?"


Jo mulai panik, karena tadi ya dia akan meminta bantuan Ara untuk bisa lebih tau dan lebih dekat dengan Dewi.


akhirnya Jo pun memutuskan untuk menelpon dewi.


telpon tersambung...


ka Jo ngapain telpon ya ???


belum sempat Dewi menyapa sekedar halo saja, Jo sudah menanyakan hal yg sedang mereka bahas..


j : "beneran kamu nggak tau mereka berangkat jam berapa ?"


Dewi pun tersenyum mendengar perkataan Jo barusan, ingin rasanya Dewi tertawa, hanya saja dia tahan, karena dia ingin lebih mengerjai Jo.


d : "aku nggak bakalan nanyain ke kakak kalo aku tau.."


j : "wah parah, persahabatan macam apa kalian ini.."


Dewi yg sudah tidak tahan ingin tertawa pun akhirnya tertawa lepas. Jo yg mendengar Dewi tertawa merasa ada yg aneh.


j : "kenapa kamu ketawa ?"


Dewi mencoba menetralkan dirinya agar tidak tertawa lagi.


d : "kakak ini gimana sih, ya kali Ara nggak ngasih tau aku, ini juga aku lagi chatingan sama Ara dan lagi kalo nggak salah sih mereka berangkat jam 8 pagi, iya kan.."


j : "nah itu kamu tau.. dasar !!"


d : "apaan sih kaaaa.."


mereka pun melanjutkan obrolan mereka sampai salah satu dari mereka mulai lelah dan ingin beristirahat.


(masa iya Jo, ya Dewi lah.)


kembali ke cerita awal..


sekarang Dewi dan Jo sudah ada di teras rumah Ara.

__ADS_1


j : "udah pada siap ?"


tanya Jo pada Ara yg baru saja keluar dengan membawa minuman dan camilan untuk ke dua sahabat nya itu.


a : "udah ko, tinggal masukin aja ke bagasi.."


j : "Ian mana ?"


belum juga kering ucapan Jo, Ian sudah datang dengan menggeret 2 koper di belakangnya.


i : "apa Lo nanya-nanyain gue ? kangen Lo ?"


ujar ian meledek Jo..


j : "gue ? kangen sama Lo ? emang nya Lo siapa ? penting banget gue kangenin Lo ?"


jawab Jo tak mau kalah.


i : "bilang aja kalo kangen.."


goda ian sambil berlalu dan mendekati mobil Jo.


j : "ngapain Lo deket-deket mobil gue ?"


i : "Lo nggak liat apa, gue bawa koper gede-gede gini, trus menurut Lo gue mau bawa ni koper di pundak gue, gitu ? cepet buka bagasi nya.."


j : "buka aja sendiri.."


i : "wah, ngajakin olahraga (ribut) pagi ini mah"


Dewi dan Ara yg melihat nya pun hanya bisa tersenyum.


a : "bukain aja lah ka Jo, kasihan ian.."


pinta Ara.


j : "buka aja sendiri.."


ketus Jo.


d : "bukain dong ka Jo, kasian ian, bentar lagi kan mereka berangkat, ntar kalo telat gimana ?"


i : "giliran Dewi aja yg minta, cepet Lo.."


j : "berisik Lo.."


akhirnya mereka pun berangkat ke bandara.


selama perjalanan mereka pun terus saja berbicara.


i : "kalian jadi kan nyusul kita nanti..?"


j : "ya jadi lah, ya kali nggak.."


a : "awas ya kalo kalian sampe nggak jadi nyusulin kita.."


d : "iya pengantin baruuuuu.."


a : "apaan sih dew, lo mau jadi pengantin juga ? ngiri Lo ? cepetan nikah gih.."


ledek ara.


d : "apaan sih Ra, cowo aja gue belom punya, nyuruh nikah-nikah aja.."


i : "trus yg di pinggir Lo, yg lagi nyetir, Lo anggep apa ? angin ?"


Dewi pun melirikkan matanya ke arah Jo yg sedang menyetir.


d : "papan sih yan, mana mungkin ka Jo suka sama gue.."


a : "lah, kenapa nggak ? iya nggak ka Jo ?"


tanya ara, Jo yg mendengarnya pun hanya bisa tersenyum kecut penuh arti sambil melihat Ara lewat kaca spion.


"tuh kan, gue bilang juga apa, pasti ada apa-apa sama ka Jo ke Dewi, Dewi juga, kayanya udah mulai suka sama ka Jo.."

__ADS_1


gumam Ara dalam hati.


mereka pun sudah sampai di bandara, sesuai jadwal Ara dan ian akan berangkat pukul 08.20 dan itu tinggal 20 menit dari sekarang, oleh sebab itu Ara dan ian harus segera masuk ke ke pesawat.


a : "gue sama ian berangkat ya.."


pamit Ara pada Dewi sambil memeluknya.


d : "iya, hati-hati ya.."


balas Dewi memeluk Ara.


a : "kita berangkat duluan ya ka.."


j : "iya, hati-hati.."


i : "Lo tenang aja, ada gue ini suaminya.."


jawab Ian cepat sambil merangkul pundak Ara.


j : "iya deh terserah Lo.."


a : "sayang..."


j : "udah-udah, cepetan berangkat sana, jangan ngumbar-ngumbar kemesraan di depan gue.."


kesal Jo akan tingkah Ian pada Ara.


i : "sirik ya Lo ?? makanya Lo cepetan nikahin Dewi.."


j : "ya kalo Dewi nya mau mah ya ayo.."


ceplos Jo dan sesaat kemudian baru sadar dengan apa yg di katakannya, kemudian melihat ke arah Dewi yg saat ini sedang tertegun mendengar perkataan yg Jo ucapkan barusan.


Jo pun tersenyum ke arah Dewi, kemudian melihat ke arah ian, dengan tatapan yg penuh dengan ke gregetan.


"bodoooh, kenapa sih harus keceplosan segala.. gara-gara si Ian nih, gue kan jadi salting sama Dewi.."


batin Jo.


"sialan Lo.."


ujar ian hanya dengan gerakan mulutnya ke arah ian tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Ian pun hanya tersenyum meledek ke arah Jo.


j : "cepetan sana berangkat Lo.."


usir Jo pada Ian.


i : "santai broo, kita juga udah mau berangkat ini.. Lo jangan kangen sama kita ya.."


ledek ian pada Jo.


Jo pun hanya membalas dengan gerakan seperti orang yg sedang membuang ludah.


Ian yg melihat pun hanya tertawa kecil.


akhir nya Ian dan Ara pun berangkat, begitu juga dengan Dewi dan Jo yg melanjutkan perjalanan mereka ke kantor.


*


*


*


*


*


*


*


"kenapa harus gerah, saat kita merasa gairah.

__ADS_1


kenapa harus marah, ketika kita tidak merasa salah.


kenapa harus merana, kalau pipi kita masih bisa merona.."


__ADS_2